Day 2 : Arrive in Busan!

Jika di bandingkan dengan Seoul, Busan memang jauh lebih tenang dan sepi. jika dibandingakan dengan Seoul, di sini sepertinya lebih banyak orang tua. Tidak perlu menyisihkan waktu yang banyak jika kalian ingin ke beberapa tempat wisata di Busan. Namun, jika kalian merupakan tipe pejalan yang santai dan memiliki waktu yang banyak, maka berlama-lama di Busan tidak ada salahnya. Aku dan teman-teman ke Busan memang hanya menyisihkan waktu 1,5 hari dengan mendatangi beberapa tempat-tempat yang sudah cukup terkenal di telinga kami. Selama di Busan kami menginap di daerah Haeundae. Menurutku daerah Haeundae cukup strategis karena dekat kemana-mana meskipun dengan metro dan bus. Pada tanggal 18 May 2017 kami sampai di Busan sekitar pukul 09.00. Terlambat 1 jam dari yang sudah dijadwalkan. Hal tersebut karena pada saat akan take off pesawat kami harus mengantri di Bandara KLIA2 terlebih dahulu karena ada beberapa pesawat juga yang akan take off malam itu.

IMG_5419

Sampai di pagi hari memang sangat menguntungkan bagi kami sehingga memiliki banyak waktu untuk mengeksplore Busan seharian. Dari Gimhae International Airport kami naik Airport Limousine dengan tujuan akhir Haeundae. Biaya yang kami keluarkan untuk Airport Limosine ini adalah 7000 Won. Selain menggunakan Airport Limosine, ada 2 cara lainnya yang lebih murah yaitu dengan menggunakan Bus biasa (Naik nomor 307 untuk ke daerah Haeundae dan 1009 untuk daerah sekitar Geumgok/Gadeok Quay) dan menggunakan Metro yaitu keluar di Daejo Station (Line 3)/ Sasang Station (Line 2), transfer to Busan Gimhae Light Rail Transit. Sebenernya penginapan kami yaitu Miss Egg Hostel deket banget dari Haeundae Station, jadi kalau dari Bandara lebih dekat jika naik Metro. Namun, rempong banget cyiin geret-geret koper dan naik tangga pas keluar stasiun. Tapi kalau kalian Cuma bawa ransel doang lebih baik naik metro atau bus karena jauh lebih murah.

Nah, bagi kalian yang akan naik Airport Limousine dengan tujuan Haeundae berikut rute yang akan di lalui

Gimhae Airport > Namchun-dong > Gwnagan-dong > Gwangan Stn.> Suyeoung Intersection> Suyeoung Hyundai apt> Centum Hotel> Bexco> Olympic Intersection> Gyeongnam Marina apt.> Park Hyatt Busan> Hanwha Resort> Hyperion> The Westin Chosun Hotel> Grand Hotel> Haeundae Beach> Novotel Ambassador Busan> Paradise Hotel> Mipo, Moontan road> Raemian Haeundae apt.> Hyundai I-park apt> Jangsan Stn.> Haeundae Paik Hospital> Dongbu apt> Daelim 1-cha apt> Yangwoon High School> Yangwoon Elementary School.

Seharusnya kami turun di halte Haeundae Beach, tapi kelewatan hha. Jadi kami turun di Novotel Ambassador Busan. Saat di dalam Limousine kami melihat dari dalam kaca bahwa Busan sedang terik-teriknya. Wah panas nih, fikirku. Tapi setelah turun dari Limousine, bbrrr, cahayanya doang keliatan terik, tapi nyatanya dingin banget. Busan saat itu bener-bener kayak di pakein AC dengan suhu minimum terus ditambahin kipas aingin. Gimana tuh rasanya.

Saat turun di depan Novotel, kami bingung di mana letak hostel kami. Akhirnya kami ke Haeundae Tourist Information Center untuk menanyakan kemana kami harus melangkah (duileeeh). Ohya, yang aku sangat suka dengan Busan adalah disini Tourist Information Center nya gampang banget diakses oleh turis! Setelah dijelaskan oleh mbak-mbak yang ada di Tourist Information Center tersebut rute untuk sampai ke hostel kami akhirnya kami jalan deh. Letak Tourist Information Center yang berada tepat di depan Haeundae Beach ini membuat kami melihat sedikit aktivitas dari beberapa pekerja yang akan membuat patung pasir. Mungkin untuk menyambut liburan musim panas (fyi, setiap bulan Juni akan ada Haeundae Sand Festival). Huft sayang belum jadi, jadinya belum bisa foto-foto cantik di depannya deh.

