Posted in Tak Berkategori

Ke Labuan Bajo, Backpacker atau Travel ?

Tanggal 17 May lalu aku dan 3 orang teman kampusku di FISIP UI memutuskan untuk pergi ke Labuan Bajo dan beberapa teman kami banyak yang bertanya-tanya mengenai budget untuk pergi ke sana. Backpacker atau Travel? Kalau travel pakai travel apa? Hehe daripada jawab satu-satu mending aku jabarkan aja ya di blog ini.

Nah kemarin kami bertiga menggunakan travel Bayu Buana untuk ke Labuan Bajo dan Waerebo jadi kami tinggal tunggu beresnya aja dari mulai transportasi, akomodasi, dan makan selama di sana.

DSCF5041.JPG

  1. Transportasi
  • Penerbangan : karena aku start dari Balikpapan jadi aku harus ambil penerbangan ke Jakarta dulu. Waktu itu aku pakai Lion Air karena itu adalah penerbangan yang paling pagi untuk ke Jakarta yaitu pukul 06:00 WITA. Sampai pukul 07:00 WIB, ambil bagasi dan pindah ke Terminal 3 Soetta untuk penerbangan selanjutnya ke Labuan Bajo. Nah, di sini kami mengambil penerbangan Garuda Indonesia karena itu yang satu-satunya direct ke Labuan Bajo tanpa transit dulu di Bali. Pesawat GA yang kami gunakan adalah GA Explore jadi kayak pesawat perintis versinya Garuda. Perjalanan CGK – LBJ kami tempuh selama kurang lebih 2,5 jam. Nah enaknya Garuda ya selama di pesawat smooth banget gak kerasa kalau itu adalah pesawat kecil. Kalau kata Nja sih “Ini pesawat rasa bus” Hhe. Untuk harga pesawat direct pastinya lebih mahal dibandingkan kalian mengambil pesawat transit. Kisaran tiket pesawat Garuda untuk CGK-LBJ di harga normal itu sekitar 3,5 – 4 jutaan PP. Tapi kalau lagi promo kalian bisa loh dapat setengah dari itu. Contohnya kalau Garuda lagi ngadain Garuda Travel Fair, di sana kalau kalian beruntung bisa dapet tiket ke LBJ seharga 900rb-an. Nah untuk yang transit penerbangan ke LBJ bisa pakai NAM Air atau Wings Air dengan harga yang pastinya lebih murah mungkin sekitar 1-1,5 juta oneway (hmm, mahal juga sih jatuhnya).
  • Transportasi lokal : Di Labuan Bajo setau saya jarang sekali ada angkutan umum apalagi kalau penginapan kalian agak jauh dari pusat kota. Maka takkan kalian lihat satupun angkot hilir mudik. Jadi, alternatif bisa naik ojek (tapi setahuku mahal), sewa motor, atau sewa mobil (nah ini usahakan sama supirnya ya soalnya kontur jalan di sana yang berkelok-kelok, berbukit dan satu arah). Apalagi kalau kalian mau ke Waerebo dari Labuan Bajo ke sana sangatlah jauh. Kami saat itu berangkat sekitar jam 8 pagi dan baru sampai di titik awal pendakian menuju Desa Waerebo itu sore sekitar jam 4-an. Dan jalannya luar biasa berkelok-kelok dan rusak di beberapa titik. Kata teman yang kami temui di Waerebo yang pergi tanpa travel ke sana untuk penyewaan mobil dan supirnya dari Labuan Bajo ke Waerebo seharga 1 juta rupiah exclude guide ya jadi di sana bayr guide lagi. MAHAL? tapi sungguh sungguh yang kalian dapatkan lebih-lebih dari itu.
  • Kapal : ini part yang penting banget kalau kalian emang mau explore keindahan Labuan Bajo seutuhnya (duileh). Untuk penyewaan kapal kalau kalian gak pke tour biasanya biayanya 1,5-2 jutaan untuk oneday trip tergantung jenis dan besar kapalnya. Itu sudah termasuk makan siang loh. Nah untuk yang pengen sailing on board (kayak nginep di atas kapal gitu) aku kurang tau ya. Keliatannya sih seru banget soalnya kapalnya kalau aku lihat kayak kapal-kapal pinisi gitu. Duh! Tapi buat kalian yang mabok laut sangat tidak disarankan. Ohya harga kapal ini bisa sharing ya jadi kalau kalian backpack bareng 5 orang temen 1,5 juta bisa di share tuh kan lumayan. Makin banyak yang sharing sama kalian makin murah  🙂

    DSCF5272
    Di Atas Kapal

2. Akomodasi

Untuk akomodasi selama di Labuan Bajo kami menginap di Luwansa Beach Hotel and Resort. Rate di sana semalam untuk kamar superior adalah 650 – 750 ribuan tapi kalau kalian cek di traveloka atau sejenisnya pasti deh dapetnya sekitar 1 jutaan hhi (nah inilah positifnya klo pesennya udh include travel). Hotel ini merupakan hotel bintang 4, kebanyakan orang-orang dari kementrian yang sedang rapat atau kerja pasti nginep di sana (duhhh enak bener yah). Saat kami menginap di sana kami bertemu dengan rombongan dari Kementrian Pariwisata. Bahkan saat bertemu kami mereka nanya, “Mba, dari kementrian mana?” (dalam hati aminin ajadeh hhe). Overall, Luwansa bagus banget di belakang resortnya itu pantai dan restaurantnya menghadap ke pantai. Di dalam kamar disediakan berbagai macam handuk (huh tau gitu gausah bawa handuk hha), perlengkapan mandi, kamar mandi yang lumayan luas duh nih. Ya menurutku hotel ini lumayan cocok buat yang mau honeymoon #eh. Tapi dari segi pelayanan hmm di front office rada buruk sih kayak mereka masih kurang di training gitu. Kalau ditanya-tanyain masih sering bingung. Bahkan saat aku tanya kamar temanku yang lain mereka salah ngasih nomor! Padahal aku sudah ketok-ketok kamar yang mereka infokan tapi gada jawaban dan pada akhirnya aku tau kalau temanku bukan di kamar itu rrrr. Dan beberapa mba-mba nya jutek banget entah emang karena dasarnya orang-orang flores gitu jadi kesannya galak tapi sama satpam dan bellboy mereka kok ramah-ramah aja tuh. Pokoknya pelayanannya ga mencerminkan bintang 4 banget deh 😩

Kalau mau cari yang murah di Labuan Bajo banyak guest house murah kok contohnya Le Pirate (duh ini super-super rekomended deh soalnya interiornya lucu banget) harganya mulai dari 450-800 ribu tergantung jenis kamar. Nah kalau teman yang kami temui di Waerebo selama di Bajo mereka nginap di Tree Top. Ratenya 510rban untuk yang view Pelabuhan. Aksesnya katanya gampang deket kemana-mana.

Nah, untuk di Waerebo kami menginap di homestay yang memang sudah disediakan di desa tersebut dan disitu kami akan tidur dengan traveler lainnya. Biasanya 1 rumah itu bisa menampung hingga 20an orang. Nah, di sana kami meskipun cuma sehari tapi langsung udah akrab banget sama traveler lainnya, saling bertukar cerita dan pengalaman mereka traveling ke tempat lain. Di sana juga kami bertemu dengan rombongan dari Kementrian Pendidikan yang mereka lagi liburan sekaligus survey untuk program mereka berikutnya (duh naq ngets yha kerja sambil liburan yang dibayarin). Nah untuk masuk desa ini kalian harus bayar itu sudah include guide, homestay dan makan biasanya tapi aku kurang tau sih bayar berapa karena udah include semua sama paketan tour. Tapi kalau nanti dapat info dari temen aku bakalan update lagi 🙂

DSCF5740.JPG
Salah satu dari 8 rumah itu adalah tempat kami tidur 🙂

3. Makan

Nah untuk makan sudah aku bahas ya di atas kalau beberapa udah termasuk sama paketan gitu seperti saat di kapal, di Waerebo, dan di hotel (ini biasanya cover sarapan doang). Nah, klo kami itu udah termasuk di paketan Bayu Buana. Semuanya di cover kecuali di hari pertama kedatangan. Nah, untuk di hari pertama kami makan di rumah makan Bali gitu tapi menyediakan menu macam-macam. View di restaurant ini huaaa bagus banget! jadi ngadep langsung ke dermaga gitu jadi kita akan disajikan jejran kapal dan bukit-bukit di tengah lautan gitu. Untuk harga lumayan mahal sih emang, untuk makanan berat rata-rata 50 ribuan. Nah kalau malam selama di Bajo kami makan Seafood di Kampung Ujung. Di sana bejejer berbagai macam seafood seperti Kerapu, Cumi, Kakap Merah, Udang, Kepiting yang bisa kita pilih sendiri dan bisa request mau diolah seperti apa. Pokoknya disini bikin ngiler banget deh!

DSCF5048
View dari Restaurant makanan Bali

Bagi yang tanya, makanan khas Labuan Bajo apa? Di sini gak ada makanan khasnya jadi rata-rata makanannya sama aja seperti yang di luar sana. Tapi pemandangan di sana dijamin bikin kamu yang makan nasi sama garem doang pasti langsung kerasa enak!!

Dan hati-hati bagi kalian yang kesini, pasti gak mau pulang dan bapernya berhari-hari wkwkw

DSCF5371
No filter needed! Berasa kayak di zaman Purba :’)

Jadi kesimpulannya ke Labuan Bajo enaknya backpacker atau travel? Itu tergantung kalian masing 🙂 Kalau kalian punya waktu banyak backpacker di sarankan karena pasti kalian bisa explore lebih banyak lagi dengan budget yang minim. Sumpah di sana banyak banget tempat yang bagus! dan menurutku kalau kalian backpacker pasti punya banyak waktu dan kesempatan untuk mengenal dan berinteraksi dengan warga lokal. Orang-orang Bajo dan Flores ramah-ramah loh meskipun suara mereka rada keras hhi. Cuma ya di sini minim-minim nya kamu se-backpacker backpackernya kamu pasti tetap harus keluar duit lebih sih terutama di transportasi kalau makan dan akomodasi kan masih bisa diakalin cari yang murah.

Nah, buat yang punya waktu sempit sangat direkomendasikan pakai paketan travel biar ga ribet meskipun mahal. Tapi sekarang banyak loh paketan tour di luar sana yang menawarkan harga murah yang kalau di itung-itung sama aja kayak backpacker-an bahkan ada paketan yang udah include fotografer duh ini penting banget sih mengingat Labuan Bajo dan Waerebo wajib banget untuk diabadikan :’) Bahkan bidikan kamera pun ga cukup (duh kan aku baper lagi pen balik kesana).

Alternatif lain bagi kalian punya jiwa sosial tinggi bisa ikutan kegiatan volunteer yang diadakan di sana, meskipun biasanya tetap bayar tapi seenggaknya kalian bisa menikmati Labuan bajo dengan harga yang jauh lebih murah tanpa harus nunggu2 ngumpulin teman. Salah satunya adalah kegiatan 1000 Guru yang akan diadakan 28-30 Juli nanti.

DSCF5157
Bukit Cinta. Sunsetnya luar biasa banget di sini!

Selamat menikmati keindahan Labuan Bajo! Aku doain ya semoga kalian juga segera punya kesempatan untuk ke sana 🙂

 

Catatan :

 

 

Posted in Tak Berkategori

Myeongdong dan Cerita Pat Bing Soo Termahal

Setelah dari Gwangjang Market kami akhirnya memutuskan untuk lanjut ke Myeongdong. Biasa cewe pengen hunting-hunting skincare hha (tapi sayangnya saat itu aku belum terlalu ngeh kalau emang skincare Korea bagus, jadi yang saat itu super excited buat belanja adalah Nisa dan Una). Ohya, mau jelasin singkat jadi Myeongdong ini tempat perbelanjaan yang lumayan besar di Korea. Di sana berjejer outlet-outlet skincare Korea dari mulai yang sangat familiar di telinga kita di Indonesia sampai yang gak pernah denger sama sekali. Kalau kalian lewat-lewat pasti banyak deh dikasih-kasih sample sama SPG yang berdiri di depan toko.  Selain jejeran outlet merk skincare di sana juga dipenuhi dengan penjaja jajanan khas Korea yang menggugah selera. Banyak juga pedagang kaos kaki lucu-lucu (beneran gemas!)

