Balikpapan, How to, Jakarta, Travel

Ke Labuan Bajo, Backpacker atau Travel ?

Tanggal 17 May lalu aku dan 3 orang teman kampusku di FISIP UI memutuskan untuk pergi ke Labuan Bajo dan beberapa teman kami banyak yang bertanya-tanya mengenai budget untuk pergi ke sana. Backpacker atau Travel? Kalau travel pakai travel apa? Hehe daripada jawab satu-satu mending aku jabarkan aja ya di blog ini.

Nah kemarin kami bertiga menggunakan travel Bayu Buana untuk ke Labuan Bajo dan Waerebo jadi kami tinggal tunggu beresnya aja dari mulai transportasi, akomodasi, dan makan selama di sana.

DSCF5041.JPG

  1. Transportasi
  • Penerbangan : karena aku start dari Balikpapan jadi aku harus ambil penerbangan ke Jakarta dulu. Waktu itu aku pakai Lion Air karena itu adalah penerbangan yang paling pagi untuk ke Jakarta yaitu pukul 06:00 WITA. Sampai pukul 07:00 WIB, ambil bagasi dan pindah ke Terminal 3 Soetta untuk penerbangan selanjutnya ke Labuan Bajo. Nah, di sini kami mengambil penerbangan Garuda Indonesia karena itu yang satu-satunya direct ke Labuan Bajo tanpa transit dulu di Bali. Pesawat GA yang kami gunakan adalah GA Explore jadi kayak pesawat perintis versinya Garuda. Perjalanan CGK – LBJ kami tempuh selama kurang lebih 2,5 jam. Nah enaknya Garuda ya selama di pesawat smooth banget gak kerasa kalau itu adalah pesawat kecil. Kalau kata Nja sih “Ini pesawat rasa bus” Hhe. Untuk harga pesawat direct pastinya lebih mahal dibandingkan kalian mengambil pesawat transit. Kisaran tiket pesawat Garuda untuk CGK-LBJ di harga normal itu sekitar 3,5 – 4 jutaan PP. Tapi kalau lagi promo kalian bisa loh dapat setengah dari itu. Contohnya kalau Garuda lagi ngadain Garuda Travel Fair, di sana kalau kalian beruntung bisa dapet tiket ke LBJ seharga 900rb-an. Nah untuk yang transit penerbangan ke LBJ bisa pakai NAM Air atau Wings Air dengan harga yang pastinya lebih murah mungkin sekitar 1-1,5 juta oneway (hmm, mahal juga sih jatuhnya).
  • Transportasi lokal : Di Labuan Bajo setau saya jarang sekali ada angkutan umum apalagi kalau penginapan kalian agak jauh dari pusat kota. Maka takkan kalian lihat satupun angkot hilir mudik. Jadi, alternatif bisa naik ojek (tapi setahuku mahal), sewa motor, atau sewa mobil (nah ini usahakan sama supirnya ya soalnya kontur jalan di sana yang berkelok-kelok, berbukit dan satu arah). Apalagi kalau kalian mau ke Waerebo dari Labuan Bajo ke sana sangatlah jauh. Kami saat itu berangkat sekitar jam 8 pagi dan baru sampai di titik awal pendakian menuju Desa Waerebo itu sore sekitar jam 4-an. Dan jalannya luar biasa berkelok-kelok dan rusak di beberapa titik. Kata teman yang kami temui di Waerebo yang pergi tanpa travel ke sana untuk penyewaan mobil dan supirnya dari Labuan Bajo ke Waerebo seharga 1 juta rupiah exclude guide ya jadi di sana bayr guide lagi. MAHAL? tapi sungguh sungguh yang kalian dapatkan lebih-lebih dari itu.
  • Kapal : ini part yang penting banget kalau kalian emang mau explore keindahan Labuan Bajo seutuhnya (duileh). Untuk penyewaan kapal kalau kalian gak pke tour biasanya biayanya 1,5-2 jutaan untuk oneday trip tergantung jenis dan besar kapalnya. Itu sudah termasuk makan siang loh. Nah untuk yang pengen sailing on board (kayak nginep di atas kapal gitu) aku kurang tau ya. Keliatannya sih seru banget soalnya kapalnya kalau aku lihat kayak kapal-kapal pinisi gitu. Duh! Tapi buat kalian yang mabok laut sangat tidak disarankan. Ohya harga kapal ini bisa sharing ya jadi kalau kalian backpack bareng 5 orang temen 1,5 juta bisa di share tuh kan lumayan. Makin banyak yang sharing sama kalian makin murah  🙂