Setelah diberikan petunjuk dimana hostel kami yaitu Miss Egg Hostel (ohya, review dan how to get this hostel di post-an berikutnya yah!) akhirnya kami sholat dan berberes. Baru selesai jam 1 siang hha. Bener-bener gak kerasa. Akhirnya kami melakukan sedikit perubahan di itinerary kami dan mulai berangkat lagi tanpa mandi wkwk. Buseeet, strong banget deh kita hari itu, padahal semaleman di pesawat, nyampe hostel jalan lagi dan sempat mampir ke convenience store cuma beli nasi kepal dan banana uyu.

Berikut merupakan beberapa tempat yang kami datangi di hari pertama kami di Busan. Untuk cara ke tempat tersebut kalian bisa google sendiri yaa dengan patokan hostel yang telah kalian pesan.

  1. Gamcheon Culture Village

    IMG_5370

IMG_5412

Nih, kalau jalan sampe gang-gangnya 🙂

Metro Line 1 Toseong Stn. (Exit 6) -> Transfer (by bus) to Saha-gu 1-1, Seo-gu 2, 2-2

Salah satu alasan yang bikin kita pengen banget ke Busan adalah karena ini sih, Gamcheon Culture Village. Abisnya seru banget liat rumah warna warni gitu. Jadi dulunya ini merupakan perkampungan kumuh yang kemudian di sulap menjadi perkampungan yang warna-warni dan banyak lukisan lucu-lucu di dinding rumah. Ohya sebelum masuk mampir dulu ke Tourist Information ya buat ambil Gamcheon map, karena Gamcheon itu luas banget dan banyak gang-gang kecil yang kalau kalian ga pke map kemungkinan ga bisa pulang hha.

Pas sampe sana banyak banget wisatawan yang ke sini. kebanyakan sih wisatawannya orang Korea juga dan beberapa aku melihat wisatawan Thailand. Menurutku sih, best time ke sini adalah pagi biar gak terlalu ramai wisatawan dan biar bisa bebas foto-foto juga hha. Siapkan tenaga dan kaki kalian di sini yaaa. Sebelum berangkat usahakan rajin-rajin jogging hha. Rutenya naik turun gunung plus beberapa tangga bokk. Tapi pemandangannya bagus sih hhe. Ohya, selama di sana apalagi pas lewatin gang-gang kecilnya usahakan jangan terlalu berisik karena itu perumahan penduduk cuy, bukan museum kosong doang hha.

  1. Jagalchi MarketIMG_5429

IMG_5438Metro Line 1 Jagachi Stn. (Exit 10)-> Walk 300m toward Jagalchi 1-gil. Kalau dari Gamcheon tinggal naik bus nomor 2-2 atau 1 ntar minta turun di Jagachi Market. (deatil halte bisa kalian liat di Gamcheon map)

Mungkin bisa dibilang ini pasar ikannya Busan. Disini berbagai macam hasil tangkapan laut ditampilkan, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup. Ukurannya rata-rata besar-besar loh. Banyak hasil tangkapan yang jarang dan belum pernah aku lihat di Indonesia. Seperti Gurita, terus banyak banget sih yang lainnya yang aku gak tahu namanya hhu. Kalau nanya juga kayaknya percuma soalnya rata-rata pedagang di sana menggunakan bahasa Korea. Jagachi merupakan pasar ikan terbesar di Korea. Di sana juga banyak restoran yang tersebar, yang konsepnya kita bisa milih hasil tangkapan laut yang masih hidup-hidup yang di pajang di aquarium depan restoran. Jadi seafood yang disajikan dijamin fresh! Namun, karna harganya yang mahal dan di Balikpapan juga banyak seafood kami mengurungkan niat untuk mencoba seafood di sana.

  1. BIFF SquareIMG_5452IMG_5450

Kalau dari Jagalchi Market tinggal jalan kaki

Disini kalian akan menemukan banyak cap tangan orang-orang yang bekerja di bidang perfilman di seluruh dunia. Tapi karena saat aku sampai di BIFF sudah sore akhirnya kami tidak sempat untuk melihat satu persatu, tangan-tangan siapa aja yang ada di sana. Hha

BIFF Square ini berada di cluster Nampo Dong yang di dalamnya juga terdapat movie theatre dan tempat belanja sehingga banyak banget anak muda di sini kalau sore hari bahkan banyak diantara mereka yang masih menggunakan seragam sekolah.