774019_image2_1

Bagi kalian yang bingung ingin menukar uang kalian ke Won di Myeongdong banyak juga berjejer money changer yang menurutku ratenya lebih bagus dibandingkan tempat lainnya.

Ohya, waktu di Myeongdong kita pengen banget makan Pat Bing Soo. Kata Una di dekat Myeongdong ada yang enak (lupa waktu itu Una nyebut namanya apa). Tapi karena sudah lelah keliling-keliling Myeongdong gak nemu-nemu juga tempat yang Una maksud akhirnya kami nyerah dan tiba-tiba liat mas-mas di depan cafe gitu kayak nawarin menu (gak keliatan harganya) tapi kita liat ada kayak standing banner yang terpampang di situ yang ngasih liat range harga makanannya sekitar 5000 Won-an. Hmm, lumayan murah nih pikir kami. Akhirnya tanpa tanya lebih lanjut kami langsung masuk aja bhakaka. Eh ternyata cafenya ada di atas, pokoknya kita sampai harus naik lift dulu. Hmm pas kita masuk ke dalam dih tempatnya memang agak tidak meyakinkan. Tempatnya agak remang-remang gitu,bagus sih sebenernya interiornya kayak ala-ala eropa gitu tapi ya rada gelap dan pelanggannya di dalam cuma kita! Wk makin deg-degan deh. Pas dia ngasih menu di restoran itu kita kaget banget wk tenyata Pat Bing Soo di sana mahal gewla. Gak ada tuh kita liat harga makanan 5000 Won-an. Wkwkwkw gw, Una, Nisa gak hetin-hentinya ketawa. Ngetawain kebodohan kita sendiri. Bisa-bisanya langsung main masuk-masuk aja tanpa tanya-tanya dulu. Pokoknya harga 1 Pat Bing Soo di sana sekita 13000 Won yang kalau di rupiahin sekitar 150.000-160.000an. WKWKWKWKW Seriusan itu adalah CEMILAN TERMAHAL yang pernah kita makan di Korea. Karena sedih liat harganya (plus hemat) akhirnya 1 Pat Bing Soo gw bagi berdua sama Una. Sedangkan Nisa udah nggak mau karena ngerasa udah banyak banget jajan hari itu.

Selama makan Pat Bing Soo mulut kita sumpah sakit banget karena ga henti-hentinya ketawa. Iya ngetawain diri sendiri. Padahal dompet meringis sih :”) Tapi untung aja Pat Bing Soo nya lumayan enak (ini entah emang beneran enak atau gw enak-enakin aja mengingat harganya warbiasa) dan porsinya juga banyak sih. Gw berdua sama Una aja kenyang banget. Tapi bukannya emang semua porsi Pat Bing Soo emang gede ul? (Terus sedih lagi)

IMG_20160520_184633

IMG_20160520_184643
#MenolakLupa

Beberapa hari kemudian makin sakit hatilah kita pas ke Coex Mall (yaa Mall yang lumayan elit lah di Seol) Una ngeliat Cafe Pat Bing Soo yang lumayan terkenal dan memang punya artis gitu jadi gak perlu diragukan lah ya pasti harganya lebih mahal daripada di pinggiran daaan pas kita nengok liat harganya …. jeng jeng di sana aja harga Pat Bing Soo nya cuma 7000-8000 Won-an. Kitapum langsung ngakak sejadi-jadinya. Ya Allah kemarin berarti kita sudah memakan Pat Bing Soo termahal se-Seoul (bangga).

Posted in Korea Selatan, Life, Travel

Gwangjang Market: Jadi Korban Media

Pagi itu sebelum berangkat ke kampus selalu kusempatkan sekian menit untuk menatap tv di kosanku. Sekedar melihat berita terbaru yang mungkin bisa saja dibahas di kelas. Nah, saat itu seorang presenter bercuap-cuap dengan penuh makanan di mulutnya yang sebenarnya perlu dikunyah dan ditelan terlebih dulu melalui tenggorokannya. Tapi ia tak peduli dan terus memberikan informasi betapa nikmatnya makanan yang tengah ia kunyah saat itu. Presenter tersebut sedang berada di Seoul, tepatnya di Gwangjang Market. Saat liputan itu di sana masih sangat pagi, lebih mirip pasar pagi di jakarta yang menjajakan berbagai macam jajanan pasar. Sambil kutelan air liurku kutatap terus presenter yang sambil memberikan informasi sambil memasukkan suapan demi suapan bubur hangat khas Korea ( Hobakjuk, klo gasalah) ke dalam mulutnya. “Wah, pokoknya klo aku ke Korea aku akan pasar ini!” ucapku dalam hati. Sesekali sorotan kamera menunjukkan hidangan yang dijajakan penjual, sungguh menggugah selera. “Pasti perutku akan di manjakan di sana”, “Hmm, pasti makanannya enak-enak ga seperti makanan Korea ala-ala di Indonesia”. Lalu berakhirlah liputan sang reporter di Gwangjang pagi itu dan ku sadari juga kalau aku sudah hampir telat masuk kelas (ini hampir tiap hari sih btw wkwkw).

Nah, saat memiliki kesempatan untuk pergi ke Korea, mengunjungi Gwangjang Market menjadi top listku saat itu. Wajah sang reporter yang saat itu yang tengah menikmat kuliner khas korea terngiang-ngiang. Jadi, setelah kami mengunjungi Bukchon akhirnya kami menuju Gwangjang Market. Fix yang kita kira itu lumayan deket, ternyata jauhnya naudzubillah, meskipun aku cuma pakai flatshoes tapi kaki tetap sakit banget (tips kalau kalian ke korea di musim semi atau panas mending bawa sendal jepit, its really helpful), sesekali aku buka sepatu dan kakiku ternyata sudah merah-merah hha. Setalah jalan lama banget akhirnya sampai ke Gwangjang Market, pasarnya mirip sih kayak pasar pada umumnya di Indonesia cuma ya jauh lebih bersih. Saat masuk kami disambut dengan beberapa penjual baju dan pernak-pernik. Una dan Nisa sempat mampir untuk beli beberapa. Selesai belanja akhirnya kami masuk lagi ke dalam. Wangi makanan mulai tercium, wangi Soju tak kalah menyeruak.

IMG_5910

IMG_5913

IMG_5911

Ya benar adanya, seisi pasar itu memang di dominasi oleh penjaja makanan. Mayoritas pembeli adalah penduduk lokal. Sepertinya hanya kami bertiga yang merupakan turis pada siang itu. Hmm, tapi yang aku ekspektasikan  dengan kenyataannya sungguh jauh berbeda. Saat di TV tak ada terlihat babi terpajang di meja-meja penjual, tak terlihat botol-botol soju yang berjejer sebagai pendamping makanan. Namun ternyata yang aku lihat sungguh berbeda. Di setiap meja-meja penjual terpajang daging babi yang sudah dimasak namun masih terlihat sedikit darah segarnya, kepala babi yang tersaji di kuwali-kuwali panas mereka dan cincangan daging yang dimasukkan ke dalam (semacam) usus (yang aku yakin pasti itu daging dan usus babi!). Saat itu kami langsung gak sanggup liat kepala babi (hhu, sayangnya aku ga berani foto) di mana-mana udah eneg aja gitu dan menjaga juga sih takutnya makanan yang lain meskipun non-babi tapi dimasak menggunakan alat masak yang sama. Kami langsung gak selera untuk mencari bubur dan jajanan lain yang kulihat dikunyah sang presenter beberapa bulan lalu di pasar ini. Belum lagi bau soju yang menurutku cukup tajam, dan di pasar itu  begitu dipenuhi dengan penduduk lokal yang sepertinya mulai menyadari adanya hijabers lagi keliling-keliling pasar kayak orang bego hha. Kami pun memutuskan untuk keluar pasar dengan tidak membeli makanan apa-apa kecuali Nisa yang membeli Sikhye. Ohya bagi yang ingin mencoba kimchi dari berbagai macam olahan sayur mungkin Gwangjang bisa menjadi pilihan yang tepat, karena aku bukan pencinta Kimchi jadi liatnya ya biasa aja hhe. Ohya dan menurutku bagi kalian yang non-muslim Gwangjang patut dikunjungi karena ya itu, merupakan surga makanan dengan olahan babi :”))

IMG_5912

IMG_5914

IMG_5908

IMG_5907

IMG_5909

Lumayan sedih sih, udah jalan berkilo-kilo wkwkw terus ga jadi makan di sana. Ujung-ujungnya makan di convenience store juga hha. Jadi judul hari itu adalah Aul si Korban Media.

IMG_5919
Sikhye yang di beli Nisa
Posted in Tak Berkategori

Ada Pemandangan yang Tak Biasa di Pelabuhan Semayang Balikpapan

Ada yang tak biasa dengan Pelabuhan Semayang pada hari itu dengan hari-hari sebelumnya. Saat itu gerbang pintu masuk Pelabuhan Semayang terbuka lebar. Setiap orang bebas untuk keluar masuk. Gerombolan pesepeda yang mengenakan baju seragam berwarna biru mulai memasuki gerbang Pelabuhan. Dari luar terlihat tenda menyembul dengan hiasan bendera dari berbagai negara. Pasti itu tenda panggung, pikirku.

14821160217701

Ternyata benar! Ada panggung tinggi yang berdiri menghadap lautan tepat di bibir pelabuhan. Aku dan Niah temanku segera masuk ke dalam Pelabuhan. Ternyata hari itu sedang berlangsung Peringatan Hari Armada RI ke 71 yang diselenggarakan oleh TNI AL Balikpapan dan juga dihadiri oleh Walikota Balikpapan. How lucky we are!

1482128915252

Salah satu rangkaian acaranya adalah lomba perahu hias yang diikuti oleh kurang lebih 70 perahu nelayan. Sayangnya kami tidak sempat melihat saat perahu hias berlenggak lenggok bagaikan model catwalk di tengah lautan. Tapi aku sempat melihat beberapa perahu yang tersisa.

Aku datang tepat pada sesi speadboat race. Keseruan balap speadboat saat itu sudah mengalahkan ajang F1. Kami sebagai penonton yang berdiri di pinggiran pelabuhan juga dibuat deg-degan.

1482128929304

1482128930940

1482128932836

1482128947025

Semua speadboad berlomba-lomba menjadi yang paling depan, saat mereka melakukan belokan, kami ikut tegang dibuatnya. Takut Speadboat itu jatuh. Salah perhitungan sedikit saja speadboad mereka bisa kehilangan kontrol dan dikuasai ombak. Yup, apa yang kami khawatirkan terjadi juga. Salah satu speadboat ada yang tebalik sehingga menjatuhkan pengemudi dan seorang rekannya.

kapal-jatuh

1482128939955
Regu Penyelamat Datang

Di saat kami asyik menyaksikan speadboat racing, di panggung juga sibuk membacakan nomor undian peserta yang telah di acak. Tidak main-main hadiahnya mulai dari peralatan rumah tangga, elektronik, hingga hadiah umrah.Setelah itu iringan lagu dangdut yang dibawakan oleh empat biduan sekaligus mulai menggema diikuti oleh jogetan beberapa peserta pesepeda yang menyaksikan di bawah panggung.

