Posted in Korea Selatan, Life, Travel

Gwangjang Market: Jadi Korban Media

Pagi itu sebelum berangkat ke kampus selalu kusempatkan sekian menit untuk menatap tv di kosanku. Sekedar melihat berita terbaru yang mungkin bisa saja dibahas di kelas. Nah, saat itu seorang presenter bercuap-cuap dengan penuh makanan di mulutnya yang sebenarnya perlu dikunyah dan ditelan terlebih dulu melalui tenggorokannya. Tapi ia tak peduli dan terus memberikan informasi betapa nikmatnya makanan yang tengah ia kunyah saat itu. Presenter tersebut sedang berada di Seoul, tepatnya di Gwangjang Market. Saat liputan itu di sana masih sangat pagi, lebih mirip pasar pagi di jakarta yang menjajakan berbagai macam jajanan pasar. Sambil kutelan air liurku kutatap terus presenter yang sambil memberikan informasi sambil memasukkan suapan demi suapan bubur hangat khas Korea ( Hobakjuk, klo gasalah) ke dalam mulutnya. “Wah, pokoknya klo aku ke Korea aku akan pasar ini!” ucapku dalam hati. Sesekali sorotan kamera menunjukkan hidangan yang dijajakan penjual, sungguh menggugah selera. “Pasti perutku akan di manjakan di sana”, “Hmm, pasti makanannya enak-enak ga seperti makanan Korea ala-ala di Indonesia”. Lalu berakhirlah liputan sang reporter di Gwangjang pagi itu dan ku sadari juga kalau aku sudah hampir telat masuk kelas (ini hampir tiap hari sih btw wkwkw).

Nah, saat memiliki kesempatan untuk pergi ke Korea, mengunjungi Gwangjang Market menjadi top listku saat itu. Wajah sang reporter yang saat itu yang tengah menikmat kuliner khas korea terngiang-ngiang. Jadi, setelah kami mengunjungi Bukchon akhirnya kami menuju Gwangjang Market. Fix yang kita kira itu lumayan deket, ternyata jauhnya naudzubillah, meskipun aku cuma pakai flatshoes tapi kaki tetap sakit banget (tips kalau kalian ke korea di musim semi atau panas mending bawa sendal jepit, its really helpful), sesekali aku buka sepatu dan kakiku ternyata sudah merah-merah hha. Setalah jalan lama banget akhirnya sampai ke Gwangjang Market, pasarnya mirip sih kayak pasar pada umumnya di Indonesia cuma ya jauh lebih bersih. Saat masuk kami disambut dengan beberapa penjual baju dan pernak-pernik. Una dan Nisa sempat mampir untuk beli beberapa. Selesai belanja akhirnya kami masuk lagi ke dalam. Wangi makanan mulai tercium, wangi Soju tak kalah menyeruak.

IMG_5910

IMG_5913

IMG_5911

Ya benar adanya, seisi pasar itu memang di dominasi oleh penjaja makanan. Mayoritas pembeli adalah penduduk lokal. Sepertinya hanya kami bertiga yang merupakan turis pada siang itu. Hmm, tapi yang aku ekspektasikan  dengan kenyataannya sungguh jauh berbeda. Saat di TV tak ada terlihat babi terpajang di meja-meja penjual, tak terlihat botol-botol soju yang berjejer sebagai pendamping makanan. Namun ternyata yang aku lihat sungguh berbeda. Di setiap meja-meja penjual terpajang daging babi yang sudah dimasak namun masih terlihat sedikit darah segarnya, kepala babi yang tersaji di kuwali-kuwali panas mereka dan cincangan daging yang dimasukkan ke dalam (semacam) usus (yang aku yakin pasti itu daging dan usus babi!). Saat itu kami langsung gak sanggup liat kepala babi (hhu, sayangnya aku ga berani foto) di mana-mana udah eneg aja gitu dan menjaga juga sih takutnya makanan yang lain meskipun non-babi tapi dimasak menggunakan alat masak yang sama. Kami langsung gak selera untuk mencari bubur dan jajanan lain yang kulihat dikunyah sang presenter beberapa bulan lalu di pasar ini. Belum lagi bau soju yang menurutku cukup tajam, dan di pasar itu  begitu dipenuhi dengan penduduk lokal yang sepertinya mulai menyadari adanya hijabers lagi keliling-keliling pasar kayak orang bego hha. Kami pun memutuskan untuk keluar pasar dengan tidak membeli makanan apa-apa kecuali Nisa yang membeli Sikhye. Ohya bagi yang ingin mencoba kimchi dari berbagai macam olahan sayur mungkin Gwangjang bisa menjadi pilihan yang tepat, karena aku bukan pencinta Kimchi jadi liatnya ya biasa aja hhe. Ohya dan menurutku bagi kalian yang non-muslim Gwangjang patut dikunjungi karena ya itu, merupakan surga makanan dengan olahan babi :”))

IMG_5912

IMG_5914

IMG_5908

IMG_5907

IMG_5909

Lumayan sedih sih, udah jalan berkilo-kilo wkwkw terus ga jadi makan di sana. Ujung-ujungnya makan di convenience store juga hha. Jadi judul hari itu adalah Aul si Korban Media.

