Hati-Hati dalam Berprasangka, Hati-Hati jika Nantinya Berujung Cinta :p

Prasangka Sebelumnya …

IMG_5421

Gamcheon Culture Village

Aku memang bukan pecinta Kpop, suka beberapa drama Korea tapi jarang hapal pemain atau judul-judulnya kecuali Full House dan Boys Before Flower :’). Keinginan untuk ke Korea memang didasari keinginan untuk traveling ke tempat yang jauh dan yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Hal tesebut kemudian di dukung oleh tiket mureee ke Korea. Aku dan Una bener-bener random langsung beli hari itu juga wkwk

Aku juga tidak pernah berekspektasi bisa melihat keramahan orang-orang di sana. Aku sudah kenyang liat anak BIPA UI! Wkwk pikirku saat itu. (apa itu BIPA? cek di sini) Yap, aku sebenernya punya trauma tersendiri terhadap orang Korea :p Dulu aku dan teman-teman sekelompok salah satu mata kuliah penelitian di UI mengambil topik mengenai BIPA yang sebenarnya didominasi oleh mahasiswa dari Korea Selatan. Awalnya seneng. Wah lumayan akhirnya penelitian ini bisa jadi cara buat lebih kenal mereka. Tapi saat aku melakukan penelitian ke lapangan, hmm beberapa kali kami mendapatkan penolakan dan perlakuan yang tidak mengenakkan dari beberapa orang. Syumpaaah. Beberapa ada yang rese’ banget, ada juga yang jutek, atau pura-pura gak ngeliat dan ngedenger kita wkwkw. Bahkan ada nih yang aku wawancarain, hmm emang sih mukanya rada cakep. Cakep banget malah, kayak Lee Min Ho, tapi ternyata juteknya sama banget kayak karakter Gu Jun Pyo yang harus diperankan Lee Min Ho di drama BBF 😦 Aku waktu itu nanya untuk penelitian, “Pengen gak kenalan dan kemudian menjalin hubungan pertemanan dengan orang Indonesia?” Aku yang saat itu masih terkagum-kagum sama wajahnya langsung mau muntah denger jawabannya wkwk. Dia ngejawab kayak gak ada dosa, “Menurutku gak penting sih, toh aku juga nantinya akan kembali ke Korea dan bekerja di sana sehingga aku lebih memilih berteman dengan sesama orang Korea. Jadi gak akan ada gunanya jika aku menjalin pertemanan di sini.” What! Lahhh, terus lu ngapain belajar bahasa Indonesia di sini? Kocak. Dia kok jujur banget… pernah juga nih, baru aja kita mau ngasih kuesioner (saat itu kita megang banyak banget kuesioner) karena udah gak sabaran,  eh tiba-tiba kuesioner kita diambil dengan kasar 😦 jadi kesannya kayak “Duh, lu buruan kek!”

Rata-rata mahasiswa Korea yang belajar di BIPA juga kalau jalan selalu bergerombol. Bener-bener kayak ngebuat benteng dengan orang lokal. Beberapa kali kami juga akhirnya jadi malu-malu saat akan mendekati mereka untuk memberikan kuesioner saat melihat jumlah mereka jauh lebih besar dari kami (duh, emangnya mau berantem, ul?) pokoknya mereka grouping parah deh, sibuk sama dunia mereka sendiri wkwk. Dan ternyata tau dari Jieun, katanya kalau rata-rata orang Korea emang gitu.

Nah ini timpang banget pas kita mau wawancara mahasiswa BIPA dari Jepang. Mahasiswa Jepang rata-rata kalau jalan ya sendiri-sendiri jadi enak buat kami keroyokin untuk ngisi kuesioner hha.  Mahasiswa Jepang rata-rata pada adem-adem banget. Mereka kalau kita tegor ngebungkukin badan mulu wkwk. Bahkan beberapa dari mereka masih berhubungan baik dengan kami sampai saat ini meskipun udah di negaranya masing-masing. Mereka juga bahasa Indonesia nya rata-rata udah bagus. Terus kalau ngomong lembut dan pelan-pelan banget hha. Nah, mungkin karena kami ngeliat perbedaan yang timpang ini makanya kami jadi membanding-bandingkan kedua negara yang bertetangga tersebut. Daaan akhirnya penilaian mengenai orang Korea dan orang Jepang hanya sebatas dari mahasiswa BIPA ini. Jadi, semenjak saat itu aku gak begitu suka orang Korea nih. Yaudah kalau kenalan sekedar kenalan aja, gak pernah berharap akan bisa berteman dengan mereka. Ohya, tapi aku punya pengecualian untuk dua orang temanku yang juga dari Korea, dia menurutku memang berbeda dengan anak-anak BIPA, dia lebih suka berbaur dengan mahasiswa Indonesia. Tapi emang dasarnya dia program exchange sih jadi rada beda.