  1. Busan Tower

IMG_5512

Dari BIFF Square kami jalan ke Busan Tower/Yongdusan Park. Syumfaaah itu kita setroong banget. Huhu perjalanan jauh banget dengan rute jalanan naik turun bukit cuyyy. Gue mengakui deh emang orang Korea pada kuat banget jalan, disinilah kami akhirnya mulai menyadari bahwa jalanan yang turun naik bukit bukan hanya di Gamcheon Village namun memang seluruh Korea hhu! Jadi kontur jalanan di Korea Selatan memang naik turun gunung. Pantes body orang-orang Korea pada slim-slim. Hha

  1. Gukje Market

Ini nih yang zonk banget, Gukje Market! Jadi setelah dari Busan Tower kita ikutin peta ke Gukje Market. Ya ampuun, lapar banget plus kaki udah kayak mau lepas. Nah, pas turun kita ngelewatin pasar gitu. Sempet bingung nih disini, ini pasar apaan. Karena udah mulai magrib, itu jam setengah 8 kayaknya, pedagang di pasar sudah mulai siap-siap untuk tutup tokonya. Sampe akhirnya di ujung pasar akhirnya kita bengong. Gukje Market mana ya? Sempet lama bingung akhirnya kami didatengin bapak-bapak dan dia ngomong dengan bahasa Korea yang aku sama sekali gak ngerti. Tapi untungnya Nisa dan Una ngerti dikit-dikit katanya. Kita nanya di mana Gukje Market? Dan jawabannya adalah tempat kami berpijak sekarang adalah Gukje Market! Wkwkw jadi katanya pasar cuma buka dari pagi sampe sore doang. Kalau malem pasar bubar. Hiyaaa, kirain pasar buka sampe malem TT padahal udah ngebayangin makan Toppokki malem-malem atau nyobain makanan khas Busan. Terpaksa malam itu kami ke convinience store terdekat dan diisi dengan Banana Uyu lagi :’)

  1. Gwangalli Beach

IMG_5535

Metro Line 2 Gwang-an Stn. (Exit3,5) -> 650m toward Gwangalli Beach

Nah setelah ke Gukje kita lanjut ke Gwangalli Beach. Sampai disana sudah jam setengah 9. Pas keluar stasiun brrr dinginnya luar biasa. Kita juga kaget pas sadar saat itu jalanan udah SEPI ! Buset, kan ini baru aja malem? Malemnya aja baru jam 8 tapi kok sepi banget. Agak serem juga sih, apalagi dari stasiun kita harus jalan lagi sekitar 650 meter. Kalau dari petunjuk google kita Cuma perlu berjalan sekitar 3-5 menit. Duh, pas kita jalan kok berasa lama yaaa. Huakaka. Mungkin 3-5 menit tanpa ngoceh, tanpa nyari-nyari pantainya di mana kali yaa? Pas ditengah-tengah jalan terdapat beberapa restoran Shabu-Shabu. Hampir semua restoran shabu-shabu yang kami lewati penuh oleh pekerja kantoran yang baru saja pulang dan makan malam di sana. Di tangan kanannya mereka memegang sumpit dan di sebelah kirinya terdapat Soju. Mirip seperti di drama-drama sering aku tonton. Seketika itu juga aku berharap bisa melihat orang yang mabok di pinggir jalan gara-gara kebanyakan minum Soju wkwk. Apa iya maboknya heboh kayak unnie atau oppa yang kayak di drama? LOL

Setelah 15 menit jalan (kayaknya) pokoknya lama deh hha, akhirnya aku sampai di Gwangalli Beach, Yeay! Huwoooo, dinginnya tambah nusuk hhu. Padahal ini udah mau summer loh, tapi masih aja dingin bbrr. Pantainya lumayan rame, kebanyakan anak muda sih. Ada beberapa penyanyi jalananan juga yang nyanyi jadi suasanannya makin romantic hhi. Belum lagi kerlapkerlip lampu dari beberapa gedung di seberang pantai dan dari Gwangalli Beach terlihat jelas Gwangandaegyo Bridge yang hits ituuhh. Lampu jempatannya keren juga haha. Akhirnya kita sibuk foto-foto di tempat duduk sekitar pantai. Beberapa orang ada yang lari-larian di pantainya, terus aku penasaran dan pengen jalan-jalan di atas pasir pantainya. Pas lepas sepatu dan nginjekin kaki di pasir huwooow! Baru kali ini ngerasain pasir pantai dingin banget. Buset nih pasir kayak baru disimpen di kulkas. Terus Aul tambah norak! Hiyaaay Best time ke Gwangalli Beach adalah bulan Oktober karena ada Busan Firework Festival.