IMG_5919
Sikhye yang di beli Nisa
Posted in Korea Selatan, Life, Travel

Hati-Hati dalam Berprasangka, Hati-Hati jika Nantinya Berujung Cinta :p

Prasangka Sebelumnya …

IMG_5421
Gamcheon Culture Village

Aku memang bukan pecinta Kpop, suka beberapa drama Korea tapi jarang hapal pemain atau judul-judulnya kecuali Full House dan Boys Before Flower :’). Keinginan untuk ke Korea memang didasari keinginan untuk traveling ke tempat yang jauh dan yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Hal tesebut kemudian di dukung oleh tiket mureee ke Korea. Aku dan Una bener-bener random langsung beli hari itu juga wkwk

Aku juga tidak pernah berekspektasi bisa melihat keramahan orang-orang di sana. Aku sudah kenyang liat anak BIPA UI! Wkwk pikirku saat itu. (apa itu BIPA? cek di sini) Yap, aku sebenernya punya trauma tersendiri terhadap orang Korea :p Dulu aku dan teman-teman sekelompok salah satu mata kuliah penelitian di UI mengambil topik mengenai BIPA yang sebenarnya didominasi oleh mahasiswa dari Korea Selatan. Awalnya seneng. Wah lumayan akhirnya penelitian ini bisa jadi cara buat lebih kenal mereka. Tapi saat aku melakukan penelitian ke lapangan, hmm beberapa kali kami mendapatkan penolakan dan perlakuan yang tidak mengenakkan dari beberapa orang. Syumpaaah. Beberapa ada yang rese’ banget, ada juga yang jutek, atau pura-pura gak ngeliat dan ngedenger kita wkwkw. Bahkan ada nih yang aku wawancarain, hmm emang sih mukanya rada cakep. Cakep banget malah, kayak Lee Min Ho, tapi ternyata juteknya sama banget kayak karakter Gu Jun Pyo yang harus diperankan Lee Min Ho di drama BBF 😦 Aku waktu itu nanya untuk penelitian, “Pengen gak kenalan dan kemudian menjalin hubungan pertemanan dengan orang Indonesia?” Aku yang saat itu masih terkagum-kagum sama wajahnya langsung mau muntah denger jawabannya wkwk. Dia ngejawab kayak gak ada dosa, “Menurutku gak penting sih, toh aku juga nantinya akan kembali ke Korea dan bekerja di sana sehingga aku lebih memilih berteman dengan sesama orang Korea. Jadi gak akan ada gunanya jika aku menjalin pertemanan di sini.” What! Lahhh, terus lu ngapain belajar bahasa Indonesia di sini? Kocak. Dia kok jujur banget… pernah juga nih, baru aja kita mau ngasih kuesioner (saat itu kita megang banyak banget kuesioner) karena udah gak sabaran,  eh tiba-tiba kuesioner kita diambil dengan kasar 😦 jadi kesannya kayak “Duh, lu buruan kek!”

Rata-rata mahasiswa Korea yang belajar di BIPA juga kalau jalan selalu bergerombol. Bener-bener kayak ngebuat benteng dengan orang lokal. Beberapa kali kami juga akhirnya jadi malu-malu saat akan mendekati mereka untuk memberikan kuesioner saat melihat jumlah mereka jauh lebih besar dari kami (duh, emangnya mau berantem, ul?) pokoknya mereka grouping parah deh, sibuk sama dunia mereka sendiri wkwk. Dan ternyata tau dari Jieun, katanya kalau rata-rata orang Korea emang gitu.

Nah ini timpang banget pas kita mau wawancara mahasiswa BIPA dari Jepang. Mahasiswa Jepang rata-rata kalau jalan ya sendiri-sendiri jadi enak buat kami keroyokin untuk ngisi kuesioner hha.  Mahasiswa Jepang rata-rata pada adem-adem banget. Mereka kalau kita tegor ngebungkukin badan mulu wkwk. Bahkan beberapa dari mereka masih berhubungan baik dengan kami sampai saat ini meskipun udah di negaranya masing-masing. Mereka juga bahasa Indonesia nya rata-rata udah bagus. Terus kalau ngomong lembut dan pelan-pelan banget hha. Nah, mungkin karena kami ngeliat perbedaan yang timpang ini makanya kami jadi membanding-bandingkan kedua negara yang bertetangga tersebut. Daaan akhirnya penilaian mengenai orang Korea dan orang Jepang hanya sebatas dari mahasiswa BIPA ini. Jadi, semenjak saat itu aku gak begitu suka orang Korea nih. Yaudah kalau kenalan sekedar kenalan aja, gak pernah berharap akan bisa berteman dengan mereka. Ohya, tapi aku punya pengecualian untuk dua orang temanku yang juga dari Korea, dia menurutku memang berbeda dengan anak-anak BIPA, dia lebih suka berbaur dengan mahasiswa Indonesia. Tapi emang dasarnya dia program exchange sih jadi rada beda.

Setelah sampai di Korea …

Nah, pas di sana aku benar-benar gak ada expect mereka bakalan ramah. Hmm, di Indonesia aja kelakuan mereka udah begitu apalagi kalau aku yang cuma seupil ini ada di negara mereka. Pasti cuek parah sih atau bisa aja aku dijutekin. Menurutku mungkin mereka sama saja seperti orang yang aku wawancarai di UI waktu itu, yang gak akan mau berhubungan dengan kami karena tidak ada gunanya. Hahah! Pokoknya dulu aku prasangkanya udah buruk banget deh. Haha!

Tapi kenyataannya gak, aku bertubi-tubi mendapatkan perlakuan yang jaaaaauuuuuuuuuuuuh sangat baik dari apa yang aku prasangkakan selama ini. Mereka ternyata sangat ramah dan penolong. Beberapa kali kebingungan arah saat bertanya kepada mereka, mereka selalu menjawab dengan sopan dan mencoba membantu semaksimal mungkin. Bahkan beberapa kali saat mereka melihat kami bingung tanpa kami tanya pun mereka menghampiri kami dan menunjukkan arah jalan dengan bahasa Inggris mereka yang terbata-bata atau bahkan dengan bahasa Korea yang masih bisa dimengerti sedikit oleh Una dan Nisa. Kami saat itu hanya bisa mengucapkan Kamsahamnida berkali-kali.