    DSCF5272

    Di Atas Kapal

2. Akomodasi

Untuk akomodasi selama di Labuan Bajo kami menginap di Luwansa Beach Hotel and Resort. Rate di sana semalam untuk kamar superior adalah 650 – 750 ribuan tapi kalau kalian cek di traveloka atau sejenisnya pasti deh dapetnya sekitar 1 jutaan hhi (nah inilah positifnya klo pesennya udh include travel). Hotel ini merupakan hotel bintang 4, kebanyakan orang-orang dari kementrian yang sedang rapat atau kerja pasti nginep di sana (duhhh enak bener yah). Saat kami menginap di sana kami bertemu dengan rombongan dari Kementrian Pariwisata. Bahkan saat bertemu kami mereka nanya, “Mba, dari kementrian mana?” (dalam hati aminin ajadeh hhe). Overall, Luwansa bagus banget di belakang resortnya itu pantai dan restaurantnya menghadap ke pantai. Di dalam kamar disediakan berbagai macam handuk (huh tau gitu gausah bawa handuk hha), perlengkapan mandi, kamar mandi yang lumayan luas duh nih. Ya menurutku hotel ini lumayan cocok buat yang mau honeymoon #eh. Tapi dari segi pelayanan hmm di front office rada buruk sih kayak mereka masih kurang di training gitu. Kalau ditanya-tanyain masih sering bingung. Bahkan saat aku tanya kamar temanku yang lain mereka salah ngasih nomor! Padahal aku sudah ketok-ketok kamar yang mereka infokan tapi gada jawaban dan pada akhirnya aku tau kalau temanku bukan di kamar itu rrrr. Dan beberapa mba-mba nya jutek banget entah emang karena dasarnya orang-orang flores gitu jadi kesannya galak tapi sama satpam dan bellboy mereka kok ramah-ramah aja tuh. Pokoknya pelayanannya ga mencerminkan bintang 4 banget deh 😦

Kalau mau cari yang murah di Labuan Bajo banyak guest house murah kok contohnya Le Pirate (duh ini super-super rekomended deh soalnya interiornya lucu banget) harganya mulai dari 450-800 ribu tergantung jenis kamar. Nah kalau teman yang kami temui di Waerebo selama di Bajo mereka nginap di Tree Top. Ratenya 510rban untuk yang view Pelabuhan. Aksesnya katanya gampang deket kemana-mana.

Nah, untuk di Waerebo kami menginap di homestay yang memang sudah disediakan di desa tersebut dan disitu kami akan tidur dengan traveler lainnya. Biasanya 1 rumah itu bisa menampung hingga 20an orang. Nah, di sana kami meskipun cuma sehari tapi langsung udah akrab banget sama traveler lainnya, saling bertukar cerita dan pengalaman mereka traveling ke tempat lain. Di sana juga kami bertemu dengan rombongan dari Kementrian Pendidikan yang mereka lagi liburan sekaligus survey untuk program mereka berikutnya (duh naq ngets yha kerja sambil liburan yang dibayarin). Nah untuk masuk desa ini kalian harus bayar itu sudah include guide, homestay dan makan biasanya tapi aku kurang tau sih bayar berapa karena udah include semua sama paketan tour. Tapi kalau nanti dapat info dari temen aku bakalan update lagi 🙂

DSCF5740.JPG

Salah satu dari 8 rumah itu adalah tempat kami tidur 🙂

3. Makan

Nah untuk makan sudah aku bahas ya di atas kalau beberapa udah termasuk sama paketan gitu seperti saat di kapal, di Waerebo, dan di hotel (ini biasanya cover sarapan doang). Nah, klo kami itu udah termasuk di paketan Bayu Buana. Semuanya di cover kecuali di hari pertama kedatangan. Nah, untuk di hari pertama kami makan di rumah makan Bali gitu tapi menyediakan menu macam-macam. View di restaurant ini huaaa bagus banget! jadi ngadep langsung ke dermaga gitu jadi kita akan disajikan jejran kapal dan bukit-bukit di tengah lautan gitu. Untuk harga lumayan mahal sih emang, untuk makanan berat rata-rata 50 ribuan. Nah kalau malam selama di Bajo kami makan Seafood di Kampung Ujung. Di sana bejejer berbagai macam seafood seperti Kerapu, Cumi, Kakap Merah, Udang, Kepiting yang bisa kita pilih sendiri dan bisa request mau diolah seperti apa. Pokoknya disini bikin ngiler banget deh!

DSCF5048

View dari Restaurant makanan Bali

Bagi yang tanya, makanan khas Labuan Bajo apa? Di sini gak ada makanan khasnya jadi rata-rata makanannya sama aja seperti yang di luar sana. Tapi pemandangan di sana dijamin bikin kamu yang makan nasi sama garem doang pasti langsung kerasa enak!!