Akhirnya Gawangalli Beach menjadi penutup malam itu di Busan. Kami gak terlalu lama di sana soalnya takut jalanan ke hostel makin sepi dan aku yang sepanjang perjalanan pulang masih berharap bisa liat orang mabok Soju pun gagal, kayaknya kurang malem! haha

Advertisements

Day 1: Hampir Gagal ke Korea (Drama di Bandara)

Mungkin pada tanggal 17 Mei 2016 menjadi salah satu hari terlelah buatku. Bagaimana tidak, pada hari itu aku akan ada 2 penerbangan sekaligus yang jamnya lumayan berdekatan dengan durasi masing-masing 2 jam plus dengan pesawat Low Cost Carrier (LCC) pula wkwkw. Pertama adalah penerbangan dari Balikpapan (BPN) ke Jakarta (JKT) pada pukul 08.40 WITA dan akan sampai di JKT pukul 09:55 WIB (terdapat perbedaan waktu 1 jam antara BPN dan JKT).  Keberangkatan berikutnya adalah ke Kuala Lumpur (KL) pada pukul 14.45 WIB. Sambil nunggu Nisa dan Una (teman yang juga akan ke Korea) akhirnya aku sempet keliling terminal 1 A, B, dan C lalu naik shuttle bus ke Terminal 3. Beberapa jam kemudian kami bertemu di Terminal 3. Kami self check in di depan counter AirAsia. Aku dan Una cuma dapet tiket JKT-KL karena kami membeli tiket terpisah. Sedangkan Nisa langsung mendapatkan dua tiket yaitu JKT-KL dan KL-Busan karena memang saat pembelian dia langsung membeli AirAsia JKT-Busan.  Aku dan Una akhirnya baru bisa cetak tiket KL-Busan nanti saat di KL.

Penerbangan JKT-KL ini aku dapatkan cuma Rp 160.000,- lohh. Sebenernya aku bisa dapat lebih murah lagi daripada ini kalau lebih cepet booking nya. Tapi karena murah, kita gak dapet bagasi. Kami cuma dapet jatah bawaan ke kabin 7 kg dengan ukuran koper/tas  maksimal 56cm x 36 cm x 23cm. Agak deg-degan pas masuk ke gate karena takut di timbang. Tapi 2 orang temanku Hanna dan Alia yang dulu pernah pergi dengan AirAsia meyakinkan bahwa koper kita tidak akan ditimbang. Jadi kalau bawaan lebih dari 7kg tetap bisa melenggang ke dalam pesawat. Daaaan, pada saat masuk antrian masuk gate, apa yang kami khawatirkan kejadian juga. Ternyata ada random check gitu. Jadi ada mas-mas dari AirAsia yang tiba-tiba nangkring di depan gate dan ngecekin koper penumpang satu-satu untuk ditimbang. Aku, Una, dan Nisa jadi sedikit panik. Gimana gak, bawaan kita semua lebih dari 7kg hha. Aku sepanjang ngatri terus berdoa semoga masnya cepetan pergi atau Allah jadiin koperku invisible saat itu juga. Saat mendekati meja pengecekan tiket dan hampir deket dengan mas yang nimbang koper, Nisa ternyata kopernya cuma diangkat doang gak sampe ditimbang, karena diantara kita bertiga emang koper doi yang sedikit kecil, jadi tidak mencurigakan. Sedangkan Una lolos dari pengamatan masnya, jadi melenggang ke dalam gate dengan santainya (padahal dari koper kami bertiga, koper dia yang paling berat btw wkwk). Dan pada saat giliranku… Koperku diangkat oleh masnya, dan ditimbang! OMG! Sumpah saat itu deg-degannya luar biasa khawatir di suruh beli bagasi karena bawaan kabin melebihi kuota. Namun, engingeng … koperku lolos! Masih setengah nggak percaya sih. Wkwk