Pernah juga saat kami baru sampai di Seoul Express Bus Terminal, kami kebingungan dengan jalur subway Seoul yang ribet banget akhirnya aku bertanya dengan seorang yang sepertinya masih seumuran dengan kami. Aku bertanya jalur berapa jika kami ingin ke Seonbawi? Dia saat itu dengan ramah menjelaskan ke mana kami harus pergi. Selesai menjelaskan, akhirnya kami berpisah karena memang berbeda arah. Setelah jauh kami jalan sesuai dengan apa yang ia jelaskan, tiba-tiba dengan nafas terengah-engah ada seseorang yang menghampiri kami. Ternyata orang itu adalah orang yang tadi kami tanyai arah. Dia meminta maaf kepada kami karena telah menunjukkan arah yang salah. Sebelumnya dia mengatakan kami harus ke jalur 9, namun ia akhirnya baru tersadar saat telah jauh berpisah dengan kami sehingga ia kembali lagi dan mengejar kami demi memberitahu bahwa jalur yang benar adalah jalur 7 bukan jalur 9. Huuuu, kami terharu banget dia mau jauh-jauh mengejar kami dan memberitahukan jalur yang benar. Saat itu kedaan stasiun subway sangat ramai, semua orang terlihat terburu-buru karena memang sedang rush hour. Kami yakin ia juga sudah berjalan sangat jauh namun tetap mau bela-belain mengejar kami untuk meralat apa yang ia infokan sebelumnya. Padahal kalau dia cuek dia sebenernya bisa aja jalan terus. Hha

Oke, di hari pertama di Seoul saja kami udah ditolong. Pada hari-hari berikutnya banyak banget yang menolong kami, menyapa kami, tidak ada sombong sama sekali seperti apa yang aku prasangkakan selama ini. Aku berkali-kali mengalami eror pada T-Money ku yang menyebabkan aku tidak bisa keluar. Sempat kebingungan saat itu (di subway jarang banget ada satpam. Bahkan aku gak pernah liat, mungkin karena udah aman kali ya. Beda dengan di stasiun KRL di Jakarta) kemudian seorang ibu-ibu menunjukkan cara agar aku bisa keluar meskipun T-Money ku eror, tanpa harus membeli T-Money baru lagi! Hal ini tidak hanya terjadi 1 2 kali aja loh, sering juga ditolongin bapak-bapak saat T-Money ku eror lagi dan aku panik wkwk. Jadi kalau T-Money kalian juga eror, pencet aja tombol merah yang ada di pojokan, nanti pagar kecil (semacam pintu darurat) yang awalnya terkunci akan terbuka, sehingga kita bisa keluar tanpa tap card. Coba apa jadinya kalau ada pintu seperti itu di KRL Jakarta terus gak ada satpam yang jaga. Hmm! Pernah juga saat akan masuk ke apartemen Jieun, karena kami tidak memiliki key card buat buka pintu lobby, seseorang yang melihat kami sedang kebingungan di luar mengeluarkan key cardnya dan men-tap card tersebut sehingga kami bisa masuk ke lobby.

Aku juga pernah tiba-tiba disamperin ibu-ibu pas lagi duduk sendirian dan aku dikasih lucky clove :3 huaaa so sweet banget deh orang-orang Korea ini. Pernah juga seorang anak kecil menghampiri kami setelah dibisiki oleh ayahnya dan mengatakan “Welcome to Korea”. Huaaaaa, pengen banget nyubit pipi nya uwuuuw! Ohya selama di Korea kami seringkali di kira dari India. Lah India dari mananyee. Kayaknya mereka mikir kalau dari Asia selain China dan Arab ya India wkwk. Atau mungkin perkiraan yang sedikit dekat adalah mereka mengira kami dari Malaysia. Yaa, lumayan mirip lah. Pernah juga seorang ibu-ibu yang melihatku asing di dalam subway menanyakan dari mana aku berasal, saat aku jawab dari Indonesia dia bilang dia suka dengan keindahan pantai Indonesia. Terus bertanya tentang jilbabku, panas gak pake jilbab?, dan juga tentang Islam. Pada saat ia mau turun dia juga bilang bahasa inggris ku bagus. Lah bagus dari mane, amburegul bahreway bahrewey gini buk -_-

Nah pada puncaknya aku ditolong pas hari terakhir di Seoul. Saat itu aku lumayan keberatan ngangkat-ngangkat koper. Belum lagi kami harus terburu-buru menuju bandara. Turun dari bus dan saat akan menyambung subway, tiba-tiba koperku diangkatin oleh seorang bapak-bapak. Agak kaget juga, soalnya tuh bapak-bapak mendadak banget langsung ngangkatin koperku. Kya kyaaaa akhirnya aku gak perlu naik turun tangga nenteng-nenteng koper.

Ternyata apa yang aku sangkakan selama ini tidaklah benar. Mungkin ini tujuan Allah memberikanku kesempatan untuk bisa menjelajahi Korea Selatan, agar aku sadar bahwa di Korea masih banyak orang-orang baik. Tidak seperti apa yang aku prasangka kan selama ini. Seseorang di Backpacker Dunia pernah berkata bahwa sebenarnya di dunia ini dipenuhi oleh orang-orang baik, sedangkan orang-orang jahat hanya nyempil-nyempil diantaranya. Aku akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa saat kita diperlakukan tidak baik oleh suatu kaum belum tentu seluruh kaum tersebut tidak baik. Bisa saja yang memperlakukan kita dengan tidak baik tersebut hanyalah oknum-oknum yang sedang mencari perhatian :p. Thankyou Korea, ahh aku benar-benar jatuh cinta dengan kebaikan orang-orang Korea 😀

Ohya kebaikan orang-orang di atas belum termasuk dengan kebaikan dari Jieun dan keluarga nya yang mau menampung kami selama di Seoul. Aku tahu Jieun selama ini jika tidak ada kelas pagi pasti bangun siang. Namun, saat kami ada di sana ia selalu bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk kami :’) Saat kami pulang malam pun meskipun kami sudah makan kami masih diberikan cemilan-cemilan kecil. Ibu Jieun yang meskipun tak bisa berbahasa Indonesia dan Inggris selalu tersenyum pada kami. Bahkan membantu mencucikan baju kami 😦 uhhh, aku benar-benar tidak enak saat itu. Saat kami pulang jalan, tiba-tiba baju kotor kami yang ada di keranjang udah bersih dan wangi 😦 padahal selama di Indonesia aku merasa belum melakukan apa-apa untuk Jieun :’)

Ohya, di sana kami juga punya adik kelas di UI yang sedang student exchange di Korea. Dia juga baiknya minta ampun. Mau nemenin kita halan-halan ditengah kesibukan kuliah dan internship nya. Bahkan kami beberapa kali dibelikan Kimbab hha. Dasar, kakak kelas tak berguna! Seharusnya kami yang meneraktir dia yaaa sebagai anak kuliahan dan anak kosan. Wkwkw maafkan kakak-kakakmu yang kere ini ya >.<

Terima Kasih ya Allah, kau ciptakan kami semua bersaudara sesama manusia. Terima kasih telah menamkan rasa cinta dan kasih pada hati-hati kami 🙂

Hal ini kemudian yang menjadikanku semakin menyukai traveling ke tempat-tempat yang sama sekali asing bagiku. Ahhh, terima kasih Korea!