Dan hati-hati bagi kalian yang kesini, pasti gak mau pulang dan bapernya berhari-hari wkwkw

DSCF5371

No filter needed! Berasa kayak di zaman Purba :’)

Jadi kesimpulannya ke Labuan Bajo enaknya backpacker atau travel? Itu tergantung kalian masing 🙂 Kalau kalian punya waktu banyak backpacker di sarankan karena pasti kalian bisa explore lebih banyak lagi dengan budget yang minim. Sumpah di sana banyak banget tempat yang bagus! dan menurutku kalau kalian backpacker pasti punya banyak waktu dan kesempatan untuk mengenal dan berinteraksi dengan warga lokal. Orang-orang Bajo dan Flores ramah-ramah loh meskipun suara mereka rada keras hhi. Cuma ya di sini minim-minim nya kamu se-backpacker backpackernya kamu pasti tetap harus keluar duit lebih sih terutama di transportasi kalau makan dan akomodasi kan masih bisa diakalin cari yang murah.

Nah, buat yang punya waktu sempit sangat direkomendasikan pakai paketan travel biar ga ribet meskipun mahal. Tapi sekarang banyak loh paketan tour di luar sana yang menawarkan harga murah yang kalau di itung-itung sama aja kayak backpacker-an bahkan ada paketan yang udah include fotografer duh ini penting banget sih mengingat Labuan Bajo dan Waerebo wajib banget untuk diabadikan :’) Bahkan bidikan kamera pun ga cukup (duh kan aku baper lagi pen balik kesana).

Alternatif lain bagi kalian punya jiwa sosial tinggi bisa ikutan kegiatan volunteer yang diadakan di sana, meskipun biasanya tetap bayar tapi seenggaknya kalian bisa menikmati Labuan bajo dengan harga yang jauh lebih murah tanpa harus nunggu2 ngumpulin teman. Salah satunya adalah kegiatan 1000 Guru yang akan diadakan 28-30 Juli nanti.

DSCF5157

Bukit Cinta. Sunsetnya luar biasa banget di sini!

Selamat menikmati keindahan Labuan Bajo! Aku doain ya semoga kalian juga segera punya kesempatan untuk ke sana 🙂

 

Catatan :

 

 

Advertisements
Standard
Jakarta, Korea Selatan, Life, Travel

Day 1: Hampir Gagal ke Korea (Drama di Bandara)

Mungkin pada tanggal 17 Mei 2016 menjadi salah satu hari terlelah buatku. Bagaimana tidak, pada hari itu aku akan ada 2 penerbangan sekaligus yang jamnya lumayan berdekatan dengan durasi masing-masing 2 jam plus dengan pesawat Low Cost Carrier (LCC) pula wkwkw. Pertama adalah penerbangan dari Balikpapan (BPN) ke Jakarta (JKT) pada pukul 08.40 WITA dan akan sampai di JKT pukul 09:55 WIB (terdapat perbedaan waktu 1 jam antara BPN dan JKT).  Keberangkatan berikutnya adalah ke Kuala Lumpur (KL) pada pukul 14.45 WIB. Sambil nunggu Nisa dan Una (teman yang juga akan ke Korea) akhirnya aku sempet keliling terminal 1 A, B, dan C lalu naik shuttle bus ke Terminal 3. Beberapa jam kemudian kami bertemu di Terminal 3. Kami self check in di depan counter AirAsia. Aku dan Una cuma dapet tiket JKT-KL karena kami membeli tiket terpisah. Sedangkan Nisa langsung mendapatkan dua tiket yaitu JKT-KL dan KL-Busan karena memang saat pembelian dia langsung membeli AirAsia JKT-Busan.  Aku dan Una akhirnya baru bisa cetak tiket KL-Busan nanti saat di KL.

Penerbangan JKT-KL ini aku dapatkan cuma Rp 160.000,- lohh. Sebenernya aku bisa dapat lebih murah lagi daripada ini kalau lebih cepet booking nya. Tapi karena murah, kita gak dapet bagasi. Kami cuma dapet jatah bawaan ke kabin 7 kg dengan ukuran koper/tas  maksimal 56cm x 36 cm x 23cm. Agak deg-degan pas masuk ke gate karena takut di timbang. Tapi 2 orang temanku Hanna dan Alia yang dulu pernah pergi dengan AirAsia meyakinkan bahwa koper kita tidak akan ditimbang. Jadi kalau bawaan lebih dari 7kg tetap bisa melenggang ke dalam pesawat. Daaaan, pada saat masuk antrian masuk gate, apa yang kami khawatirkan kejadian juga. Ternyata ada random check gitu. Jadi ada mas-mas dari AirAsia yang tiba-tiba nangkring di depan gate dan ngecekin koper penumpang satu-satu untuk ditimbang. Aku, Una, dan Nisa jadi sedikit panik. Gimana gak, bawaan kita semua lebih dari 7kg hha. Aku sepanjang ngatri terus berdoa semoga masnya cepetan pergi atau Allah jadiin koperku invisible saat itu juga. Saat mendekati meja pengecekan tiket dan hampir deket dengan mas yang nimbang koper, Nisa ternyata kopernya cuma diangkat doang gak sampe ditimbang, karena diantara kita bertiga emang koper doi yang sedikit kecil, jadi tidak mencurigakan. Sedangkan Una lolos dari pengamatan masnya, jadi melenggang ke dalam gate dengan santainya (padahal dari koper kami bertiga, koper dia yang paling berat btw wkwk). Dan pada saat giliranku… Koperku diangkat oleh masnya, dan ditimbang! OMG! Sumpah saat itu deg-degannya luar biasa khawatir di suruh beli bagasi karena bawaan kabin melebihi kuota. Namun, engingeng … koperku lolos! Masih setengah nggak percaya sih. Wkwk