1482128981983

Posted in How to, Korea Selatan, Travel

Bukchon Hanok Village: Menikmati Desa di Tengah Perkotaan

Korea Selatan merupakan salah satu negara yang menjaga budaya tradisionalnya agar tetap beriringan dengan kemajuan negaranya. Tidak sulit bagi kita untuk menemukan pusat-pusat kebudayaan dan sejarah Korea pada masa lampau di tengah perkotaan. Terlebih yang membuat saya kagum adalah mereka sangat menjaga”Warisan Budaya” mereka. Bahkan menjadikan pusat kebudayaan dan sejarah sebagai alat untuk “jual” negara mereka yang kemudian mengundang turis untuk datang ke Korea Selatan. Yup, kami bertiga adalah 3 dari 132.024 wisatawan Indonesia yang akhirnya terpancing untuk pergi ke Korea Selatan.

img_5845
Bukchon Hanok Village (udah males banget buat foto karna betis nyut-nyutan)

Salah satu warisan budaya Korea Selatan yang diperkirakan sudah ada sejak Dinasti Joseon adalah Bukchon Hanok Village. Desa ini menjadi salah satu pilihan utama bagi turis yang sedang melancong di Korea Selatan. Bukchon lokasinya berada di tengah kota dan berdekatan dengan tempat-tempat bersejarah lainnya di Korea Selatan seperti Gyeongbokgung Palace, Changdeokgung Palace, dan Jongmyo Shrine. Jadi, kalian tidak butuh waktu lama untuk bisa mengunjungi tempat-tempat tersebut karena lokasinya yang berdekatan.

img_5834
Di Bukchon juga ada penyewaan baju tradisional Korea Selatan

img_5836

PR buat kami adalah, kami harus sabar karena untuk mencapai tempat-tempat tersebut harus berjalan kaki dan jalannya berbukit-bukit hhu (kecuali lu tajir, naik taksi bisa). Cobaan terberat ya saat di Bukchon, duhh jalannya berbukit-bukit banget. Betis udah bengkak-bengkak (lebay sih ini). Kaki gak usah ditanya lagi gimana merah-merahnya. Makanya pas di sini kami tidak terlalu banyak foto selfie hhu. Aku lebih banyak menikmati pemandangan di sana dan Nisa sibuk mencari rumah Henry Super Junior yang konon katanya rumahnya ada di Bukchon.

img_5855

Selama berada di Bukchon Hanok Village jangan sampai ribut yaa, karena sebenarnya itu adalah rumah-rumah yang masih ditinggali penduduknya. Kita juga tidak boleh mengambil gambar hingga ke dalam rumah atau ke area privasi pemilik rumah. Di setiap pagar rumah kalian pasti akan melihat stiker “Silent, please” hha. Berbeda dengan Gamcheon di Busan yang rumahnya dempet-dempet tanpa pagar. Di sini rumah-rumahnya lebih teratur dan dibatasi dengan pagar (kata Una sih ini emang yang tinggalin orang-orang kayaa,ya emang keliatan sih).

img_5860

Bukchcon itu luas banget. Kami sempat beberapa kali bingung kami ada di mana. Tapi jangan pernah takut nyasar karena banyak banget petugas dari Tourist Information Center yang berkeliling dan siap untuk kita tanya apapun (ya asalkan ga nanya jodohmu kapan datang ya LOL). Mereka juga membagi-bagikan peta serta guide book agar kita tau apa saja tempat menarik yang bisa kita datangi. Pernah nonton iklannya Kongbab gak? Nah itu syutingnya di Bukchon loooh wkwkw

img_5878
Salah satu dari banyak penjual aksesoris lucu di Bukchon
img_5879
Topokki/Tteokbokki terenak dan termurah! Kelihatannya dikit ya, tapi ini ngenyangin banget, parah :’))
img_5884
Ini lupa namanya apa, tapi aku sebutnya Topokki Goreng, Enaaaak banget!!!

Bukan hanya rumah-rumah tradisional saja yang ada di sana, namun juga ada berbagai macam cafe yang lucu-lucu, toko aksesoris dan baju yang dekorasinya lucu-lucu banget. Pokoknya instagram-able lah. Tapi karena aku udah cape jadi males buat foto-foto.Di sini juga banyak penjual jajanan mulai dari yang tradisional hingga yang modern. Nah, bagi kalian yang pengen banget makan Topokki, nih di sini yang termurah, harganya kalau gak salah 1.500-2000 Won. Aku sudah ke tempat-tempat lain di Korea emang di sini yang paling murah. Porsinya banyak banget, bisa buat berdua. Rasanya? Duhhh sumpah enak banget :’)) Ya Allah jadi pengen makan, tapi di Balikpapan di mana ya (eh, malah nanya). Di sana juga jual Topokki goreng gitu, aku lupa namanya apa, nah itu Nisa yang beli. Ya ampun pas cobain punya Nisa, ternyata lebih enaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!

img_5894
Beberapa store lucu di jalan menuju Bukchon

img_5892

img_5871
Bagian kalau udah masuk ke gang-gangnya
img_5869
Up! Up!

Karena Bukchon sering menjadi tempat syuting reality show atau drama Korea di sini banyak banget turis yang foto-foto di spot yang pernah dihampiri idolanya. Buseeet segitunya yaa. Bahkan toko-toko yang barangnya pernah di beli sama idola mereka, mereka datengin looh dan beli produk yang sama. Demi bisa samaan dengan sang idola. Sumpah, setengah percaya sih. Tapi pada kenyataannya emang fans K-Pop atau K-Drama ya sebegitu fanatiknya kalau suka banget :”)

img_5876
Nisa cerita kalau ini pernah di singgahi Song Ji Hyo pas mereka lagi syuting We Got Married versi China. Sebelum aku foto, ini tadinya digerombolin ciwi-ciwi dari Thailand gitu buat beli stempel cutomized.

Di sana juga kami bertemu ibu-ibu turis dari Malaysia (kayaknya orang tajir deh dari dandanannya) Dia negur kita pas lagi ganas-ganasnya masukin Toppoki ke dalam mulut. Wkwkw  doi kira kita juga dari Malaysia, jadi dia negur pengen nanya jalan soalnya rada bingung sama rute Bukchon. Hahaha, sama lah bu, saya aja bingung, yang hapal jalan mah cuma Nisa dan Una. Terus ya dia sempet muju kita pas tau kita cuma bertiga tanpa guide, bilang kita masih muda udah berani pergi jauh. Udah banyak kok bu yang kayak gini, kita aja udah ngerasa tua banget baru pergi jauh sekarang.

IMG_5896.JPG
Kiehl’s Store
img_5872
Gang paling gang dari Bukchon Hanok Village

Note:

Sebelum ke sini, perbanyaklah latihan betis 🙂

Kalau kalian tipe orang yang suka kuliner atau ke cafe-cafe yang lucu-lucu gitu, Bukchon bisa menjadi pilihan.

Posted in Korea Selatan, Travel

Day 4 : I Seoul U

Maafkan diriku yang udah lama tak pernah update ya guys 😩 (padahal sbenernya gada juga yang nunggu update-an blog ini, gpp lah pura2 aja wkwk) Diriku beberapa bulan tengah diliputi kegalauan jadi mood buat nulis ilang seilang-ilangnya hha. Tapi sekarang alhamdulillah udah nggak kok. InsyaAllah aku takkan mager lagi. Janji! Demi 2017 yang lebih baik LOL

 

Nah, setelah perjalanan di hari ketiga (baca di sini) yang menghantarkan kami dari Busan ke Seoul dan hari ketiga ditutup dengan masakan mama Jieun yang super enak (sumpah gw ga lebay, enak banget, bahkan telor dadarnya terasa enaaaaak banget, ya Allah semoga gada campuran minyak babi nya wkwk).

img_20160520_055408
Ini kompleks apartemennya Jieun. Tuh, setiap gedung dikasih nomor biar ga ketuker :p

Keesokannya kami bangun pagi alhamdulillah, gak ada lagi tuh kayak di Busan. Soalnya kita ga enak kalau sampe bangun kesiangan sama Jieun karena dia ada kuliah pagi. Bangun tidur akhirnya kami mandi. Brrr, sumpaaah disana malem sama paginya dingin banget. Dinginnya ber-angin gitu :’)) Pokoknya menggoda kita banget buat tidur lagi, tapi karena numpang jadi tau diri dikitlah yaa wkwkw. Mamanya Jieun maksa kita buat sarapan pagi, tapi karena kita juga buru-buru buat pergi, akhirnya kami tolak (padahal lapaaaaaaaar bok). Kami janji bertemu dengan Uli di Seoul National University (SNU). Ohya Uli ini adalah adik tingkat kami di UI yang sedang mengikuti exchange student.

Enaknya di Seoul kami tidak akan pernah kelaparan selama punya duit (Yaeyalaaah), karena dimana-mana ada convenience store. Selama di sana kami sarapannya selalu Banana Uyu/Hershey’s dan Samgak-gimbab (Onigiri versi Korea). Sumpah ini enak banget dan bikin kenyang BANGET! kita bisa kuat jalan dan ga ngerasa laper sampe seharian loh! Aku yang punya maag akut ga pernah maag kambuh sedikitpun selama di sana. Nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan? Wkwkw. Selain itu harga ketiga produk ini di convenience store murah juga wkwkw. Apalagi Hershey’s sering banget diskon beli 2 gratis 1 hhe, pas kan buat kita bertiga (Aku, Una, Nisa). Ohya buat muslim samgak gimbabnya pilih yang isian Ikan Tuna ya, hati-hati untuk yang isian daging lain soalnya beresiko itu isinya Babi. Bagi yang non muslim sih Korea emang surganya untuk icip-icip babay dan minum soju apalagi soju di Korea harganya murah cuma 2000an Won hha.

Terus ul, siang dan malamnya makan apa? Yaa makan ramen instan yang kemasan cup :p Ini juga kami selalu menghindari rasa daging-dagingan. Lebih prefer pilih yang seafood atau hanya sayuran buat jaga-jaga ada campuran daging babinya. Ohya, ajaibnya selama 10 hari aku di sana dengan asupan makanan yang di bawah standart, kayak sering makan mie sama sekali ga buat maag ku kambuh loooooh. Padahal kalau di Indo jangan tanya deh, telat makan dikit aja kambuh, makan mie instan dikit aja kambuh lagi 😩 Itulah the power of traveling ! Yeay!

Jika ingin ke SNU caranya pertama naik subway dulu Seonbawi Station (Stasiun terdekat dari rumah Jieun) – transit in Sadang Station (blue line) – Seoul Nat’l Univ (green line). Nah keluar stasiun lanjut naik bus No. 6515/5515/501 (terserah pilih yang mana datang duluan)

Nah, akhirnya kami sampai ditempat tujuan, yup SNU dan tentunya dengan keliling2 dulu dong cari rute kalau mau ke SNU ke halte mana :’) bukan aku sih yang nyari, lebih tepatnya Una dan Nisa huakaka. Sesampainya di kampus yang katanya idaman Una, akhirnya kita nungguin Uli terus Una foto-foto. Aku sibuk cari wifi buat update location di path tapi ga nemu. Wkwkwk. Kasian emang. SNU sekilas kalau kami liat dari luar sih model-modelnya kayak UI gitu. Jadi kayak kompleks luas gitu terus gedung masing-masing fakultas misah-misah gitu. Di sana juga ada bus yang bakalan ngelawatin semua fakultas yaa kalau di UI kan ada Bikun (Bis Kuning). Sebenarnya kami ingin menaiki bus tersebut sambil keliling SNU tapi takut kalau nantinya saat menaiki bus tersebut diwajibkan memiliki kartu mahasiswa yang harus di tap. Hahaha. Malu kan kalau tiba-tiba kita masuk terus keluar lagi karna gapunya kartu. Walaupun aku yakin gak akan yang peduli sih sebenernya soalnya masing-masing udah sibuk dengan headset dan handphone masing-masing. Setelah puas foto-foto di depan dan Uli pun datang, akhirnya kami memutuskan untuk lanjut ke Seoul City Hall. Nah cara ke Seoul City Hall ini kalau dari SNU adalah ke SNU station lalu turun di City Hall Station (Seoul Subway Line 1, 2), Exit 5.

img_5641
Daerah Seoul City Hall
img_5642
Yes! you can see N Seoul Tower dari kejauhan :))