Setelah sampai di Korea …

Nah, pas di sana aku benar-benar gak ada expect mereka bakalan ramah. Hmm, di Indonesia aja kelakuan mereka udah begitu apalagi kalau aku yang cuma seupil ini ada di negara mereka. Pasti cuek parah sih atau bisa aja aku dijutekin. Menurutku mungkin mereka sama saja seperti orang yang aku wawancarai di UI waktu itu, yang gak akan mau berhubungan dengan kami karena tidak ada gunanya. Hahah! Pokoknya dulu aku prasangkanya udah buruk banget deh. Haha!

Tapi kenyataannya gak, aku bertubi-tubi mendapatkan perlakuan yang jaaaaauuuuuuuuuuuuh sangat baik dari apa yang aku prasangkakan selama ini. Mereka ternyata sangat ramah dan penolong. Beberapa kali kebingungan arah saat bertanya kepada mereka, mereka selalu menjawab dengan sopan dan mencoba membantu semaksimal mungkin. Bahkan beberapa kali saat mereka melihat kami bingung tanpa kami tanya pun mereka menghampiri kami dan menunjukkan arah jalan dengan bahasa Inggris mereka yang terbata-bata atau bahkan dengan bahasa Korea yang masih bisa dimengerti sedikit oleh Una dan Nisa. Kami saat itu hanya bisa mengucapkan Kamsahamnida berkali-kali.

Pernah juga saat kami baru sampai di Seoul Express Bus Terminal, kami kebingungan dengan jalur subway Seoul yang ribet banget akhirnya aku bertanya dengan seorang yang sepertinya masih seumuran dengan kami. Aku bertanya jalur berapa jika kami ingin ke Seonbawi? Dia saat itu dengan ramah menjelaskan ke mana kami harus pergi. Selesai menjelaskan, akhirnya kami berpisah karena memang berbeda arah. Setelah jauh kami jalan sesuai dengan apa yang ia jelaskan, tiba-tiba dengan nafas terengah-engah ada seseorang yang menghampiri kami. Ternyata orang itu adalah orang yang tadi kami tanyai arah. Dia meminta maaf kepada kami karena telah menunjukkan arah yang salah. Sebelumnya dia mengatakan kami harus ke jalur 9, namun ia akhirnya baru tersadar saat telah jauh berpisah dengan kami sehingga ia kembali lagi dan mengejar kami demi memberitahu bahwa jalur yang benar adalah jalur 7 bukan jalur 9. Huuuu, kami terharu banget dia mau jauh-jauh mengejar kami dan memberitahukan jalur yang benar. Saat itu kedaan stasiun subway sangat ramai, semua orang terlihat terburu-buru karena memang sedang rush hour. Kami yakin ia juga sudah berjalan sangat jauh namun tetap mau bela-belain mengejar kami untuk meralat apa yang ia infokan sebelumnya. Padahal kalau dia cuek dia sebenernya bisa aja jalan terus. Hha

Oke, di hari pertama di Seoul saja kami udah ditolong. Pada hari-hari berikutnya banyak banget yang menolong kami, menyapa kami, tidak ada sombong sama sekali seperti apa yang aku prasangkakan selama ini. Aku berkali-kali mengalami eror pada T-Money ku yang menyebabkan aku tidak bisa keluar. Sempat kebingungan saat itu (di subway jarang banget ada satpam. Bahkan aku gak pernah liat, mungkin karena udah aman kali ya. Beda dengan di stasiun KRL di Jakarta) kemudian seorang ibu-ibu menunjukkan cara agar aku bisa keluar meskipun T-Money ku eror, tanpa harus membeli T-Money baru lagi! Hal ini tidak hanya terjadi 1 2 kali aja loh, sering juga ditolongin bapak-bapak saat T-Money ku eror lagi dan aku panik wkwk. Jadi kalau T-Money kalian juga eror, pencet aja tombol merah yang ada di pojokan, nanti pagar kecil (semacam pintu darurat) yang awalnya terkunci akan terbuka, sehingga kita bisa keluar tanpa tap card. Coba apa jadinya kalau ada pintu seperti itu di KRL Jakarta terus gak ada satpam yang jaga. Hmm! Pernah juga saat akan masuk ke apartemen Jieun, karena kami tidak memiliki key card buat buka pintu lobby, seseorang yang melihat kami sedang kebingungan di luar mengeluarkan key cardnya dan men-tap card tersebut sehingga kami bisa masuk ke lobby.