IMG_5664
Gwanghwamun Square

Happy Traveling!

Nur Aulia

Instagram : @nuraulia25

Twitter : @nurauliaaa

Facebook: Nur Aulia

Posted in Jakarta, Korea Selatan, Life, Travel

Day 1: Hampir Gagal ke Korea (Drama di Bandara)

Mungkin pada tanggal 17 Mei 2016 menjadi salah satu hari terlelah buatku. Bagaimana tidak, pada hari itu aku akan ada 2 penerbangan sekaligus yang jamnya lumayan berdekatan dengan durasi masing-masing 2 jam plus dengan pesawat Low Cost Carrier (LCC) pula wkwkw. Pertama adalah penerbangan dari Balikpapan (BPN) ke Jakarta (JKT) pada pukul 08.40 WITA dan akan sampai di JKT pukul 09:55 WIB (terdapat perbedaan waktu 1 jam antara BPN dan JKT).  Keberangkatan berikutnya adalah ke Kuala Lumpur (KL) pada pukul 14.45 WIB. Sambil nunggu Nisa dan Una (teman yang juga akan ke Korea) akhirnya aku sempet keliling terminal 1 A, B, dan C lalu naik shuttle bus ke Terminal 3. Beberapa jam kemudian kami bertemu di Terminal 3. Kami self check in di depan counter AirAsia. Aku dan Una cuma dapet tiket JKT-KL karena kami membeli tiket terpisah. Sedangkan Nisa langsung mendapatkan dua tiket yaitu JKT-KL dan KL-Busan karena memang saat pembelian dia langsung membeli AirAsia JKT-Busan.  Aku dan Una akhirnya baru bisa cetak tiket KL-Busan nanti saat di KL.

Penerbangan JKT-KL ini aku dapatkan cuma Rp 160.000,- lohh. Sebenernya aku bisa dapat lebih murah lagi daripada ini kalau lebih cepet booking nya. Tapi karena murah, kita gak dapet bagasi. Kami cuma dapet jatah bawaan ke kabin 7 kg dengan ukuran koper/tas  maksimal 56cm x 36 cm x 23cm. Agak deg-degan pas masuk ke gate karena takut di timbang. Tapi 2 orang temanku Hanna dan Alia yang dulu pernah pergi dengan AirAsia meyakinkan bahwa koper kita tidak akan ditimbang. Jadi kalau bawaan lebih dari 7kg tetap bisa melenggang ke dalam pesawat. Daaaan, pada saat masuk antrian masuk gate, apa yang kami khawatirkan kejadian juga. Ternyata ada random check gitu. Jadi ada mas-mas dari AirAsia yang tiba-tiba nangkring di depan gate dan ngecekin koper penumpang satu-satu untuk ditimbang. Aku, Una, dan Nisa jadi sedikit panik. Gimana gak, bawaan kita semua lebih dari 7kg hha. Aku sepanjang ngatri terus berdoa semoga masnya cepetan pergi atau Allah jadiin koperku invisible saat itu juga. Saat mendekati meja pengecekan tiket dan hampir deket dengan mas yang nimbang koper, Nisa ternyata kopernya cuma diangkat doang gak sampe ditimbang, karena diantara kita bertiga emang koper doi yang sedikit kecil, jadi tidak mencurigakan. Sedangkan Una lolos dari pengamatan masnya, jadi melenggang ke dalam gate dengan santainya (padahal dari koper kami bertiga, koper dia yang paling berat btw wkwk). Dan pada saat giliranku… Koperku diangkat oleh masnya, dan ditimbang! OMG! Sumpah saat itu deg-degannya luar biasa khawatir di suruh beli bagasi karena bawaan kabin melebihi kuota. Namun, engingeng … koperku lolos! Masih setengah nggak percaya sih. Wkwk

Oke oke, akhirnya kami terbang selama 2 jam ke KL. Sampai di KL pukul 18.00 kami langsung ke bagian transfer. Rencananya sih mau keliling KLIA2 tapi kami udah capek banget. Apalagi aku yang udah terbang dari Balikpapan. Setelah sholat magrib kami memutuskan untuk makan di Level 3 (Foodcourt area) rata-rata makanan di sana 16 RM. Gaperlu beli minum karena disana terdapat beberapa keran air minum. Lumayan hemat 3-4 RM LOL. Setelah makan kita ke Movie Lounge di Level 2. Menurutku tempat ini lumayan pewe buat tidur, ada colokan juga di sana. Banyak bule-bule tidur ngemper di lantai dekat Movie Lounge, jadi kalau mau tidur di lantai pede aja. Hihi