Oke oke, akhirnya kami terbang selama 2 jam ke KL. Sampai di KL pukul 18.00 kami langsung ke bagian transfer. Rencananya sih mau keliling KLIA2 tapi kami udah capek banget. Apalagi aku yang udah terbang dari Balikpapan. Setelah sholat magrib kami memutuskan untuk makan di Level 3 (Foodcourt area) rata-rata makanan di sana 16 RM. Gaperlu beli minum karena disana terdapat beberapa keran air minum. Lumayan hemat 3-4 RM LOL. Setelah makan kita ke Movie Lounge di Level 2. Menurutku tempat ini lumayan pewe buat tidur, ada colokan juga di sana. Banyak bule-bule tidur ngemper di lantai dekat Movie Lounge, jadi kalau mau tidur di lantai pede aja. Hihi

Setelah leha-leha akhirnya pukul 21.30 kami memutuskan ke Gates P. Kalau dari layar yang kami lihat, penerbangan ke Busan adalah Gate P10. Buset jauh juga ternyata. Nyampe-nyampe depan gate udah jam 22.00. Nah, di sini nih kita mulai celingak-celinguk. Penerbangan kami memang belum. Saat itu petugas masih sibuk memanggil penumpang dengan penerbangan ke Sydney. Kami akhirnya sedikit janggal saat menyadari tidak ada mesin Self Check in di sekitar ataupun di dalam gate!!! Makin panik pas ngeliat kok semua penumpang yang ngantri udah pada megang tiket masing-masing yaaa?! Huaaa, aku dan Una mulai panik. Mau tanya ke penumpang yang lalu lalang rada takut soalnya mereka rata-rata lagi pada buru-buru masuk ke gate P10, petugas pun begitu. Pada sibuk banget. Tapi akhirnya aku lihat bule gitu yang lagi duduk, aku tanya di mana dia nyetak tiket? Ternyata dia kasusnya sama kayak Nisa. Udah dapet tiket dari negara asalnya, jadi gak tau yang transit pada nyetak tiket di mana. Akhirnya aku dan Una cari gate lainnya yang lagi gak sibuk untuk ditanyain. Akhirnya di gate P12 ketemu petugas yang menurutku rada jutek hufft. Dia juga gak tau apa-apa dan nyuruh kami untuk ke counter AirAsia yang berada di depan pintu Transfer. Well, itu lumayan jauh btw. Hmm, akhirnya aku dan Una nitip koper kami ke Nisa. Kami melewati bagian cek bawaan (itu namanya apasih? wkwk) Mereka sempet nanya kita mau ke mana. Soalnya memang di situ gak tersedia pintu buat keluar. Kami menjelaskan kalau kami belum check in dan nyetak tiket untuk ke Busan. Kami juga sempet nanya ke mereka dan mereka menyarankan kami untuk ke counter AirAsia.