Aku juga pernah tiba-tiba disamperin ibu-ibu pas lagi duduk sendirian dan aku dikasih lucky clove :3 huaaa so sweet banget deh orang-orang Korea ini. Pernah juga seorang anak kecil menghampiri kami setelah dibisiki oleh ayahnya dan mengatakan “Welcome to Korea”. Huaaaaa, pengen banget nyubit pipi nya uwuuuw! Ohya selama di Korea kami seringkali di kira dari India. Lah India dari mananyee. Kayaknya mereka mikir kalau dari Asia selain China dan Arab ya India wkwk. Atau mungkin perkiraan yang sedikit dekat adalah mereka mengira kami dari Malaysia. Yaa, lumayan mirip lah. Pernah juga seorang ibu-ibu yang melihatku asing di dalam subway menanyakan dari mana aku berasal, saat aku jawab dari Indonesia dia bilang dia suka dengan keindahan pantai Indonesia. Terus bertanya tentang jilbabku, panas gak pake jilbab?, dan juga tentang Islam. Pada saat ia mau turun dia juga bilang bahasa inggris ku bagus. Lah bagus dari mane, amburegul bahreway bahrewey gini buk -_-

Nah pada puncaknya aku ditolong pas hari terakhir di Seoul. Saat itu aku lumayan keberatan ngangkat-ngangkat koper. Belum lagi kami harus terburu-buru menuju bandara. Turun dari bus dan saat akan menyambung subway, tiba-tiba koperku diangkatin oleh seorang bapak-bapak. Agak kaget juga, soalnya tuh bapak-bapak mendadak banget langsung ngangkatin koperku. Kya kyaaaa akhirnya aku gak perlu naik turun tangga nenteng-nenteng koper.

Ternyata apa yang aku sangkakan selama ini tidaklah benar. Mungkin ini tujuan Allah memberikanku kesempatan untuk bisa menjelajahi Korea Selatan, agar aku sadar bahwa di Korea masih banyak orang-orang baik. Tidak seperti apa yang aku prasangka kan selama ini. Seseorang di Backpacker Dunia pernah berkata bahwa sebenarnya di dunia ini dipenuhi oleh orang-orang baik, sedangkan orang-orang jahat hanya nyempil-nyempil diantaranya. Aku akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa saat kita diperlakukan tidak baik oleh suatu kaum belum tentu seluruh kaum tersebut tidak baik. Bisa saja yang memperlakukan kita dengan tidak baik tersebut hanyalah oknum-oknum yang sedang mencari perhatian :p. Thankyou Korea, ahh aku benar-benar jatuh cinta dengan kebaikan orang-orang Korea 😀

Ohya kebaikan orang-orang di atas belum termasuk dengan kebaikan dari Jieun dan keluarga nya yang mau menampung kami selama di Seoul. Aku tahu Jieun selama ini jika tidak ada kelas pagi pasti bangun siang. Namun, saat kami ada di sana ia selalu bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk kami :’) Saat kami pulang malam pun meskipun kami sudah makan kami masih diberikan cemilan-cemilan kecil. Ibu Jieun yang meskipun tak bisa berbahasa Indonesia dan Inggris selalu tersenyum pada kami. Bahkan membantu mencucikan baju kami 😦 uhhh, aku benar-benar tidak enak saat itu. Saat kami pulang jalan, tiba-tiba baju kotor kami yang ada di keranjang udah bersih dan wangi 😦 padahal selama di Indonesia aku merasa belum melakukan apa-apa untuk Jieun :’)

Ohya, di sana kami juga punya adik kelas di UI yang sedang student exchange di Korea. Dia juga baiknya minta ampun. Mau nemenin kita halan-halan ditengah kesibukan kuliah dan internship nya. Bahkan kami beberapa kali dibelikan Kimbab hha. Dasar, kakak kelas tak berguna! Seharusnya kami yang meneraktir dia yaaa sebagai anak kuliahan dan anak kosan. Wkwkw maafkan kakak-kakakmu yang kere ini ya >.<

Terima Kasih ya Allah, kau ciptakan kami semua bersaudara sesama manusia. Terima kasih telah menamkan rasa cinta dan kasih pada hati-hati kami 🙂

Hal ini kemudian yang menjadikanku semakin menyukai traveling ke tempat-tempat yang sama sekali asing bagiku. Ahhh, terima kasih Korea!

IMG_5664

Gwanghwamun Square

Happy Traveling!

Nur Aulia

Instagram : @nuraulia25

Twitter : @nurauliaaa

Facebook: Nur Aulia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s