Setelah leha-leha akhirnya pukul 21.30 kami memutuskan ke Gates P. Kalau dari layar yang kami lihat, penerbangan ke Busan adalah Gate P10. Buset jauh juga ternyata. Nyampe-nyampe depan gate udah jam 22.00. Nah, di sini nih kita mulai celingak-celinguk. Penerbangan kami memang belum. Saat itu petugas masih sibuk memanggil penumpang dengan penerbangan ke Sydney. Kami akhirnya sedikit janggal saat menyadari tidak ada mesin Self Check in di sekitar ataupun di dalam gate!!! Makin panik pas ngeliat kok semua penumpang yang ngantri udah pada megang tiket masing-masing yaaa?! Huaaa, aku dan Una mulai panik. Mau tanya ke penumpang yang lalu lalang rada takut soalnya mereka rata-rata lagi pada buru-buru masuk ke gate P10, petugas pun begitu. Pada sibuk banget. Tapi akhirnya aku lihat bule gitu yang lagi duduk, aku tanya di mana dia nyetak tiket? Ternyata dia kasusnya sama kayak Nisa. Udah dapet tiket dari negara asalnya, jadi gak tau yang transit pada nyetak tiket di mana. Akhirnya aku dan Una cari gate lainnya yang lagi gak sibuk untuk ditanyain. Akhirnya di gate P12 ketemu petugas yang menurutku rada jutek hufft. Dia juga gak tau apa-apa dan nyuruh kami untuk ke counter AirAsia yang berada di depan pintu Transfer. Well, itu lumayan jauh btw. Hmm, akhirnya aku dan Una nitip koper kami ke Nisa. Kami melewati bagian cek bawaan (itu namanya apasih? wkwk) Mereka sempet nanya kita mau ke mana. Soalnya memang di situ gak tersedia pintu buat keluar. Kami menjelaskan kalau kami belum check in dan nyetak tiket untuk ke Busan. Kami juga sempet nanya ke mereka dan mereka menyarankan kami untuk ke counter AirAsia.

Akhirnya kami lari-lari kayak orang bego ke information center untuk memastikan. Mereka juga menyarankan untuk ke AirAsia Counter. Lari-lari cantik lagi ke counter AirAsia yang dekat gate Transfer. Saat itu udah pukul 23.00 lewat kalau gak salah. Kami ke counter dan dijutekin sama mbaknya. Busetttt! Dia sibuk main hp bokk. Terus jawab pertanyaan kita ketus banget. Gak tau apa nafas kita udah tinggal di ujung nih 😦 Dia bilang kita harus keluar imigrasi dulu buat self check in. Jadi harus keluar naik eskalator dulu. Terus aku tanya, kalau aku web check in aja gimana? Apa tetep butuh tiket yang berbentuk kertas? Dia bilang tetap perlu dengan jawaban dan muka yang ketusnya bertambah 5x lipat dengan hp yang gak lepas dari tangannya. Hufttttttt! Opsi lainnya, kita bisa ke Sama-Sama Hotel yang ada di Level 3 (deket foodcourt) tapi berbayar dan Una maupun gue gak bawa duit sama sekali. Semua dompet kita tinggal ke Nisa. Ya Allah kita mau pingsan. Akhirnya aku bilang ke Una, daripada kita ambil duit ke Gate P10 yang juga jauh terus balik lagi ke Sama-Sama Hotel yang sebenernya belum pasti apa kita bisa ngeprint apa nggak mending kita langsung aja keluar Imigrasi dan Self check in (saat itu dalam otakku dan Una, Imigrasi itu deket). Kami lari naik eskalator. Sumpah kakiku berat banget. Sesekali aku terus melihat jam. Imigrasi gak keliatan juga. Saat itu KLIA2 keliatan sepi banget. Cuma ada beberapa petugas yang kayaknya juga bersiap untuk pulang. Beberapa petugas kami tanyakan di mana mesin self check in semua menunjukkan arah ke depan, namun kami tidak tahu dimana ujungnya. Nafas una dan nafasku sudah sangat jelas terdengar tak beraturan. Aku sebenarnya juga udah pasrah kalau memang kita gagal ke Korea dan harus menghabiskan 9 hari di Kuala Lumpur karena sebentar lagi batas waktu terakhir check in 😦

Di sepanjang jalan, kami terus bertanya setiap bertemu petugas.  Saat bertanya juga omongan kami mulai gak jelas, percampuran antara capek, kaki sakit, sedikit panik dan bingung. Petugas yang kami tanya juga selalu menjawab pertanyaan kami sekenanya sambil menunjuk ke depan dan bilang “Exit”. Lah ini kita udah lari dari tadi dimana exit nya deh :(. Setelah lari lumayan jauh akhirnya kami melihat kantor AirAsia, aku masuk dan bertanya dimana bisa cetak tiket. Tau gak, petugasnya cuma bilang, “Bukan di sini” What? Gitu doang jawabnya? Aku dan Una akhirnya keluar kantor tersebut. Sedikit kebingungan dan akhirnya ada mas-mas dari AirAsia yang liat kita kebingungan di luar terus nyamperin dan ngasih arahan di mana imigrasi. Setalah bilang makasih, kita lari lagi kayak Bolt wkwkw. Akhirnya kita lihat gate imigrasi. Huft akhirnyaa. Udah sepi banget. Pas jari telunjukku di scan, tanganku bergetar saking capeknya lari sehingga beberapa kali disuruh beberapa kali ngulang nempelin jari telunjuk. Keluar dari gate imigrasi akhirnya kita liat mesin self check in. Huaaaa, tuh mesin udah kayak berlian. Bersinar-sinar di mataku, pengen banget dipeluk hhu. Pas banget kita sampai 1 jam 15 menit sebelum flight, yang berarti udah jam 00.00 (Close Gate 00.45) bokk. Aku dan Una berarti tadi lari-lari kayak orang gila selama 1 jam. Gilaaak, selama ini gak pernah sama sekali olahraga dan sekarang disuruh lari 1 jam itu rasanya … hhu.

Setelah check in akhirnya aku dan Una lari lagi menuju gate P10. Pas masuk ke imigrasi lagi buat dapetin cap keluar Malaysia, aku dilayanin mbak-mbak gitu. Buset lagi-lagi aku dijutekin, hufft kenapa sih seluruh KLIA2 kayaknya pada jutek amat. Pengaruh udah malem apa ya. Terus tuh mbak mbak sambil chat masaaa. Terus dia ketawa-ketawa sendiri gitu sambil ngeliatin terus layar HP nya. Pas bagian scan jari telunjuk tanganku masih agak bergetar efek lari. Jadi berkali-kali di suruh ulang scan. Aku juga akhirnya jadi gak sabar. Dia juga sibuk banget sama HPnya ihhh. Terus dia bilang, “Tangannya tolong ditempelin yaaa. Jangan di lepas-lepas! Mau pulang nggak?” (dengan bahasa Malay) Grrrr, kalau aku lagi gak buru-buru, aku jawab juga nih doi. Sumpah sebel banget, aku cuma diam aja sambil menggerutu dalam hati. Hhuhu. Keluar dari imigrasi akhirnya aku lari bareng Una. Nyampe gate P10 aku sama Una minum sepuasnya. Bahkan orang yang bagian cek barang udah hapal muka kita dan nanya, “Gimana? Udah dapat tiket?” Huhu, udaaah Pak Cik udaaaah. Sambil nangis darah. Gak lama setelah itu akhirnya open gate, dan kita duduk udah kayak orang teller. Nafas udah gak beraturan.