Akhirnya kami lari-lari kayak orang bego ke information center untuk memastikan. Mereka juga menyarankan untuk ke AirAsia Counter. Lari-lari cantik lagi ke counter AirAsia yang dekat gate Transfer. Saat itu udah pukul 23.00 lewat kalau gak salah. Kami ke counter dan dijutekin sama mbaknya. Busetttt! Dia sibuk main hp bokk. Terus jawab pertanyaan kita ketus banget. Gak tau apa nafas kita udah tinggal di ujung nih 😦 Dia bilang kita harus keluar imigrasi dulu buat self check in. Jadi harus keluar naik eskalator dulu. Terus aku tanya, kalau aku web check in aja gimana? Apa tetep butuh tiket yang berbentuk kertas? Dia bilang tetap perlu dengan jawaban dan muka yang ketusnya bertambah 5x lipat dengan hp yang gak lepas dari tangannya. Hufttttttt! Opsi lainnya, kita bisa ke Sama-Sama Hotel yang ada di Level 3 (deket foodcourt) tapi berbayar dan Una maupun gue gak bawa duit sama sekali. Semua dompet kita tinggal ke Nisa. Ya Allah kita mau pingsan. Akhirnya aku bilang ke Una, daripada kita ambil duit ke Gate P10 yang juga jauh terus balik lagi ke Sama-Sama Hotel yang sebenernya belum pasti apa kita bisa ngeprint apa nggak mending kita langsung aja keluar Imigrasi dan Self check in (saat itu dalam otakku dan Una, Imigrasi itu deket). Kami lari naik eskalator. Sumpah kakiku berat banget. Sesekali aku terus melihat jam. Imigrasi gak keliatan juga. Saat itu KLIA2 keliatan sepi banget. Cuma ada beberapa petugas yang kayaknya juga bersiap untuk pulang. Beberapa petugas kami tanyakan di mana mesin self check in semua menunjukkan arah ke depan, namun kami tidak tahu dimana ujungnya. Nafas una dan nafasku sudah sangat jelas terdengar tak beraturan. Aku sebenarnya juga udah pasrah kalau memang kita gagal ke Korea dan harus menghabiskan 9 hari di Kuala Lumpur karena sebentar lagi batas waktu terakhir check in 😦

Di sepanjang jalan, kami terus bertanya setiap bertemu petugas.  Saat bertanya juga omongan kami mulai gak jelas, percampuran antara capek, kaki sakit, sedikit panik dan bingung. Petugas yang kami tanya juga selalu menjawab pertanyaan kami sekenanya sambil menunjuk ke depan dan bilang “Exit”. Lah ini kita udah lari dari tadi dimana exit nya deh :(. Setelah lari lumayan jauh akhirnya kami melihat kantor AirAsia, aku masuk dan bertanya dimana bisa cetak tiket. Tau gak, petugasnya cuma bilang, “Bukan di sini” What? Gitu doang jawabnya? Aku dan Una akhirnya keluar kantor tersebut. Sedikit kebingungan dan akhirnya ada mas-mas dari AirAsia yang liat kita kebingungan di luar terus nyamperin dan ngasih arahan di mana imigrasi. Setalah bilang makasih, kita lari lagi kayak Bolt wkwkw. Akhirnya kita lihat gate imigrasi. Huft akhirnyaa. Udah sepi banget. Pas jari telunjukku di scan, tanganku bergetar saking capeknya lari sehingga beberapa kali disuruh beberapa kali ngulang nempelin jari telunjuk. Keluar dari gate imigrasi akhirnya kita liat mesin self check in. Huaaaa, tuh mesin udah kayak berlian. Bersinar-sinar di mataku, pengen banget dipeluk hhu. Pas banget kita sampai 1 jam 15 menit sebelum flight, yang berarti udah jam 00.00 (Close Gate 00.45) bokk. Aku dan Una berarti tadi lari-lari kayak orang gila selama 1 jam. Gilaaak, selama ini gak pernah sama sekali olahraga dan sekarang disuruh lari 1 jam itu rasanya … hhu.

Setelah check in akhirnya aku dan Una lari lagi menuju gate P10. Pas masuk ke imigrasi lagi buat dapetin cap keluar Malaysia, aku dilayanin mbak-mbak gitu. Buset lagi-lagi aku dijutekin, hufft kenapa sih seluruh KLIA2 kayaknya pada jutek amat. Pengaruh udah malem apa ya. Terus tuh mbak mbak sambil chat masaaa. Terus dia ketawa-ketawa sendiri gitu sambil ngeliatin terus layar HP nya. Pas bagian scan jari telunjuk tanganku masih agak bergetar efek lari. Jadi berkali-kali di suruh ulang scan. Aku juga akhirnya jadi gak sabar. Dia juga sibuk banget sama HPnya ihhh. Terus dia bilang, “Tangannya tolong ditempelin yaaa. Jangan di lepas-lepas! Mau pulang nggak?” (dengan bahasa Malay) Grrrr, kalau aku lagi gak buru-buru, aku jawab juga nih doi. Sumpah sebel banget, aku cuma diam aja sambil menggerutu dalam hati. Hhuhu. Keluar dari imigrasi akhirnya aku lari bareng Una. Nyampe gate P10 aku sama Una minum sepuasnya. Bahkan orang yang bagian cek barang udah hapal muka kita dan nanya, “Gimana? Udah dapat tiket?” Huhu, udaaah Pak Cik udaaaah. Sambil nangis darah. Gak lama setelah itu akhirnya open gate, dan kita duduk udah kayak orang teller. Nafas udah gak beraturan.