IMG_5648.JPG

Emang di Seoul City Hall ada apa? Sebenernya di sini kayak daerah yang dikelilingi sama gedung-gedung tinggi nan modern mayoritas kayak gedung-gedung pemerintahan pusat gitu, ya kalau di Jakarta ini mirip daerah Merdeka lah ya. Kalau di Balikpapan ini mirip-mirip lah sama Klandasan :p Kami di Seoul City Hall juga sempat mampir kayak ke Tourism Centernya, disitu buaaaaanyak banget informasi dan brosur-brosur mengenai wisata di Korea Selatan, Seoul khususnya. Di situ juga ada museum yang menggambarkan sedikit mengenai Korea Selatan. Ohya sesampainya di City Hall juga aku baru tau ternyata di Korea juga ada demo loh, tapi bukan demo yang rusuh. Aku juga lihat demo saat jalan ke area Myeongdong. Nah keluar dari stasiun City Hall kami lihat ada tenda hitam gitu dan dinding-dinding tendanya penuh baliho dengan tulisan tuntutan mereka. Kalau dilihat sih mereka lagi menuntut pertanggungjawaban dari Hyundai yang mana salah satu pekerjanya ada yang meninggal. See? Negara maju sekalipun gak akan pernah lepas dari permasalahan sosial yaaa, nanti aku bakalan post deh masalah-masalah sosial di Korea yang mirip kayak di Indo hha.  Jadi, jangan pernah ngerasa karena di Indonesia banyak masalah ini dan itu terus jadi ngerasa negara ini adalah negara bobrok se-dunia. Makanya jangan cuma bisa ngeluh aja, buat perubahan juga dong… (elaah ul ngomong lu)

img_5633
Maafkan hayati ya, fotonya ga fokus

img_5636

Setelah dari City Hall kami jalan kaki ke Gwanghwamun Gate dengan berjalan kaki. Lumayan deket kok, “deket versi Korea Selatan yaa” Wkwkw. Gwanghwamun Gate ditandai dengan adanya patung besar King Sejong. Saat itu lumayan ramai, lagi-lagi banyak anak sekolah yang lagi dharma wisata. Kalau diperhatikan emang sekolah-sekolah di Korea Selatan kayaknya memang rajin untuk mengenalkan kepada anak-anak mudanya mengenai sejarah dan tempat wisata di Korea Selatan. Soalnya kalau aku pergi kayak ke Museum, Kuil, atau monumen bersejarah gitu pasti banyaaaak banget anak sekolahan dengan didampingi gurunya yang menjelaskan satu-satu mengenai apa yang ada di sana. Sebenernya kalau ngerti Bahasa Korea lumayan banget sih jadi berasa ada guide gratis hhi. Betenya kalau banyak anak sekolahan yang lagi darmawisata pas kita lagi berkunjung adalah mereka ribut banget :’)) Selain itu mereka juga bakalan berkeliaran gitu. Jadinya tempat yang seharusnya photoable jadi kayak pasar đŸ˜„

img_5683
Dedek Dedek Emeeeeeesh yang membuatku sulit mendapatkan foto selfie berdua bersama King Sejong 😩
img_5684
Yang sabar ya mbak, I feel you kok :’))

Tips nih buat kalian yang pengen menghindari siswa darmawisata adalah jika kalian akan ke museum, kuil dan tempat budaya/bersejarah lainnya yang ada di Korea Selatan sebaiknya datang pada pagi hari pukul 07-09 pagi dan sore pukul 04-06 sore. Dijamin ga akan terlalu ramai atau bahkan gak ada sama sekali gerombolan anak sekolah. Di sepanjang Gwanghwamun Gate juga banyak stand-stand yang berdiri. Aku tidak ingat ada stand apa saja, namun yang paling aku ingat adalah stand yang mengenang Tenggelamnya MV Sewol, yaitu kapal ferry Korea Selatan yang saat itu sedang mangangkut kurang lebih 476 penumpang yang sebagian besar merupakan siswa sekolah yang akan berdarmawisata dari Incheon ke Jeju. Beberapa penumpang selamat namun banyak juga yang akhirnya tidak sempat untuk diselamatkan bahkan belum ditemukan jasadnya. Kecelakaan ini bahkan membuat PM Korsel mengundurkan diri loh. Hmm…

Ohya, di samping Gwanghwamun Gate juga kalian akan melihat Kedutaan AS yang lumayan besar dan sangat dijaga ketat. Ya seperti di Jakarta lah ya yang berapa meter udah ada polisi kedubes yang jagain. Apalagi Korsel sama AS sohiban banget makanya AS kayak dapet tempat yang istimewa gitu deket Gwanghwamun Gate dimana merupakan daerah sentral Seoul. Next setelah dari Gwanghwamun Gate akhirnya kami lanjut ke Gyeongbokgung Palace yang juga tidak jauh dari tempat tersebut.

img_5716
Dengan kekuatan hengpong jadul cekrek cekrek :p
img_5714
Di Korea btw banyak banget yang pake baju kembaran hhi

img_5717

Sama seperti tempat-tempat sebelumnya, Gyeongbokgung juga tidak kalah ramainya bahkan berkali-kali lipat. Wkwk  biasanya aku cuma liat bangunan model Gyeongbokgung gini di drama dan akhirnya sekarang di depan mata. Masuk Gyeongbokgung dikenakan tarif 3000 Won ya lumayan laah, soalnya kompleks palace ini lumayan luas dan photoable wkwkw. Aku juga sempat liat kereta (eh apa sih nyebutnya? Kereta? Pokoknya Kereta jaman dulu di Korea deh) yang waktu itu jadi tempat syuting triplet. Hihi kebetulan disitu lagi ada 3 anak kecil cewe. Hihi mereka mirip banget kayak triplet versi cewe!

 

IMG_5791.JPG
Hihi adeknya sempet bengong liat kita kelompok hijabers dateng wkwk
img_5788
Triplet Effect

Di dalam Gyeongbokgung Palace juga ada bagian yang memperlihatkan perkampungan kuno di masa kerajaan Korea. Hmm, emang keliatan sih Korea majunya pesat banget kalau dibandingkan dulu dan sekarang. Ya dulu mereka juga rumah warganya kayak dari gubuk-gubuk gitu.

img_5809
Kalau ini kondisi perkampungan di tahun 1980an, berasa kayak nonton drama korea Reply 1988 (ya gak? Sok tau sih eyke padahal belum pernah nonton :p )

Ohya, tujuan selanjutnya kami ke beberapa tempat lagi akan aku ceritakan terpisah yaaa…

Posted in Korea Selatan, Life, Travel

Hati-Hati dalam Berprasangka, Hati-Hati jika Nantinya Berujung Cinta :p

Prasangka Sebelumnya 


IMG_5421
Gamcheon Culture Village

Aku memang bukan pecinta Kpop, suka beberapa drama Korea tapi jarang hapal pemain atau judul-judulnya kecuali Full House dan Boys Before Flower :’). Keinginan untuk ke Korea memang didasari keinginan untuk traveling ke tempat yang jauh dan yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Hal tesebut kemudian di dukung oleh tiket mureee ke Korea. Aku dan Una bener-bener random langsung beli hari itu juga wkwk

Aku juga tidak pernah berekspektasi bisa melihat keramahan orang-orang di sana. Aku sudah kenyang liat anak BIPA UI! Wkwk pikirku saat itu. (apa itu BIPA? cek di sini) Yap, aku sebenernya punya trauma tersendiri terhadap orang Korea :p Dulu aku dan teman-teman sekelompok salah satu mata kuliah penelitian di UI mengambil topik mengenai BIPA yang sebenarnya didominasi oleh mahasiswa dari Korea Selatan. Awalnya seneng. Wah lumayan akhirnya penelitian ini bisa jadi cara buat lebih kenal mereka. Tapi saat aku melakukan penelitian ke lapangan, hmm beberapa kali kami mendapatkan penolakan dan perlakuan yang tidak mengenakkan dari beberapa orang. Syumpaaah. Beberapa ada yang rese’ banget, ada juga yang jutek, atau pura-pura gak ngeliat dan ngedenger kita wkwkw. Bahkan ada nih yang aku wawancarain, hmm emang sih mukanya rada cakep. Cakep banget malah, kayak Lee Min Ho, tapi ternyata juteknya sama banget kayak karakter Gu Jun Pyo yang harus diperankan Lee Min Ho di drama BBF 😩 Aku waktu itu nanya untuk penelitian, “Pengen gak kenalan dan kemudian menjalin hubungan pertemanan dengan orang Indonesia?” Aku yang saat itu masih terkagum-kagum sama wajahnya langsung mau muntah denger jawabannya wkwk. Dia ngejawab kayak gak ada dosa, “Menurutku gak penting sih, toh aku juga nantinya akan kembali ke Korea dan bekerja di sana sehingga aku lebih memilih berteman dengan sesama orang Korea. Jadi gak akan ada gunanya jika aku menjalin pertemanan di sini.” What! Lahhh, terus lu ngapain belajar bahasa Indonesia di sini? Kocak. Dia kok jujur banget
 pernah juga nih, baru aja kita mau ngasih kuesioner (saat itu kita megang banyak banget kuesioner) karena udah gak sabaran,  eh tiba-tiba kuesioner kita diambil dengan kasar 😩 jadi kesannya kayak “Duh, lu buruan kek!”

Rata-rata mahasiswa Korea yang belajar di BIPA juga kalau jalan selalu bergerombol. Bener-bener kayak ngebuat benteng dengan orang lokal. Beberapa kali kami juga akhirnya jadi malu-malu saat akan mendekati mereka untuk memberikan kuesioner saat melihat jumlah mereka jauh lebih besar dari kami (duh, emangnya mau berantem, ul?) pokoknya mereka grouping parah deh, sibuk sama dunia mereka sendiri wkwk. Dan ternyata tau dari Jieun, katanya kalau rata-rata orang Korea emang gitu.

Nah ini timpang banget pas kita mau wawancara mahasiswa BIPA dari Jepang. Mahasiswa Jepang rata-rata kalau jalan ya sendiri-sendiri jadi enak buat kami keroyokin untuk ngisi kuesioner hha.  Mahasiswa Jepang rata-rata pada adem-adem banget. Mereka kalau kita tegor ngebungkukin badan mulu wkwk. Bahkan beberapa dari mereka masih berhubungan baik dengan kami sampai saat ini meskipun udah di negaranya masing-masing. Mereka juga bahasa Indonesia nya rata-rata udah bagus. Terus kalau ngomong lembut dan pelan-pelan banget hha. Nah, mungkin karena kami ngeliat perbedaan yang timpang ini makanya kami jadi membanding-bandingkan kedua negara yang bertetangga tersebut. Daaan akhirnya penilaian mengenai orang Korea dan orang Jepang hanya sebatas dari mahasiswa BIPA ini. Jadi, semenjak saat itu aku gak begitu suka orang Korea nih. Yaudah kalau kenalan sekedar kenalan aja, gak pernah berharap akan bisa berteman dengan mereka. Ohya, tapi aku punya pengecualian untuk dua orang temanku yang juga dari Korea, dia menurutku memang berbeda dengan anak-anak BIPA, dia lebih suka berbaur dengan mahasiswa Indonesia. Tapi emang dasarnya dia program exchange sih jadi rada beda.

Setelah sampai di Korea 


Nah, pas di sana aku benar-benar gak ada expect mereka bakalan ramah. Hmm, di Indonesia aja kelakuan mereka udah begitu apalagi kalau aku yang cuma seupil ini ada di negara mereka. Pasti cuek parah sih atau bisa aja aku dijutekin. Menurutku mungkin mereka sama saja seperti orang yang aku wawancarai di UI waktu itu, yang gak akan mau berhubungan dengan kami karena tidak ada gunanya. Hahah! Pokoknya dulu aku prasangkanya udah buruk banget deh. Haha!

Tapi kenyataannya gak, aku bertubi-tubi mendapatkan perlakuan yang jaaaaauuuuuuuuuuuuh sangat baik dari apa yang aku prasangkakan selama ini. Mereka ternyata sangat ramah dan penolong. Beberapa kali kebingungan arah saat bertanya kepada mereka, mereka selalu menjawab dengan sopan dan mencoba membantu semaksimal mungkin. Bahkan beberapa kali saat mereka melihat kami bingung tanpa kami tanya pun mereka menghampiri kami dan menunjukkan arah jalan dengan bahasa Inggris mereka yang terbata-bata atau bahkan dengan bahasa Korea yang masih bisa dimengerti sedikit oleh Una dan Nisa. Kami saat itu hanya bisa mengucapkan Kamsahamnida berkali-kali.