Sumpah ini pengalaman banget sih. Aku jadi tau banget kalau connecting flight LCC (kalau kalian beli tiketnya terpisah) tuh ternyata harus keluar dulu lewatin imigrasi karena tempat cetak tiket ada di bagian luar. Jadi jangan langsung masuk Transfer yaa. Atau kalau kalian males keluar imigrasi, cara lainnya adalah ke Sama-Sama Hotel yang ada di Level 3 (tapi aku belum pernah). Setelah kejadian ini akhirnya kami menyadari bahwa KLIA2 itu luas banget, tidak hanya sebatas Gates P dan Q. Selain itu aku ngerasa kayaknya kita emang disuruh latihan sama Allah, karena ternyata selama di Korea Selatan kita banyak banget jalan dan lari, jadi kaki (agak) sedikit kebal. Hiyeeeey!

Posted in Balikpapan, Jakarta, Korea Selatan, Life, Travel

Day 1 : Hampir Gagal ke Korea (Tiket yang Gak Keluar)

Aku yang berada di Balikpapan (BPN) dan tiket penerbanganku yang start dari Jakarta (JKT) membuatku harus membeli tiket pp BPN – JKT lagi. Penerbanganku ke Kuala Lumpur (KL) adalah pada tanggal 17 Mei 2017, awalnya pengen main ke JKT dulu jadi pengen ambil keberangkatan pagi dari JKT tanggal 16 Mei 2016. Tapi karena galau membeli tiket kapan akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiket ke Jakarta H-3 JAM wkwk pada tanggal 16 Mei 2016. Tergiur dengan harga tiket murah akhirnya aku membeli tiket di Reservasi.com. Setelah melakukan pesanan untuk tiket pulang pergi beberapa menit kemudian pihak Reservasi.com hanya memberikanku tiket JKT-BPN (Citilink) sedangkan tiket BPN-JKT (Sriwijaya Air) belum ada sama sekali.

Aku mencoba menelpon Reservasi.com ternyata customer service mereka baru beroprasi pukul 08.00 pagi waktu Jakarta. Itu berarti jam 09.00 pagi waktu Balikpapan hufft. Sedangkan tiket yang belum keluar itu adalah tiket untuk penerbangan jam 9.45 di hari itu juga. Sedikit panik sih akhirnya aku memutuskan untuk menelpon pihak Sriwijaya Air untuk memastikan apakah namaku sudah tercantum atau belum dalam sistem mereka. Saat aku telepon Alhamdulillah customer service mereka beroprasi dan saat aku tanyakan apakah namaku sudah terdaftar dalam penerbangan pukul 09.45 WIB mereka mengatakan bahwa namaku belum terdaftar. Mendengar jawaban tersebut akhirnya aku sedikit lega. Berarti aku tidak perlu terburu-buru ke bandara saat itu juga. Namun, kesal juga kenapa kok bisa tiketku tidak keluar padahal aku melakukan pembayaran pada waktu yang hampir bersamaan dengan tiket JKT-BPN. Berarti memang fix, pihak Reservasi.com belum memesankan tiket untukku pagi ini. Akupun menunggu hingga pukul 09.00 WITA sampai CS Reservasi.com buka.

Pada akhirnya aku telepon mereka dan ada yang mengangkat teleponku. Aku meluapkan semua keluhan dan mempertanyakan mengapa tiketku belum keluar juga. Mereka lalu meyuruhku mengirimkan bukti pembayaran ke email mereka dan mereka berjanji akan memberikan kabar secepatnya setelah menerima email dariku. Tidak lama kemudian mereka menelponku lagi dan memohon maaf bahwa benar tiketku memang belum keluar padahal uangku telah terdaftar dalam catatan mereka. Kesel dong! Dan mereka menawarkan untuk memesankan tiket saat itu juga. What! Ini tinggal 30 menit lagi dan aku belum ngapa-ngapain. Belum lagi check in. Gak bakal sempat lah yaa. Akhirnya aku minta mereka me-reschedule tiketku dengan jam yang sama namun hari yang berbeda yaitu besok, karena saat aku lihat ternyata harganya sama saja bahkan lebih murah dari yang aku bayarkan.  Tapi mereka gak mau hhu. Katanya sesuai prosedur perusahaan harus refund. Oke, bagus klo refund. Aku juga butuh uangnya segera. Akhirnya gue lega dong dan nunggu duit gue di refund. Mungkin beberapa jam lagi duitku bakal balik, pikirku.

Tapi setelah beberapa lama kemudian, khawatir tiket melambung naik dan aku butuh banget penerbangan besok pagi akhirnya aku menelpon pihak Reservasi.com untuk menanyakan jam berapa kira-kira duitku bisa di refund. Namun, saat aku menelpon mereka jawaban yang aku dapatkan sungguh mengecewakan. Sebelumnya mba-mba yang ngomong pertama kali denganku mengatakan bahwa proses refund akan diusahakan secepatnya bahkan bisa hari itu juga karena hal tersebut merupakan kesalahan dari pihak Reservasi.com. Namun kali ini mereka membalas bahwa proses refund membutuhkan waktu 30 HARI KERJA atau paling cepat 15 HARI KERJA. Aku benar-benar kesal, tapi mau gimana lagi, ngomel-ngomel sampe bibir doer ke mereka juga gak akan ada gunanya kan. Hufft akhirnya aku beli tiket baru lagi dengan uang yang baru 😦 . Masih trauma dengan pembelian online, takut tiket gak keluar lagi akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiket di travel dekat rumah. Alhamdulillah dapat harga yang gak jauh beda, cuma beda 10rb. Huff, tau gitu beli disini aja. Daripada tiketku gak keluar sama sekali yang akhirnya berujung duit 606 ribu ku ilang dan di refund entah kapan 😦

Pokoknya kalau 15 hari kerja mereka belum transfer juga, bakal aku teror lagi. Huhu duit segitu kan gak sedikit huffft. Saat itu sumpah aku takut banget gak dapet tiket ke JKT besok pagi karena penerbangan dari JKT ke KL juga besok tapi di siang harinya.