Sumpah ini pengalaman banget sih. Aku jadi tau banget kalau connecting flight LCC (kalau kalian beli tiketnya terpisah) tuh ternyata harus keluar dulu lewatin imigrasi karena tempat cetak tiket ada di bagian luar. Jadi jangan langsung masuk Transfer yaa. Atau kalau kalian males keluar imigrasi, cara lainnya adalah ke Sama-Sama Hotel yang ada di Level 3 (tapi aku belum pernah). Setelah kejadian ini akhirnya kami menyadari bahwa KLIA2 itu luas banget, tidak hanya sebatas Gates P dan Q. Selain itu aku ngerasa kayaknya kita emang disuruh latihan sama Allah, karena ternyata selama di Korea Selatan kita banyak banget jalan dan lari, jadi kaki (agak) sedikit kebal. Hiyeeeey!

Standard
Balikpapan, Jakarta, Korea Selatan, Life, Travel

Day 1 : Hampir Gagal ke Korea (Tiket yang Gak Keluar)

Aku yang berada di Balikpapan (BPN) dan tiket penerbanganku yang start dari Jakarta (JKT) membuatku harus membeli tiket pp BPN – JKT lagi. Penerbanganku ke Kuala Lumpur (KL) adalah pada tanggal 17 Mei 2017, awalnya pengen main ke JKT dulu jadi pengen ambil keberangkatan pagi dari JKT tanggal 16 Mei 2016. Tapi karena galau membeli tiket kapan akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiket ke Jakarta H-3 JAM wkwk pada tanggal 16 Mei 2016. Tergiur dengan harga tiket murah akhirnya aku membeli tiket di Reservasi.com. Setelah melakukan pesanan untuk tiket pulang pergi beberapa menit kemudian pihak Reservasi.com hanya memberikanku tiket JKT-BPN (Citilink) sedangkan tiket BPN-JKT (Sriwijaya Air) belum ada sama sekali.

Aku mencoba menelpon Reservasi.com ternyata customer service mereka baru beroprasi pukul 08.00 pagi waktu Jakarta. Itu berarti jam 09.00 pagi waktu Balikpapan hufft. Sedangkan tiket yang belum keluar itu adalah tiket untuk penerbangan jam 9.45 di hari itu juga. Sedikit panik sih akhirnya aku memutuskan untuk menelpon pihak Sriwijaya Air untuk memastikan apakah namaku sudah tercantum atau belum dalam sistem mereka. Saat aku telepon Alhamdulillah customer service mereka beroprasi dan saat aku tanyakan apakah namaku sudah terdaftar dalam penerbangan pukul 09.45 WIB mereka mengatakan bahwa namaku belum terdaftar. Mendengar jawaban tersebut akhirnya aku sedikit lega. Berarti aku tidak perlu terburu-buru ke bandara saat itu juga. Namun, kesal juga kenapa kok bisa tiketku tidak keluar padahal aku melakukan pembayaran pada waktu yang hampir bersamaan dengan tiket JKT-BPN. Berarti memang fix, pihak Reservasi.com belum memesankan tiket untukku pagi ini. Akupun menunggu hingga pukul 09.00 WITA sampai CS Reservasi.com buka.

Pada akhirnya aku telepon mereka dan ada yang mengangkat teleponku. Aku meluapkan semua keluhan dan mempertanyakan mengapa tiketku belum keluar juga. Mereka lalu meyuruhku mengirimkan bukti pembayaran ke email mereka dan mereka berjanji akan memberikan kabar secepatnya setelah menerima email dariku. Tidak lama kemudian mereka menelponku lagi dan memohon maaf bahwa benar tiketku memang belum keluar padahal uangku telah terdaftar dalam catatan mereka. Kesel dong! Dan mereka menawarkan untuk memesankan tiket saat itu juga. What! Ini tinggal 30 menit lagi dan aku belum ngapa-ngapain. Belum lagi check in. Gak bakal sempat lah yaa. Akhirnya aku minta mereka me-reschedule tiketku dengan jam yang sama namun hari yang berbeda yaitu besok, karena saat aku lihat ternyata harganya sama saja bahkan lebih murah dari yang aku bayarkan.  Tapi mereka gak mau hhu. Katanya sesuai prosedur perusahaan harus refund. Oke, bagus klo refund. Aku juga butuh uangnya segera. Akhirnya gue lega dong dan nunggu duit gue di refund. Mungkin beberapa jam lagi duitku bakal balik, pikirku.