Pernah juga saat kami baru sampai di Seoul Express Bus Terminal, kami kebingungan dengan jalur subway Seoul yang ribet banget akhirnya aku bertanya dengan seorang yang sepertinya masih seumuran dengan kami. Aku bertanya jalur berapa jika kami ingin ke Seonbawi? Dia saat itu dengan ramah menjelaskan ke mana kami harus pergi. Selesai menjelaskan, akhirnya kami berpisah karena memang berbeda arah. Setelah jauh kami jalan sesuai dengan apa yang ia jelaskan, tiba-tiba dengan nafas terengah-engah ada seseorang yang menghampiri kami. Ternyata orang itu adalah orang yang tadi kami tanyai arah. Dia meminta maaf kepada kami karena telah menunjukkan arah yang salah. Sebelumnya dia mengatakan kami harus ke jalur 9, namun ia akhirnya baru tersadar saat telah jauh berpisah dengan kami sehingga ia kembali lagi dan mengejar kami demi memberitahu bahwa jalur yang benar adalah jalur 7 bukan jalur 9. Huuuu, kami terharu banget dia mau jauh-jauh mengejar kami dan memberitahukan jalur yang benar. Saat itu kedaan stasiun subway sangat ramai, semua orang terlihat terburu-buru karena memang sedang rush hour. Kami yakin ia juga sudah berjalan sangat jauh namun tetap mau bela-belain mengejar kami untuk meralat apa yang ia infokan sebelumnya. Padahal kalau dia cuek dia sebenernya bisa aja jalan terus. Hha

Oke, di hari pertama di Seoul saja kami udah ditolong. Pada hari-hari berikutnya banyak banget yang menolong kami, menyapa kami, tidak ada sombong sama sekali seperti apa yang aku prasangkakan selama ini. Aku berkali-kali mengalami eror pada T-Money ku yang menyebabkan aku tidak bisa keluar. Sempat kebingungan saat itu (di subway jarang banget ada satpam. Bahkan aku gak pernah liat, mungkin karena udah aman kali ya. Beda dengan di stasiun KRL di Jakarta) kemudian seorang ibu-ibu menunjukkan cara agar aku bisa keluar meskipun T-Money ku eror, tanpa harus membeli T-Money baru lagi! Hal ini tidak hanya terjadi 1 2 kali aja loh, sering juga ditolongin bapak-bapak saat T-Money ku eror lagi dan aku panik wkwk. Jadi kalau T-Money kalian juga eror, pencet aja tombol merah yang ada di pojokan, nanti pagar kecil (semacam pintu darurat) yang awalnya terkunci akan terbuka, sehingga kita bisa keluar tanpa tap card. Coba apa jadinya kalau ada pintu seperti itu di KRL Jakarta terus gak ada satpam yang jaga. Hmm! Pernah juga saat akan masuk ke apartemen Jieun, karena kami tidak memiliki key card buat buka pintu lobby, seseorang yang melihat kami sedang kebingungan di luar mengeluarkan key cardnya dan men-tap card tersebut sehingga kami bisa masuk ke lobby.

Aku juga pernah tiba-tiba disamperin ibu-ibu pas lagi duduk sendirian dan aku dikasih lucky clove :3 huaaa so sweet banget deh orang-orang Korea ini. Pernah juga seorang anak kecil menghampiri kami setelah dibisiki oleh ayahnya dan mengatakan “Welcome to Korea”. Huaaaaa, pengen banget nyubit pipi nya uwuuuw! Ohya selama di Korea kami seringkali di kira dari India. Lah India dari mananyee. Kayaknya mereka mikir kalau dari Asia selain China dan Arab ya India wkwk. Atau mungkin perkiraan yang sedikit dekat adalah mereka mengira kami dari Malaysia. Yaa, lumayan mirip lah. Pernah juga seorang ibu-ibu yang melihatku asing di dalam subway menanyakan dari mana aku berasal, saat aku jawab dari Indonesia dia bilang dia suka dengan keindahan pantai Indonesia. Terus bertanya tentang jilbabku, panas gak pake jilbab?, dan juga tentang Islam. Pada saat ia mau turun dia juga bilang bahasa inggris ku bagus. Lah bagus dari mane, amburegul bahreway bahrewey gini buk -_-

Nah pada puncaknya aku ditolong pas hari terakhir di Seoul. Saat itu aku lumayan keberatan ngangkat-ngangkat koper. Belum lagi kami harus terburu-buru menuju bandara. Turun dari bus dan saat akan menyambung subway, tiba-tiba koperku diangkatin oleh seorang bapak-bapak. Agak kaget juga, soalnya tuh bapak-bapak mendadak banget langsung ngangkatin koperku. Kya kyaaaa akhirnya aku gak perlu naik turun tangga nenteng-nenteng koper.

Ternyata apa yang aku sangkakan selama ini tidaklah benar. Mungkin ini tujuan Allah memberikanku kesempatan untuk bisa menjelajahi Korea Selatan, agar aku sadar bahwa di Korea masih banyak orang-orang baik. Tidak seperti apa yang aku prasangka kan selama ini. Seseorang di Backpacker Dunia pernah berkata bahwa sebenarnya di dunia ini dipenuhi oleh orang-orang baik, sedangkan orang-orang jahat hanya nyempil-nyempil diantaranya. Aku akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa saat kita diperlakukan tidak baik oleh suatu kaum belum tentu seluruh kaum tersebut tidak baik. Bisa saja yang memperlakukan kita dengan tidak baik tersebut hanyalah oknum-oknum yang sedang mencari perhatian :p. Thankyou Korea, ahh aku benar-benar jatuh cinta dengan kebaikan orang-orang Korea 😀

Ohya kebaikan orang-orang di atas belum termasuk dengan kebaikan dari Jieun dan keluarga nya yang mau menampung kami selama di Seoul. Aku tahu Jieun selama ini jika tidak ada kelas pagi pasti bangun siang. Namun, saat kami ada di sana ia selalu bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk kami :’) Saat kami pulang malam pun meskipun kami sudah makan kami masih diberikan cemilan-cemilan kecil. Ibu Jieun yang meskipun tak bisa berbahasa Indonesia dan Inggris selalu tersenyum pada kami. Bahkan membantu mencucikan baju kami 😩 uhhh, aku benar-benar tidak enak saat itu. Saat kami pulang jalan, tiba-tiba baju kotor kami yang ada di keranjang udah bersih dan wangi 😩 padahal selama di Indonesia aku merasa belum melakukan apa-apa untuk Jieun :’)

Ohya, di sana kami juga punya adik kelas di UI yang sedang student exchange di Korea. Dia juga baiknya minta ampun. Mau nemenin kita halan-halan ditengah kesibukan kuliah dan internship nya. Bahkan kami beberapa kali dibelikan Kimbab hha. Dasar, kakak kelas tak berguna! Seharusnya kami yang meneraktir dia yaaa sebagai anak kuliahan dan anak kosan. Wkwkw maafkan kakak-kakakmu yang kere ini ya >.<

Terima Kasih ya Allah, kau ciptakan kami semua bersaudara sesama manusia. Terima kasih telah menamkan rasa cinta dan kasih pada hati-hati kami 🙂

Hal ini kemudian yang menjadikanku semakin menyukai traveling ke tempat-tempat yang sama sekali asing bagiku. Ahhh, terima kasih Korea!

IMG_5664
Gwanghwamun Square

Happy Traveling!

Nur Aulia

Instagram : @nuraulia25

Twitter : @nurauliaaa

Facebook: Nur Aulia

Posted in How to, Korea Selatan, Travel

Day 3 : Hello Seoul!

Malam sebelumnya kami merencanakan untuk bangun subuh yaitu pukul 04.30 dan pergi untuk melihat sunrise di Haeundae Beach. Namun, aku ternyata baru bisa tertidur pukul 02.00 malam, sedangkan teman-temanku tidur lebih awal dariku. Kemudian keesokan harinya, engingeng!! Kami kesiangan! Hahaha

Sebenernya gak kesiangan sih, kami gak tahu kalau ternyata matahari di Korea saat itu mulai terbit sekitar jam 4. Jadi saat kami bangun jam 5 udah terang banget. Padahal kami pengen banget tuh ngeliat sunrise di Haeundae Beach :(. Tapi tiba-tiba salah satu temanku nyeletuk, “Halah! Di Indonesia juga sunrise nya gak kalah bagus.” Hmm, ya juga sih wkwk. Akhirnya kami siap-siap packing karena hari ini kami akan ke Seoul! Waktu yang mepet banget (kami akan ke Soul jam 2, jadi setidaknya jam 12 kami sudah ada di terminal bus) kami akhirnya memutuskan hanya ke dua tempat saja dari 3 tempat yang sebenarnya ada dalam itinerary kami. Jadi kami dengan terpaksa hari itu harus memendam keinginan kami ke Taejongdae yang berada di daerah Nampo. Jadi Taejongdae ini merupakan daerah paling selatan dari Yongdo Island. Dari sana kita bisa lihat salah satu pulau di Jepang yaitu Tsushima. Hmm, oke move on dari Taejongdae :”)

Selesai sarapan, kami pergi dan berjanji kepada Hyojin akan kembali lagi jam 12 untuk check out. Kami pagi itu berencana ke Haedong Yonggusa Temple dengan menggunakan bus, karena metro tidak ada yang ke arah sana. Jika dari penginapan kami, pergilah ke halte bus yang berada dekat dengan Haeundae Station exit 7. Lalu naik bus nomor 181. Kayaknya semua supir bus tahu kalau ada orang asing yang naik bus nomor 181 pasti akan ke Yonggusa Temple. Soalnya kami sempat naik bus yang salah arah! Wkwk. Jadi ceritanya kami naik bus yang ke arah atas. Pokoknya di seberang exit 7. Pas naik ke bus dan udah ngetap T-Money pokoknya supir sepanjang jalan ngomel. Awalnya kami kira dia ngomel sendiri dan nggak ngomong ke kita. Namun, akhirnya kami ngerasa juga wkwk. Pada akhirnya kami baru sadar dari bahasa kalbu kalau ternyata kami salah arah hha. Kalau mau ke Yonggusa harus ke arah sebaliknya. Hmm akhirnya kami turun dan naik bus arah sebaliknya. Yonggusa ternyata lumayan jauh. Aku sampe mau ketiduran di bus saking tidurku semalem ga berkualitas sama sekali. Hmm

Setelah 40-50 menit kuhabiskan di bus akhirnya aku mulai turun di Yonggusa Temple. Pas turun di halte akhirnya kami sempet bingung, namun ada seorang mas-mas yang memberi tahu kami kemana kami harus berjalan. Yap, jadi kalau turun di bus langsung jalan ke arah kanan ya. Ntar akan keliatan plang gede bertuliskan Yonggusa Temple. Nah, ntar kalian akan liat resto seafood gitu. Nanti belok kiri dan jalan terus. Jadi Yonggusa Temple agak masuk ke dalam. Kami pagi itu disuguhkan udara yang dingin, suasana yang sepi banget! Kami sampe beberapa kali bergumam,”Ini beneran tempat wisata gak ya? Beneran ini jalannya gak ya?” kontur jalanannya gak usah ditanya, berbukit-bukit hhu. Meskipun gak separah yang di Gamcheon tapi karena masih efek-efek kemaren jadinya kayak jauuuuh bangett, terus pegel banget. Sepanjang jalan ngedumel mulu, “Doh, mana nih temple nya?”

Di kejauhan akhirnya kami mulai melihat stand-stand penjual makanan yang masih mempersiapkan dagangan mereka. Setelah jalan lumayan jauh akhirnya kami menemukan tanda-tanda kehidupan! Yeay

IMG_5593

IMG_5586
Jejeran Patung Shio yang menyambut kedatangan kami

IMG_5588

Nyanyi-nyanyian pujian terhadap dewa mulai terdengar di telinga kami. Awalnya ku kira itu memang lagu yang dinyanyikan oleh pendeta. Namun, lama akhirnya aku sadar kalau itu CUMA REKAMAN! Hhe. Saat aku dan teman-temanku tiba disana belum ada terlihat banyak orang. Hanya terlihat beberapa pedagang yang tengah sibuk menyiapkan dagangannya. Belum sampai kami di wilayah kuil kami sudah disambut jejeran patung-patung shio. Di beberapa patung aku mulai melihat ada beberapa orang tua yang sepertinya sedang melakukan wisata religi. Aku melihat mereka memasukkan beberaoa koin di salah satu patung. Setelah puas mengambil foto patung-patung shio tersebut a kami masuk lebih dalam ke kompleks kuil. di depan pintu gerbang kami juga disambut berbagai macam patung-patung dewa dalam agama Budha.