So guys, pelajaran yang bisa diambil adalah jangan cepat tergiur dengan tiket-tiket murah dari web yang belum tentu terpercaya ya. Apalagi bedanya gak jauh. Ohya dan satu lagi! Jangan beli tiket dadakan hhi.

Happy Traveling!

Posted in Life, Trivia

Berkali-kali Mengalami Kegagalan, 8 Alasan Ini Membuatku Berdamai dengan Kegagalan

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Bahkan saat kita masih merangkak dan mencoba untuk belajar berdiri kita pasti berkali-kali gagal namun mencoba berdiri lagi hingga akhirnya bisa untuk berlari. Itulah sebuah fase kehidupan, dimana ada keberhasilan pasti ada kegagalan sebelumnya. Di suatu hari aku tergelitik dengan sebuah chat yang dilontarkan oleh adik kelasku di sebuah grup yang mana kami berdua tergabung di dalamnya. Ia mengingatkan bahwa dulu aku pernah mengikuti kompetisi menulis  dengan hadiah traveling ke Bali dan minta tolong sana-sini termasuk minta tolong ke dia untuk vote tulisanku (karena salah satu penilaian adalah vote terbanyak).

Kompetisi tersebut terdiri dari 3 gelombang yang setiap bulan/gelombangnya diumumkan 1 orang pemenang. Setiap gelombang berturut-turut aku ikuti, berturut-turut juga aku chat temanku satu persatu untuk memberikan vote, berturut-turut pula aku mengalami kegagalan alias kalah. Padahal aku ingin sekali menjadi pemenang dalam lomba  tersebut. Bagaimana tidak, hadiahnya berlibur ke Bali, pulau yang mana begitu terkenal hingga seantero mancanegara namun seumur hidupku belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Ditambah ada kehadiran Alanda Kariza yang merupakan salah satu penulis favoritku akan menemani kami selama di Bali, serta undangan untuk menghadiri Ubud Writer Festival 2015. Wow! Dari dulu aku sangat mengidam-idamkan bisa hadir dalam festival ini dan bisa bertemu dengan penulis terkenal Indonesia maupun mancanegara. Namun apa daya, saat itu aku harus menelan pil pahit kegagalan. (Baca juga : Perjuangan Perempuan yang Menjadi Anak Pertaman dan Terus Berjuang Meski Jauh dari Keluarga)

gagal 1
thefixlerfoundation.org

Tak lama setelah bermuram durja efek gagal berkali-kali aku akhirnya menyadari bahwa di setiap kegagalan pasti ada keberuntungan yang mengikuti. Pada akhirnya keberuntungan itu datang juga tanpa kusangka-sangka. Jadi, beberapa hari kemudian temanku mengajak untuk ke Surabaya – Banyuwangi – Bali dengan kereta api sebelum masa perkuliahan tiba. Hal yang paling mengejutkan adalah selama di sana aku tidak perlu memikirkan biaya apapun. Semuanya gratis tis tis. Ya ampun, ternyata walaupun aku gagal untuk menghadiri Ubut Writer Festival dengan penulis favorit setidaknya aku bisa pergi traveling bersama teman terbaikku dan gratis pula. Bahkan akan melewati Surabaya dan Banyuwangi! Aku belum pernah sama sekali ke sana juga. Luar biasa, ternyata rencana Tuhan lebih indah. Bukan hanya kegagalan ke Bali yang pernah aku alami, namun masih banyak kegagalan lainnya yang memang sakitnya minta ampun, sampe bikin gak mood melakukan apapun. Namun, kini aku tidak lagi pernah mengeluh seperti dulu, karena aku tahu Tuhan akan memberikan jalan terbaik bagi hambanya yang terus mau berusaha. Aku tidak lagi pernah merasa takut dengan kegagalan dan mencoba berdamai dengan kegagalan itu.

Berikut 8 alasan yang akhirnya membuatku berdamai dengan kegagalan, karena …

  1. Gagal mengajarkanku untuk selalu berprasangka baik
gagal 2
picjumbo.com

God’s has perfect plan for those who have failed. Melalui kegagalan kita diajarkan untuk selalu berperasangka baik dengan apa yang telah direncanakan Tuhan. Hal itu sama seperti yang telah aku ceritakan di atas, ternyata dengan kegagalan aku bisa mendapatkan yang lebih baik. Walaupun gagal pergi ke Ubut Writer Festival namun aku bisa ke lebih banyak tempat yang tak pernah aku datangi sebelumnya.

  1. Gagal memperlihatkan siapa teman-teman yang memang tulus menolong saat berada di titik terbawah

 

gagal 4
uhdwallpapers.org

Pernah mendengar kutipan mengenai siapakah teman sejati itu? Teman sejati adalah teman yang berada di samping kita tidak hanya di saat kita sedang senang melainkan juga di saat kita mengalami kegagalan. Jika kamu tidak pernah berada di titik kegagalan mungkin kamu tidak akan pernah tahu mana teman yang memang tulus berteman denganmu. Sedangkan jika kau pernah mengalami kegagalan kamu akan mengetahui siapa teman yang terus memberikan support dan selalu berada di sampingmu saat kamu mengalami kegagalan. (Baca juga: Belajar dari Geng Cinta dan Waspadai 5 Tanda Persahabatan Tidak Sehat Berikut Ini)