Tapi setelah beberapa lama kemudian, khawatir tiket melambung naik dan aku butuh banget penerbangan besok pagi akhirnya aku menelpon pihak Reservasi.com untuk menanyakan jam berapa kira-kira duitku bisa di refund. Namun, saat aku menelpon mereka jawaban yang aku dapatkan sungguh mengecewakan. Sebelumnya mba-mba yang ngomong pertama kali denganku mengatakan bahwa proses refund akan diusahakan secepatnya bahkan bisa hari itu juga karena hal tersebut merupakan kesalahan dari pihak Reservasi.com. Namun kali ini mereka membalas bahwa proses refund membutuhkan waktu 30 HARI KERJA atau paling cepat 15 HARI KERJA. Aku benar-benar kesal, tapi mau gimana lagi, ngomel-ngomel sampe bibir doer ke mereka juga gak akan ada gunanya kan. Hufft akhirnya aku beli tiket baru lagi dengan uang yang baru 😦 . Masih trauma dengan pembelian online, takut tiket gak keluar lagi akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiket di travel dekat rumah. Alhamdulillah dapat harga yang gak jauh beda, cuma beda 10rb. Huff, tau gitu beli disini aja. Daripada tiketku gak keluar sama sekali yang akhirnya berujung duit 606 ribu ku ilang dan di refund entah kapan 😦

Pokoknya kalau 15 hari kerja mereka belum transfer juga, bakal aku teror lagi. Huhu duit segitu kan gak sedikit huffft. Saat itu sumpah aku takut banget gak dapet tiket ke JKT besok pagi karena penerbangan dari JKT ke KL juga besok tapi di siang harinya.

So guys, pelajaran yang bisa diambil adalah jangan cepat tergiur dengan tiket-tiket murah dari web yang belum tentu terpercaya ya. Apalagi bedanya gak jauh. Ohya dan satu lagi! Jangan beli tiket dadakan hhi.

Happy Traveling!

Standard
Campuslife, How to, Jakarta, Travel

Mengutuk hidup deadliner (1)

54241950

Selama ini aku memang terkenal paling deadliner di kampus bahkan terkenal sebagai salah satu mahasiswi yang suka banget telat masuk kelas. Jantungku mungkin sekarang sudah terbiasa diajak berpacu cepat di waktu-waktu tertentu. Tapi sebenarnya lebih sering diajak untuk hibernasi.

Oke, dampak dari jadi seorang deadliner akhirnya sangat terasa dua hari kemarin. Bukan cuma jantung, kaki pun yang selama ini jarang diajak untuk lari, saat itu aku paksa berlari kencang dan benar-benar lemas saat di akhir.

Jadi ceritanya, pada hari Senin 14 Desember 2015 adalah deadline pengumpulan Jurnal untuk kelulusan. Di hari yang sama jam 12 siang aku akan ada jadwal keberangkatan dengan kereta ke Surabaya. Jadi aku akan mengikuti  acara semacam konferensi yang diadakan oleh Bank Indonesia di Universitas Airlangga dan aku bakalan di Surabaya sehari doang. Tanggal 15 malem aku harus balik lagi ke Jakarta karena jam 8 pagi akan ada presentasi untuk UAS.(Padat merayap)

Fyi, harga tiket kereta ke Surabaya ini adalah 240 ribu karena aku beli baru di H minus beberapa jam ((hidup seorang deadliner)). Jadi, yang seharusnya aku bisa dapat harga tiket 90 ribu tapi karena semuanya habis akhirnya aku beli yang harganya 240 ribu. Aku gak mau rugi , jadi dalam hati aku bertekat GAK BOLEH TELAT! Karena takut ketinggalan kereta yang mahal itu 😦 maka aku susun jadwal sedemikian rupa malam harinya. Begini

01.00-04.00 : Bangun, beresin jurnal. | 04.00-05.00: Packing dan Sholat| 06.00-07.00: Mandi dan siap-siap | 07.30-08.00: Ngeprint dan berangkat ke kampus| 09.00: Ngumpulin jurnal| 10.00: ke Stasiun UI menuju Pasar Senen.

Kata temanku minimal banget ke Pasar Senen dari Stasiun UI adalah 2 jam sebelum jadwal keberangkatan. Jadi menurutku jam 10 dari UI sudah sangat pas dan jangan lebih dari itu.

TAPI KENYATAANNYA!baby-n-shock

01.00-04.00: TIDUR | 05.00: Bangun dan kelabakan luar biasa karena jurnal belum selesai dan harus aku kumpulkan jam 09.00| 09.00: Jurnal baru beres dan aku baru inget BELUM PACKING! | 09.02-09.30: Packing seadanya dan mandi| 10.00: Ngprint dan baru beres ngeprint 15 menit setelahnya| 10.20: Nyampe G.Kom aku langsung ngumpulin semua berkas yang diminta, tapi petugas G.Kom minta filenya DIJILID DULU dan saat itu udah jam 10.25. Aku langsung lari ke tempat fotocopy. Selesai. Tapi waktu udah nunjukin jam 11 kurang. Akhirnya aku lari sekencang mungkin ke stasiun, aku beli tujuan ke Gondangdia nanti langsung lanjut Gojek soalnya waktu itu pernah ke Senen dengan Anadia lewat Gondangdia dan lumayan cepet. TAPI MASALAHNYA INI SUDAH HAMPIR JAM 11. Bodo amat akhirnya aku masuk ke stasiun UI dan jeng jeng rame banget, firasat udah gak enak.