IMG_5597
Budha of Granting a Son
IMG_5604
Praying

Akhirnya masuk ke dalam kompleks kuil, aku mulai terpukau dengan kuil tersebut. Huaaa, akhirnya bisa kesini setelah sekian lama cuma liat di Vlog. Bangunannya memang persis seperti apa yang aku liat di foto-foto dan vlog. Kuil yang menjorok ke laut itu mengingatkanku dengan Pura Segara Giri Dharma Kencana  yang ada di Pulau Menjangan. Sayang, saat itu tidak ada deburan ombak. Hanya air tenang yang kulihat. Tak ada ombak yang memecah bebatuan hingga menyiprat ke kuil. Agak dingin memang, namun pemandangan pagi itu sudah terasa sangat sempurna. Sampai akhirnyaaaaa
. Rombongan anak SMP yang lagi darmawisata datang! Huftt. Mereka rame banget. Datang begerombol kayak ketan. Kalau udah ngomong ributnya naudzubillah. Wkwkw. Tapi emang pada dasarnya kalau orang korea ngomong rada keras sih ya. Kayak ngajak ribut. Wkwk!

IMG_5609

Karena keburu bete sama kedatangan anak SMP yang begerombol kayak ngajak berantem, akhirnya kami buru-buru untuk mengitari semua bagian kuil. Ternyata semua pengunjung dibebaskan hingga masuk ke dalam loh meskipun kita bukan penganut Budha. Bahkan kami bisa naik hingga ke bagian atas. Selesai melihat lihat akhirnya kami memutuskan untuk pulang takut ntar gak punya waktu untuk mengelilingi Haeundae. Aku sudah kepalang lemas membayangkan rute pulang seperti tadi lagi. Huhu. Ohya kami bersyukur banget pergi pagi-pagi ke Yonggusa, karena masih sepi. Jadi bagi kalian yang berencana ke sana usahakan pagi-pagi ya, soalnya kalo rame susah foto-foto syantiknya cyiiin wkwk!

Selesai dari Yonggusa kami memutuskan untuk mengelilingi Haeundae! Yap, akhirnya bisa ke sana lagi. Kira-kira manusia pasir yang kami lihat kemarin udah ada yang jadi belum ya? Dari hostel, kami harus berjalan lagi sekitar 3-5 menit. Aku sangat buruk dalam hal mengingat jalan. Meskipun sebelumnya kami telah melewati jalan tersebut mungkin kalau aku di suruh untuk jalan lagi sendiri ke Pantai Haeundae aku akan tersesat hhe. Sampai di sana, sekitar jam 10.30 atau 11.00 ya aku lupa. angin pantai pagi itu sangat dingin padahal matahari cukup terik. Tiba di pantai aku kembali melepas alas kaki seperti di Gwanggalli Beach semalam. Brrr, pasirnya masih dingin.

IMG_5614
Salah satu patung pasir yang belum jadi

IMG_5613IMG_5611

Beberapa pekerja tengah sibuk membuat patung pasir. Beberapa diantara patung ada yang terlihat sebentar lagi akan jadi. Hmm, sayang hari ini kami sudah harus meninggalkan Busan dan tak sempat melihat rupa patung-patung pasir ini. >.<

Akhirnya kami balik ke Hostel, perpisahan dengan Hyojin yang sangat ramah. Una memberikannya 2 bungkus Indomie Goreng. Dia sepertinya sangat suka kami kasih mie goreng. Hmm, siapa yang bisa menolak kenikmatan dari mie goreng wkwk. Terus, gimana caranya dari Hostel ke Terminal Bus?

IMG_5621

Caranya adalah dari Heundae kita ke Stasiun Nopo. Nah disana langsung kalian akan nemuin Bus Express Terminal. Kalau kalian lapar, ada banyak tempat makan di sini, aku dan Una sempat makan Kimbab di terminal seharga 3300 won, sedangkan Nisa memesan Bibimbab seharga 6500 won. Sebenarnya kami masuk rumah makan ini bener-bener random dan udah kepalang laper. Saat melihat buku menu nya kami sedikit kaget sih kalau mereka juga ternyata menyediakan menu dengan campuran pork. Meskipun kami tidak memesan itu tapi kami khawatir kalau alat masak yang digunakan sama. Gak mungkin dong kita kabur :’) jadi akhirnya kami mengucapkan basmallah sebanyak-banyaknya sebelum makan dan dalam hati terus beristigfar semoga gak ada kandungan babay nyaaa >.< Ohya, hampir setiap rumah makan di Korea menyediakan minum (hangat atau dingin) secara gratis. Jadi bagi kalian yang ingin berhemat gak perlu memesan minuman :).

Bus menuju Seoul seingatku hanya ada 2. Kami waktu itu naik bus Express dengan harga 23000 Won dengan jam keberangkatan pukul 14.30, estimasi perjalanan 4 jam tapi akan berhenti di beberapa tempat pemberhentian. Itu merupakan bus paling murah untuk tujuan Seoul. Untuk bus Executive harganya sekitar 32000 dengan jam keberangkatan pukul 13.00 dengan estimasi perjalanan 4 jam juga tapi tidak ada stop sama sekali, kelebihan lain dari bus Executive adalah banyaknya pilihan jam. Menurutku bus yang kami tumpangi cukup nyaman, tempat duduknya lumayan lapang, jadi kaki bisa sedikit diselonjorkan. Terdapat tv di dalam bus tapi bahasa Korea! Wkwk, karna aku gak ngerti jadi enaknya tidur ajah!

IMG_5628
Perjalanan Busan-Seoul akan disuguhkan bukit-bukit di kanan kiri. Ya 11:12 lah sama pemandangan Balikpapan-Samarinda. Kalau musim semi atau gugur bukitnya warna-warni loooh >.<

Seharusnya kami sampai di Seoul pukul 19.00 namun karena macet jadi kami bus terlambat 1 jam untuk sampai di Seoul Express Terminal Bus. Padahal hari itu kami sudah janji untuk bertemu dengan Jieun pukul 20.00 di terminal Seonbawi. Karena aku hanya mengandalkan wifi akhirnya aku belum bisa mengabarkan kepada Jieun prihal keterlambatan kami. Sebenearnya sudah jam 7 malem tapi Seoul saat itu masih terang benderang. Keliatannya saat itu adalah rush hour jadi saat akan memasuki terminal macet banget. Tapi masih parahan macetnya Jakarta sih hhe.

DSC_0320[1]
Express Bus Terminal
DSC_0324[1]

DSC_0325[1]
Masing-masing orang sibuk dengan gadgetnya. Orang Korea juga seneng banget menyumbat telinga mereka dengan headset/earphone
Akhirnya sampailah kami di Bus terminal jam setengah 8, kayaknya kita bener-bener bakalan terlambat. Dari terminal Bus sampai ke Seonbawi butuh waktu kira-kira 30 menit. Aku mencoba mencari spot hotspot dan akhirnya ketemu! Setelah mengabari Jiuen akhirnya kami mencari jalur ke Seonbawi. Karena pertama kali, kami sempat kebingungan karena jalur subway di Seoul lebih banyak jika dibandingkan dengan Busan. Kami saat itu sudah sangat lelah, apalagi harus naik turun tangga. Dari Bus Express Terminal seharusnya kami ke arah Isu line 7, nanti turun di Isu dan pindah ke line 4, nah selanjutnya turun deh di Seonbawi. Gampang memang kalau udah tau tapi kalau baru pasti bingung wkwk.

Sampai di Seonbawi akhirnya aku bertemu Jieun!! Kyaaa, udah 5 bulan gak ketemu dia. Akhirnya bisa bertemu lagi, langsung di Korea Selatan! Yeay. Jieun benar-benar belum berubah, ia masih murah senyum seperti dulu hha. Sambil jalan menuju rumahnya kami saling bertukar cerita. Bahasa Indonesianya masih lancar meskipun ada beberapa kata yang ia lupa. Keluar dari stasiun, brr dingin mulai menyergap. Haha. Ternyata dari Seonbawi ke apartemennya tidaklah jauh, kami hanya naik bus dan melewati antar 2 atau 3 halte, aku lupa. Ohya, bagi kalian yang baru saja naik subway dan akan melanjutkan perjalanan dengan bus, nanti saat akan tap T-Money ke bus tidak akan dikenakan charge selama memang masih dalam jangka 30 menit dihitung dari kalian tap keluar subway. Jadi usahakan manfaatkan waktu semaksimal mungkin hhi. Kalau di bus Seoul, sama seperti di Subway masuk dan keluar kita harus tap T-Money yaaa. Berbeda dengan bus di Busan yang cukup tap saat masuk saja, kecuali jika kalian akan transfer maka harus tap saat keluar 🙂

Sampai di rumah Jieun kami sudah disambut oleh ibunya. Jieun punya adik cowok yang juga masih kuliah, namun saat kami baru sampai di Apartemen, ia belum pulang dari kampus. Ibu Jieun sangat ramah sama seperti Jieun. Ia memasakkan makan malam untuk kami. Huaaa
 dari luar sudah tercium wangi masakan ibu Jieun. Nyam! Setelah merapikan koper kami, kami akhirnya makan. Jieun menjelaskan satu-satu makanan yang dihidangkan di atas meja. Beberapa makanan sudah pernah aku makan di Mujigae wkwk seperti Bulgogi, Kimchi. Saat suapan pertama, huaaa! Masakan mama Jieun enak banget! Aku juga sangat suka nasi di Korea, pulen gitu. Bulgoginya enak! Semua enak! Bahkan mama Jieun masak dadar gulung aja dadar gulungnya enak banget. Beda deh.

DSC_0328[1]
Ditengah itu sambel yang gak ada pedas-pedasnya sama sekali. Rasanya manis :’
Hiyaaa
 Hari pertama kami akhirnya ditutup dengan hamdalah usai menyantap masakan mama Jiuen hhi

Happy traveling!

Nur Aulia

Instagram : @nuraulia25

Twitter : @nurauliaaa

Facebook: Nur Aulia

 

 

 

Posted in How to, Korea Selatan, Travel

Day 2 : Arrive in Busan!

Jika di bandingkan dengan Seoul, Busan memang jauh lebih tenang dan sepi. jika dibandingakan dengan Seoul, di sini sepertinya lebih banyak orang tua. Tidak perlu menyisihkan waktu yang banyak jika kalian ingin ke beberapa tempat wisata di Busan. Namun, jika kalian merupakan tipe pejalan yang santai dan memiliki waktu yang banyak, maka berlama-lama di Busan tidak ada salahnya. Aku dan teman-teman ke Busan memang hanya menyisihkan waktu 1,5 hari dengan mendatangi beberapa tempat-tempat yang sudah cukup terkenal di telinga kami. Selama di Busan kami menginap di daerah Haeundae. Menurutku daerah Haeundae cukup strategis karena dekat kemana-mana meskipun dengan metro dan bus. Pada tanggal 18 May 2017 kami sampai di Busan sekitar pukul 09.00. Terlambat 1 jam dari yang sudah dijadwalkan. Hal tersebut karena pada saat akan take off pesawat kami harus mengantri di Bandara KLIA2 terlebih dahulu karena ada beberapa pesawat juga yang akan take off malam itu.

IMG_5419

Sampai di pagi hari memang sangat menguntungkan bagi kami sehingga memiliki banyak waktu untuk mengeksplore Busan seharian. Dari Gimhae International Airport kami naik Airport Limousine dengan tujuan akhir Haeundae. Biaya yang kami keluarkan untuk Airport Limosine ini adalah 7000 Won. Selain menggunakan Airport Limosine, ada 2 cara lainnya yang lebih murah yaitu dengan menggunakan Bus biasa (Naik nomor 307 untuk ke daerah Haeundae dan 1009 untuk daerah sekitar Geumgok/Gadeok Quay) dan menggunakan Metro yaitu keluar di Daejo Station (Line 3)/ Sasang Station (Line 2), transfer to Busan Gimhae Light Rail Transit. Sebenernya penginapan kami yaitu Miss Egg Hostel deket banget dari Haeundae Station, jadi kalau dari Bandara lebih dekat jika naik Metro. Namun, rempong banget cyiin geret-geret koper dan naik tangga pas keluar stasiun. Tapi kalau kalian Cuma bawa ransel doang lebih baik naik metro atau bus karena jauh lebih murah.