  1. Gagal membuat jadi lebih kuat!
gagal 5
sauj4.com

Don’t be frightened of failure. It makes you stronger if you learn from your mistakes (Mark Lawrenson) kutipan tersebut memanglah benar bahwa kegagalan akan membuat kita semakin kuat. Tanpa kekegalan kita akan mengira semua yang kita inginkan mudah kita peroleh sehingga jika nanti kita dihadang oleh satu tantangan maka kita akan lemah dan gampang untuk menyerah. Hal ini pernah dialami oleh salah seorang yang pernah dijuluki sebagai ratu talkshow yaitu Operah Winfrey yang kemudian mampu bangkit kembali setelah mengalami kegagalan bertubi-tubi. Kegagalan menjadikannya lebih kuat karena mengetahui dimana kelemahannya. Hal tersebut juga yang terjadi padaku, meskipun aku gagal memenangkan perlombaan menulis dengan hadiah ke Bali berkali-kali, setidaknya aku menjadi tahu dimana titik kelemahan penulisanku dan tahu bagaimana strategi yang lebih baik lagi untuk memperoleh banyak vote hhe. (Baca juga :Kamu Termasuk Perempuan yang Kuat Jika Memiliki 7 Kepribadian Berikut)

  1. Gagal menjadikanku lebih berpengalaman
gagal 6
babycouture.in

Dengan kegagalan akhirnya aku mendapatkan banyak sekali pengalaman. Mulai pengalaman mengenai bagaimana menulis catatan perjalanan, pengalaman bagaimana rasanya gagal, dan sebagai bonusnya, aku memiliki pengalaman jalan-jalan ke Surabaya-Banyuwangi dan Bali dengan berbagai macam kereta. Mulai dari kereta ekonomi, bisnis, hingga eksekutif. Jika aku menang, mungkin aku tidak akan merasakan itu semua.

  1. Gagal menjadikanku mampu berpikir lebih keras untuk mencari peluang lain
gagal 7.jpg
noticias.universia.edu.pe

Sebenarnya saat gagal menang perombaan itu aku akhirnya berfikir untuk mencari peluang untuk pergi ke Bali, mulai dari mencari informasi lomba/kuis berhadiah ke Bali  hingga menabung dengan uang pribadi. Namun, tak diduga, sebelum aku melaksanakan itu semua, temanku akhirnya mengajak untuk pergi ke sana gratis. Yeay! (Baca juga:  Gagal Masuk Jurusan Kuliah Yang Kamu Idamkan? Berikut 7 Tips Agar Kamu Betah dan Sukses di Jurusan yang Lain!)

  1. Gagal membuatku menjadi lebih bersabar dalam menunggu sesuatu
LsTPqw9JBUg.jpg
vk.com

Aku merupakan tipikal orang yang tidak sabaran, namun dengan kegagalan aku menjadi sadar bahwa segala sesuatu tidak semuanya bisa cepat. Ada proses yang harus kita lewati sehingga kita menjadi lebih sabar dalam menunggu. Namun, sabar menunggu di sini jangan diartikan sebagai sesuatu yang pasif yaa. Dimana kita hanya menunggu saja, siapa tau ada duren runtuh. Haha, kalau begini bukannya nikmat yang didapat melainkan bisa saja sakit karena terlalu banyak berharap. Bersabar juga tentunya diiringi terus dengan usaha dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Tuhan.

  1. Gagal membuat jadi lebih paham bahwa hidup tidaklah semudah dan seindah negeri dongeng!

 

gagal 8
tucsonweekly.com

Mungkin pada masa kecil kita sering dicekoki kisah-kisah putri dongeng yang mana akan hadir seorang Peri baik hati yang akan menolong dan memberikan apa saja yang kita inginkan dengan cepat. Kalau kalian merasa itu akan terjadi juga di dunia nyata berarti artinya kita harus WAKE UP! Segala sesuatu perlu usaha. Dunia nyata tak seindah negeri dongeng. Hidup memang tidaklah mudah yang segala sesuatunya bisa kita dapatkan secara instan. Bahkan mie instan pun perlu waktu hingga akhirnya bisa kita nikmati. Apa yang kita inginkan harus kita perjuangkan sendiri. Tidak akan ada yang bisa memperjuangkan keinginanmu selain dirimu sendiri. Tidak ada peri dengan tongkat ajaibnya, tidak ada hujan yang jatuh begitu saja dari langit tanpa melalui proses, dan Stephanie Mayer tidak akan pernah seterkenal sekarang jika ia menyerah dengan kegagalannya saat harus ditolak sebanyak 14 kali oleh penerbit. See, dunia memang kejam, orang tidak akan sukses jika memang dirasa belum siap untuk itu. (Baca juga: Kutipan Dari Paulo Coelho Ini Akan Memotivasimu Untuk Percaya Pada Mimpimu Sendiri)

 

  1. Gagal menjadikanku lebih menghargai proses
gagal 9
ifjuhumanistak.hu

Yap. Gagal memang akhirnya membuat kita menghargai setiap proses yang kita lewati. Kita akan menyadari jika mampu melewatinya satu persatu. Kita akan menjadi tahu bahwa melalui kegagalan kita akan menghargai apa yang telah kita lakukan. Berbeda jika kita mendapatkannya secara instan, kita akan dengan mudahnya meremehkan segala sesuatu dan akan menggerutu jika kita harus melewati proses yang panjang. Hal ini yang aku dapatkan saat aku menginginkan bekerja di sebuah perusahaan, aku saat itu benar-benar yakin bahwa aku akan diterima di perusahaan tersebut. Tapi kenyataannya tidak. Aku mendapatkan email bahwa aku gagal untuk masuk ke dalam perusahaan yang sudah lama aku impi-impikan. Tapi aku melihat bahwa ada proses menuju keberhasilan di sini. Aku akhirnya tahu bahwa memang ini adalah proses dari bagian hidupku yang nantinya bisa aku ceritakan kepada anak cucuku setelah aku sukses kelak. Kembali ke poin 1, bahwa memang yang kita butuhkan adalah terus berbaik sangka. Termasuk berbaik sangka dengan proses yang telah kita jalani. (Baca juga: Saya yang Tidak Lulus SMA, Sekarang Bisa Mengakuinya dengan Bangga. Inilah 5 Pelajaran yang Saya Dapatkan dari Kegagalan)