Aku tanya mba-mba di samping, kata dia kayaknya ada kerusakan, dari tadi belum ada kereta yang lewat. Kaki bener-bener lemas. Pasrah kalau misalnya harus ketinggalan kereta dan harus beli lagi. Pasrah.((Saat itu juga uang di ATMku pas-pasan banget))

5 menit kemudian ada pengumuman kereta akan memasuki Stasiun UI, tapi kereta arah Jatinegara. Tiketku seharusnya naik arah Jakarta Kota. Ada pengumuman lagi dan bilang yang ke arah Jakarta Kota masih di Stasiun Cilebut (jauh dari st.UI). OMG kalo aku nunggu lagi, jam berapa nyampenya! Akhirnya aku memutuskan naik yang arah Jatinegara karena emang udah jam 11. Aku memutuskan turun di Manggarai, emang gabisa lebih dari Manggarai karena tiket keretaku sebenarnya harus turun di Gondangdia. Kata temenku yang aku chat di WA, sebenernya bisa naik arah Jatinegara tapi keretanya tunggu muter dulu dan senernya itu gak mungkin aku lakukan karena tiketku sebenernya rute Jakarta Kota. Aku langsung search berapa lama yang dibutuhkan dari Manggarai ke Senen di Google Maps, dan nunjukin kalau butuh 24-28 menit dengan traffic yang normal. Nunjukin normal loh ya bukan lancar. Normalnya Jakarta kalian tau lah gimana 😦 Cuma bisa meringis, sempat gak ya.

Sampai di manggarai udah jam 11.25, aku langsung naik Gojek. Dan bilang ke Bapaknya supaya pake kecepatan penuh :'(. Sumpah kaki udah lemes banget. Bapaknya juga udah ngebut parah, nyelip-nyelip, jalanan memang gak macet, tapi lumayan padat, jadi gak bisa ngebut maksimal. Bener-bener pasrah sambil terus ngeliatin Google Maps.

Daaaaaaan akhirnyaaaa,

 

Aku bisa sampai di Stasiun pukul 11.50. Setelah bilang makasih ke bapaknya, tanpa ba bi bu aku langsung lari ke dalem buat NYETAK TIKET dulu 😦 , untungnya gak ngantri. Pkl 11.55 aku masuk ke tempat keberangkatan dan bersamaan keretanya datang. Kaki lemas, nafas udah gak karuan, pengen pingsan. Tepat pkl 12.00 aku duduk di kursi kereta dengan nyaman dan 4 menit kemudian kereta berangkat. Jangan tanya, muka udah gak karuan pucetnya. Begitulah hidup seorang deadliner…

Terus gimana cerita kepulangan dari Surabaya-Jakarta? LEBIH PARAH! Tunggu ya cerita selanjutnya 😥

 

 

Standard
How to, Jakarta, Travel

Cara ke Lippo Mall Kemang

Waktu itu kesini (Lippo Mall Kemang) karena pengen banget datang ke Organic Market yang diadain sama Komunitas Organik Indonesia. Mungkin kalian yang pengen atau penasaran banget sama Lippo Mall Kemang dan bingung gimana caranya kalau naik angkotan umum kesana, simak ya 🙂

Pertama, dari Stasiun UI aku naik kereta jurusan apa saja, turun di Tanjung Barat. Kedua, lanjut nungguin Kopaja 63 di depan Stasiun Tanjung Barat. Waktu itu aku nunggu kopajanya lumayan lama, pas nanya ke bapak-bapak yang duduk disebelah, dia bilang emang ga banyak kopaja 63 yang lewat. Terakhir, setelah naik kopaja jangan lupa bilang ke abang kenek kopaja kalau kamu mau turun di Lippo Mall/Kemang Village.

Nah, setelah sampai jangan kaget ya kalau menurutku Lippo Mall ga ramah pejalan kaki banget 😥 Selain masuknya agak jauh (emang bagusnya pake mobil), bagi kalian yang jalan kaki atau naik motor akan disuruh lewat jalur bawah huhu. Pokoknya ngelewatin parkiran karyawan gitu-gitu deh. Lumayan banget jalannya. Gak recomended banget deh bagi kalian yang pengen nongki-nongki cantik ke sini tapi ga bawa mobil. Adanya kalian bakalan cape duluan jalan masuk ke mallnya 😦

Standard