Nah, bagi kalian yang akan naik Airport Limousine dengan tujuan Haeundae berikut rute yang akan di lalui

Gimhae Airport > Namchun-dong > Gwnagan-dong > Gwangan Stn.> Suyeoung Intersection> Suyeoung Hyundai apt> Centum Hotel> Bexco> Olympic Intersection> Gyeongnam Marina apt.> Park Hyatt Busan> Hanwha Resort> Hyperion> The Westin Chosun Hotel> Grand Hotel> Haeundae Beach> Novotel Ambassador Busan> Paradise Hotel> Mipo, Moontan road> Raemian Haeundae apt.> Hyundai I-park apt> Jangsan Stn.> Haeundae Paik Hospital> Dongbu apt> Daelim 1-cha apt> Yangwoon High School> Yangwoon Elementary School.

Seharusnya kami turun di halte Haeundae Beach, tapi kelewatan hha. Jadi kami turun di Novotel Ambassador Busan. Saat di dalam Limousine kami melihat dari dalam kaca bahwa Busan sedang terik-teriknya. Wah panas nih, fikirku. Tapi setelah turun dari Limousine, bbrrr, cahayanya doang keliatan terik, tapi nyatanya dingin banget. Busan saat itu bener-bener kayak di pakein AC dengan suhu minimum terus ditambahin kipas aingin. Gimana tuh rasanya.

Saat turun di depan Novotel, kami bingung di mana letak hostel kami. Akhirnya kami ke Haeundae Tourist Information Center untuk menanyakan kemana kami harus melangkah (duileeeh). Ohya, yang aku sangat suka dengan Busan adalah disini Tourist Information Center nya gampang banget diakses oleh turis! Setelah dijelaskan oleh mbak-mbak yang ada di Tourist Information Center tersebut rute untuk sampai ke hostel kami akhirnya kami jalan deh. Letak Tourist Information Center yang berada tepat di depan Haeundae Beach ini membuat kami melihat sedikit aktivitas dari beberapa pekerja yang akan membuat patung pasir. Mungkin untuk menyambut liburan musim panas (fyi, setiap bulan Juni akan ada Haeundae Sand Festival). Huft sayang belum jadi, jadinya belum bisa foto-foto cantik di depannya deh.

Setelah diberikan petunjuk dimana hostel kami yaitu Miss Egg Hostel (ohya, review dan how to get this hostel di post-an berikutnya yah!) akhirnya kami sholat dan berberes. Baru selesai jam 1 siang hha. Bener-bener gak kerasa. Akhirnya kami melakukan sedikit perubahan di itinerary kami dan mulai berangkat lagi tanpa mandi wkwk. Buseeet, strong banget deh kita hari itu, padahal semaleman di pesawat, nyampe hostel jalan lagi dan sempat mampir ke convenience store cuma beli nasi kepal dan banana uyu.

Berikut merupakan beberapa tempat yang kami datangi di hari pertama kami di Busan. Untuk cara ke tempat tersebut kalian bisa google sendiri yaa dengan patokan hostel yang telah kalian pesan.

  1. Gamcheon Culture Village

    IMG_5370

IMG_5412
Nih, kalau jalan sampe gang-gangnya 🙂

Metro Line 1 Toseong Stn. (Exit 6) -> Transfer (by bus) to Saha-gu 1-1, Seo-gu 2, 2-2

Salah satu alasan yang bikin kita pengen banget ke Busan adalah karena ini sih, Gamcheon Culture Village. Abisnya seru banget liat rumah warna warni gitu. Jadi dulunya ini merupakan perkampungan kumuh yang kemudian di sulap menjadi perkampungan yang warna-warni dan banyak lukisan lucu-lucu di dinding rumah. Ohya sebelum masuk mampir dulu ke Tourist Information ya buat ambil Gamcheon map, karena Gamcheon itu luas banget dan banyak gang-gang kecil yang kalau kalian ga pke map kemungkinan ga bisa pulang hha.

Pas sampe sana banyak banget wisatawan yang ke sini. kebanyakan sih wisatawannya orang Korea juga dan beberapa aku melihat wisatawan Thailand. Menurutku sih, best time ke sini adalah pagi biar gak terlalu ramai wisatawan dan biar bisa bebas foto-foto juga hha. Siapkan tenaga dan kaki kalian di sini yaaa. Sebelum berangkat usahakan rajin-rajin jogging hha. Rutenya naik turun gunung plus beberapa tangga bokk. Tapi pemandangannya bagus sih hhe. Ohya, selama di sana apalagi pas lewatin gang-gang kecilnya usahakan jangan terlalu berisik karena itu perumahan penduduk cuy, bukan museum kosong doang hha.

  1. Jagalchi MarketIMG_5429

IMG_5438Metro Line 1 Jagachi Stn. (Exit 10)-> Walk 300m toward Jagalchi 1-gil. Kalau dari Gamcheon tinggal naik bus nomor 2-2 atau 1 ntar minta turun di Jagachi Market. (deatil halte bisa kalian liat di Gamcheon map)

Mungkin bisa dibilang ini pasar ikannya Busan. Disini berbagai macam hasil tangkapan laut ditampilkan, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup. Ukurannya rata-rata besar-besar loh. Banyak hasil tangkapan yang jarang dan belum pernah aku lihat di Indonesia. Seperti Gurita, terus banyak banget sih yang lainnya yang aku gak tahu namanya hhu. Kalau nanya juga kayaknya percuma soalnya rata-rata pedagang di sana menggunakan bahasa Korea. Jagachi merupakan pasar ikan terbesar di Korea. Di sana juga banyak restoran yang tersebar, yang konsepnya kita bisa milih hasil tangkapan laut yang masih hidup-hidup yang di pajang di aquarium depan restoran. Jadi seafood yang disajikan dijamin fresh! Namun, karna harganya yang mahal dan di Balikpapan juga banyak seafood kami mengurungkan niat untuk mencoba seafood di sana.

  1. BIFF SquareIMG_5452IMG_5450

Kalau dari Jagalchi Market tinggal jalan kaki

Disini kalian akan menemukan banyak cap tangan orang-orang yang bekerja di bidang perfilman di seluruh dunia. Tapi karena saat aku sampai di BIFF sudah sore akhirnya kami tidak sempat untuk melihat satu persatu, tangan-tangan siapa aja yang ada di sana. Hha

BIFF Square ini berada di cluster Nampo Dong yang di dalamnya juga terdapat movie theatre dan tempat belanja sehingga banyak banget anak muda di sini kalau sore hari bahkan banyak diantara mereka yang masih menggunakan seragam sekolah.

  1. Busan Tower

IMG_5512

Dari BIFF Square kami jalan ke Busan Tower/Yongdusan Park. Syumfaaah itu kita setroong banget. Huhu perjalanan jauh banget dengan rute jalanan naik turun bukit cuyyy. Gue mengakui deh emang orang Korea pada kuat banget jalan, disinilah kami akhirnya mulai menyadari bahwa jalanan yang turun naik bukit bukan hanya di Gamcheon Village namun memang seluruh Korea hhu! Jadi kontur jalanan di Korea Selatan memang naik turun gunung. Pantes body orang-orang Korea pada slim-slim. Hha

  1. Gukje Market

Ini nih yang zonk banget, Gukje Market! Jadi setelah dari Busan Tower kita ikutin peta ke Gukje Market. Ya ampuun, lapar banget plus kaki udah kayak mau lepas. Nah, pas turun kita ngelewatin pasar gitu. Sempet bingung nih disini, ini pasar apaan. Karena udah mulai magrib, itu jam setengah 8 kayaknya, pedagang di pasar sudah mulai siap-siap untuk tutup tokonya. Sampe akhirnya di ujung pasar akhirnya kita bengong. Gukje Market mana ya? Sempet lama bingung akhirnya kami didatengin bapak-bapak dan dia ngomong dengan bahasa Korea yang aku sama sekali gak ngerti. Tapi untungnya Nisa dan Una ngerti dikit-dikit katanya. Kita nanya di mana Gukje Market? Dan jawabannya adalah tempat kami berpijak sekarang adalah Gukje Market! Wkwkw jadi katanya pasar cuma buka dari pagi sampe sore doang. Kalau malem pasar bubar. Hiyaaa, kirain pasar buka sampe malem TT padahal udah ngebayangin makan Toppokki malem-malem atau nyobain makanan khas Busan. Terpaksa malam itu kami ke convinience store terdekat dan diisi dengan Banana Uyu lagi :’)

  1. Gwangalli Beach

IMG_5535

Metro Line 2 Gwang-an Stn. (Exit3,5) -> 650m toward Gwangalli Beach

Nah setelah ke Gukje kita lanjut ke Gwangalli Beach. Sampai disana sudah jam setengah 9. Pas keluar stasiun brrr dinginnya luar biasa. Kita juga kaget pas sadar saat itu jalanan udah SEPI ! Buset, kan ini baru aja malem? Malemnya aja baru jam 8 tapi kok sepi banget. Agak serem juga sih, apalagi dari stasiun kita harus jalan lagi sekitar 650 meter. Kalau dari petunjuk google kita Cuma perlu berjalan sekitar 3-5 menit. Duh, pas kita jalan kok berasa lama yaaa. Huakaka. Mungkin 3-5 menit tanpa ngoceh, tanpa nyari-nyari pantainya di mana kali yaa? Pas ditengah-tengah jalan terdapat beberapa restoran Shabu-Shabu. Hampir semua restoran shabu-shabu yang kami lewati penuh oleh pekerja kantoran yang baru saja pulang dan makan malam di sana. Di tangan kanannya mereka memegang sumpit dan di sebelah kirinya terdapat Soju. Mirip seperti di drama-drama sering aku tonton. Seketika itu juga aku berharap bisa melihat orang yang mabok di pinggir jalan gara-gara kebanyakan minum Soju wkwk. Apa iya maboknya heboh kayak unnie atau oppa yang kayak di drama? LOL

Setelah 15 menit jalan (kayaknya) pokoknya lama deh hha, akhirnya aku sampai di Gwangalli Beach, Yeay! Huwoooo, dinginnya tambah nusuk hhu. Padahal ini udah mau summer loh, tapi masih aja dingin bbrr. Pantainya lumayan rame, kebanyakan anak muda sih. Ada beberapa penyanyi jalananan juga yang nyanyi jadi suasanannya makin romantic hhi. Belum lagi kerlapkerlip lampu dari beberapa gedung di seberang pantai dan dari Gwangalli Beach terlihat jelas Gwangandaegyo Bridge yang hits ituuhh. Lampu jempatannya keren juga haha. Akhirnya kita sibuk foto-foto di tempat duduk sekitar pantai. Beberapa orang ada yang lari-larian di pantainya, terus aku penasaran dan pengen jalan-jalan di atas pasir pantainya. Pas lepas sepatu dan nginjekin kaki di pasir huwooow! Baru kali ini ngerasain pasir pantai dingin banget. Buset nih pasir kayak baru disimpen di kulkas. Terus Aul tambah norak! Hiyaaay Best time ke Gwangalli Beach adalah bulan Oktober karena ada Busan Firework Festival.

Akhirnya Gawangalli Beach menjadi penutup malam itu di Busan. Kami gak terlalu lama di sana soalnya takut jalanan ke hostel makin sepi dan aku yang sepanjang perjalanan pulang masih berharap bisa liat orang mabok Soju pun gagal, kayaknya kurang malem! haha

Posted in Jakarta, Korea Selatan, Life, Travel

Day 1: Hampir Gagal ke Korea (Drama di Bandara)

Mungkin pada tanggal 17 Mei 2016 menjadi salah satu hari terlelah buatku. Bagaimana tidak, pada hari itu aku akan ada 2 penerbangan sekaligus yang jamnya lumayan berdekatan dengan durasi masing-masing 2 jam plus dengan pesawat Low Cost Carrier (LCC) pula wkwkw. Pertama adalah penerbangan dari Balikpapan (BPN) ke Jakarta (JKT) pada pukul 08.40 WITA dan akan sampai di JKT pukul 09:55 WIB (terdapat perbedaan waktu 1 jam antara BPN dan JKT).  Keberangkatan berikutnya adalah ke Kuala Lumpur (KL) pada pukul 14.45 WIB. Sambil nunggu Nisa dan Una (teman yang juga akan ke Korea) akhirnya aku sempet keliling terminal 1 A, B, dan C lalu naik shuttle bus ke Terminal 3. Beberapa jam kemudian kami bertemu di Terminal 3. Kami self check in di depan counter AirAsia. Aku dan Una cuma dapet tiket JKT-KL karena kami membeli tiket terpisah. Sedangkan Nisa langsung mendapatkan dua tiket yaitu JKT-KL dan KL-Busan karena memang saat pembelian dia langsung membeli AirAsia JKT-Busan.  Aku dan Una akhirnya baru bisa cetak tiket KL-Busan nanti saat di KL.

Penerbangan JKT-KL ini aku dapatkan cuma Rp 160.000,- lohh. Sebenernya aku bisa dapat lebih murah lagi daripada ini kalau lebih cepet booking nya. Tapi karena murah, kita gak dapet bagasi. Kami cuma dapet jatah bawaan ke kabin 7 kg dengan ukuran koper/tas  maksimal 56cm x 36 cm x 23cm. Agak deg-degan pas masuk ke gate karena takut di timbang. Tapi 2 orang temanku Hanna dan Alia yang dulu pernah pergi dengan AirAsia meyakinkan bahwa koper kita tidak akan ditimbang. Jadi kalau bawaan lebih dari 7kg tetap bisa melenggang ke dalam pesawat. Daaaan, pada saat masuk antrian masuk gate, apa yang kami khawatirkan kejadian juga. Ternyata ada random check gitu. Jadi ada mas-mas dari AirAsia yang tiba-tiba nangkring di depan gate dan ngecekin koper penumpang satu-satu untuk ditimbang. Aku, Una, dan Nisa jadi sedikit panik. Gimana gak, bawaan kita semua lebih dari 7kg hha. Aku sepanjang ngatri terus berdoa semoga masnya cepetan pergi atau Allah jadiin koperku invisible saat itu juga. Saat mendekati meja pengecekan tiket dan hampir deket dengan mas yang nimbang koper, Nisa ternyata kopernya cuma diangkat doang gak sampe ditimbang, karena diantara kita bertiga emang koper doi yang sedikit kecil, jadi tidak mencurigakan. Sedangkan Una lolos dari pengamatan masnya, jadi melenggang ke dalam gate dengan santainya (padahal dari koper kami bertiga, koper dia yang paling berat btw wkwk). Dan pada saat giliranku
 Koperku diangkat oleh masnya, dan ditimbang! OMG! Sumpah saat itu deg-degannya luar biasa khawatir di suruh beli bagasi karena bawaan kabin melebihi kuota. Namun, engingeng 
 koperku lolos! Masih setengah nggak percaya sih. Wkwk

Oke oke, akhirnya kami terbang selama 2 jam ke KL. Sampai di KL pukul 18.00 kami langsung ke bagian transfer. Rencananya sih mau keliling KLIA2 tapi kami udah capek banget. Apalagi aku yang udah terbang dari Balikpapan. Setelah sholat magrib kami memutuskan untuk makan di Level 3 (Foodcourt area) rata-rata makanan di sana 16 RM. Gaperlu beli minum karena disana terdapat beberapa keran air minum. Lumayan hemat 3-4 RM LOL. Setelah makan kita ke Movie Lounge di Level 2. Menurutku tempat ini lumayan pewe buat tidur, ada colokan juga di sana. Banyak bule-bule tidur ngemper di lantai dekat Movie Lounge, jadi kalau mau tidur di lantai pede aja. Hihi

Setelah leha-leha akhirnya pukul 21.30 kami memutuskan ke Gates P. Kalau dari layar yang kami lihat, penerbangan ke Busan adalah Gate P10. Buset jauh juga ternyata. Nyampe-nyampe depan gate udah jam 22.00. Nah, di sini nih kita mulai celingak-celinguk. Penerbangan kami memang belum. Saat itu petugas masih sibuk memanggil penumpang dengan penerbangan ke Sydney. Kami akhirnya sedikit janggal saat menyadari tidak ada mesin Self Check in di sekitar ataupun di dalam gate!!! Makin panik pas ngeliat kok semua penumpang yang ngantri udah pada megang tiket masing-masing yaaa?! Huaaa, aku dan Una mulai panik. Mau tanya ke penumpang yang lalu lalang rada takut soalnya mereka rata-rata lagi pada buru-buru masuk ke gate P10, petugas pun begitu. Pada sibuk banget. Tapi akhirnya aku lihat bule gitu yang lagi duduk, aku tanya di mana dia nyetak tiket? Ternyata dia kasusnya sama kayak Nisa. Udah dapet tiket dari negara asalnya, jadi gak tau yang transit pada nyetak tiket di mana. Akhirnya aku dan Una cari gate lainnya yang lagi gak sibuk untuk ditanyain. Akhirnya di gate P12 ketemu petugas yang menurutku rada jutek hufft. Dia juga gak tau apa-apa dan nyuruh kami untuk ke counter AirAsia yang berada di depan pintu Transfer. Well, itu lumayan jauh btw. Hmm, akhirnya aku dan Una nitip koper kami ke Nisa. Kami melewati bagian cek bawaan (itu namanya apasih? wkwk) Mereka sempet nanya kita mau ke mana. Soalnya memang di situ gak tersedia pintu buat keluar. Kami menjelaskan kalau kami belum check in dan nyetak tiket untuk ke Busan. Kami juga sempet nanya ke mereka dan mereka menyarankan kami untuk ke counter AirAsia.

Akhirnya kami lari-lari kayak orang bego ke information center untuk memastikan. Mereka juga menyarankan untuk ke AirAsia Counter. Lari-lari cantik lagi ke counter AirAsia yang dekat gate Transfer. Saat itu udah pukul 23.00 lewat kalau gak salah. Kami ke counter dan dijutekin sama mbaknya. Busetttt! Dia sibuk main hp bokk. Terus jawab pertanyaan kita ketus banget. Gak tau apa nafas kita udah tinggal di ujung nih 😩 Dia bilang kita harus keluar imigrasi dulu buat self check in. Jadi harus keluar naik eskalator dulu. Terus aku tanya, kalau aku web check in aja gimana? Apa tetep butuh tiket yang berbentuk kertas? Dia bilang tetap perlu dengan jawaban dan muka yang ketusnya bertambah 5x lipat dengan hp yang gak lepas dari tangannya. Hufttttttt! Opsi lainnya, kita bisa ke Sama-Sama Hotel yang ada di Level 3 (deket foodcourt) tapi berbayar dan Una maupun gue gak bawa duit sama sekali. Semua dompet kita tinggal ke Nisa. Ya Allah kita mau pingsan. Akhirnya aku bilang ke Una, daripada kita ambil duit ke Gate P10 yang juga jauh terus balik lagi ke Sama-Sama Hotel yang sebenernya belum pasti apa kita bisa ngeprint apa nggak mending kita langsung aja keluar Imigrasi dan Self check in (saat itu dalam otakku dan Una, Imigrasi itu deket). Kami lari naik eskalator. Sumpah kakiku berat banget. Sesekali aku terus melihat jam. Imigrasi gak keliatan juga. Saat itu KLIA2 keliatan sepi banget. Cuma ada beberapa petugas yang kayaknya juga bersiap untuk pulang. Beberapa petugas kami tanyakan di mana mesin self check in semua menunjukkan arah ke depan, namun kami tidak tahu dimana ujungnya. Nafas una dan nafasku sudah sangat jelas terdengar tak beraturan. Aku sebenarnya juga udah pasrah kalau memang kita gagal ke Korea dan harus menghabiskan 9 hari di Kuala Lumpur karena sebentar lagi batas waktu terakhir check in 😩

Di sepanjang jalan, kami terus bertanya setiap bertemu petugas.  Saat bertanya juga omongan kami mulai gak jelas, percampuran antara capek, kaki sakit, sedikit panik dan bingung. Petugas yang kami tanya juga selalu menjawab pertanyaan kami sekenanya sambil menunjuk ke depan dan bilang “Exit”. Lah ini kita udah lari dari tadi dimana exit nya deh :(. Setelah lari lumayan jauh akhirnya kami melihat kantor AirAsia, aku masuk dan bertanya dimana bisa cetak tiket. Tau gak, petugasnya cuma bilang, “Bukan di sini” What? Gitu doang jawabnya? Aku dan Una akhirnya keluar kantor tersebut. Sedikit kebingungan dan akhirnya ada mas-mas dari AirAsia yang liat kita kebingungan di luar terus nyamperin dan ngasih arahan di mana imigrasi. Setalah bilang makasih, kita lari lagi kayak Bolt wkwkw. Akhirnya kita lihat gate imigrasi. Huft akhirnyaa. Udah sepi banget. Pas jari telunjukku di scan, tanganku bergetar saking capeknya lari sehingga beberapa kali disuruh beberapa kali ngulang nempelin jari telunjuk. Keluar dari gate imigrasi akhirnya kita liat mesin self check in. Huaaaa, tuh mesin udah kayak berlian. Bersinar-sinar di mataku, pengen banget dipeluk hhu. Pas banget kita sampai 1 jam 15 menit sebelum flight, yang berarti udah jam 00.00 (Close Gate 00.45) bokk. Aku dan Una berarti tadi lari-lari kayak orang gila selama 1 jam. Gilaaak, selama ini gak pernah sama sekali olahraga dan sekarang disuruh lari 1 jam itu rasanya 
 hhu.

Setelah check in akhirnya aku dan Una lari lagi menuju gate P10. Pas masuk ke imigrasi lagi buat dapetin cap keluar Malaysia, aku dilayanin mbak-mbak gitu. Buset lagi-lagi aku dijutekin, hufft kenapa sih seluruh KLIA2 kayaknya pada jutek amat. Pengaruh udah malem apa ya. Terus tuh mbak mbak sambil chat masaaa. Terus dia ketawa-ketawa sendiri gitu sambil ngeliatin terus layar HP nya. Pas bagian scan jari telunjuk tanganku masih agak bergetar efek lari. Jadi berkali-kali di suruh ulang scan. Aku juga akhirnya jadi gak sabar. Dia juga sibuk banget sama HPnya ihhh. Terus dia bilang, “Tangannya tolong ditempelin yaaa. Jangan di lepas-lepas! Mau pulang nggak?” (dengan bahasa Malay) Grrrr, kalau aku lagi gak buru-buru, aku jawab juga nih doi. Sumpah sebel banget, aku cuma diam aja sambil menggerutu dalam hati. Hhuhu. Keluar dari imigrasi akhirnya aku lari bareng Una. Nyampe gate P10 aku sama Una minum sepuasnya. Bahkan orang yang bagian cek barang udah hapal muka kita dan nanya, “Gimana? Udah dapat tiket?” Huhu, udaaah Pak Cik udaaaah. Sambil nangis darah. Gak lama setelah itu akhirnya open gate, dan kita duduk udah kayak orang teller. Nafas udah gak beraturan.

Sumpah ini pengalaman banget sih. Aku jadi tau banget kalau connecting flight LCC (kalau kalian beli tiketnya terpisah) tuh ternyata harus keluar dulu lewatin imigrasi karena tempat cetak tiket ada di bagian luar. Jadi jangan langsung masuk Transfer yaa. Atau kalau kalian males keluar imigrasi, cara lainnya adalah ke Sama-Sama Hotel yang ada di Level 3 (tapi aku belum pernah). Setelah kejadian ini akhirnya kami menyadari bahwa KLIA2 itu luas banget, tidak hanya sebatas Gates P dan Q. Selain itu aku ngerasa kayaknya kita emang disuruh latihan sama Allah, karena ternyata selama di Korea Selatan kita banyak banget jalan dan lari, jadi kaki (agak) sedikit kebal. Hiyeeeey!