Oke oke, akhirnya kami terbang selama 2 jam ke KL. Sampai di KL pukul 18.00 kami langsung ke bagian transfer. Rencananya sih mau keliling KLIA2 tapi kami udah capek banget. Apalagi aku yang udah terbang dari Balikpapan. Setelah sholat magrib kami memutuskan untuk makan di Level 3 (Foodcourt area) rata-rata makanan di sana 16 RM. Gaperlu beli minum karena disana terdapat beberapa keran air minum. Lumayan hemat 3-4 RM LOL. Setelah makan kita ke Movie Lounge di Level 2. Menurutku tempat ini lumayan pewe buat tidur, ada colokan juga di sana. Banyak bule-bule tidur ngemper di lantai dekat Movie Lounge, jadi kalau mau tidur di lantai pede aja. Hihi

Setelah leha-leha akhirnya pukul 21.30 kami memutuskan ke Gates P. Kalau dari layar yang kami lihat, penerbangan ke Busan adalah Gate P10. Buset jauh juga ternyata. Nyampe-nyampe depan gate udah jam 22.00. Nah, di sini nih kita mulai celingak-celinguk. Penerbangan kami memang belum. Saat itu petugas masih sibuk memanggil penumpang dengan penerbangan ke Sydney. Kami akhirnya sedikit janggal saat menyadari tidak ada mesin Self Check in di sekitar ataupun di dalam gate!!! Makin panik pas ngeliat kok semua penumpang yang ngantri udah pada megang tiket masing-masing yaaa?! Huaaa, aku dan Una mulai panik. Mau tanya ke penumpang yang lalu lalang rada takut soalnya mereka rata-rata lagi pada buru-buru masuk ke gate P10, petugas pun begitu. Pada sibuk banget. Tapi akhirnya aku lihat bule gitu yang lagi duduk, aku tanya di mana dia nyetak tiket? Ternyata dia kasusnya sama kayak Nisa. Udah dapet tiket dari negara asalnya, jadi gak tau yang transit pada nyetak tiket di mana. Akhirnya aku dan Una cari gate lainnya yang lagi gak sibuk untuk ditanyain. Akhirnya di gate P12 ketemu petugas yang menurutku rada jutek hufft. Dia juga gak tau apa-apa dan nyuruh kami untuk ke counter AirAsia yang berada di depan pintu Transfer. Well, itu lumayan jauh btw. Hmm, akhirnya aku dan Una nitip koper kami ke Nisa. Kami melewati bagian cek bawaan (itu namanya apasih? wkwk) Mereka sempet nanya kita mau ke mana. Soalnya memang di situ gak tersedia pintu buat keluar. Kami menjelaskan kalau kami belum check in dan nyetak tiket untuk ke Busan. Kami juga sempet nanya ke mereka dan mereka menyarankan kami untuk ke counter AirAsia.

Akhirnya kami lari-lari kayak orang bego ke information center untuk memastikan. Mereka juga menyarankan untuk ke AirAsia Counter. Lari-lari cantik lagi ke counter AirAsia yang dekat gate Transfer. Saat itu udah pukul 23.00 lewat kalau gak salah. Kami ke counter dan dijutekin sama mbaknya. Busetttt! Dia sibuk main hp bokk. Terus jawab pertanyaan kita ketus banget. Gak tau apa nafas kita udah tinggal di ujung nih 😦 Dia bilang kita harus keluar imigrasi dulu buat self check in. Jadi harus keluar naik eskalator dulu. Terus aku tanya, kalau aku web check in aja gimana? Apa tetep butuh tiket yang berbentuk kertas? Dia bilang tetap perlu dengan jawaban dan muka yang ketusnya bertambah 5x lipat dengan hp yang gak lepas dari tangannya. Hufttttttt! Opsi lainnya, kita bisa ke Sama-Sama Hotel yang ada di Level 3 (deket foodcourt) tapi berbayar dan Una maupun gue gak bawa duit sama sekali. Semua dompet kita tinggal ke Nisa. Ya Allah kita mau pingsan. Akhirnya aku bilang ke Una, daripada kita ambil duit ke Gate P10 yang juga jauh terus balik lagi ke Sama-Sama Hotel yang sebenernya belum pasti apa kita bisa ngeprint apa nggak mending kita langsung aja keluar Imigrasi dan Self check in (saat itu dalam otakku dan Una, Imigrasi itu deket). Kami lari naik eskalator. Sumpah kakiku berat banget. Sesekali aku terus melihat jam. Imigrasi gak keliatan juga. Saat itu KLIA2 keliatan sepi banget. Cuma ada beberapa petugas yang kayaknya juga bersiap untuk pulang. Beberapa petugas kami tanyakan di mana mesin self check in semua menunjukkan arah ke depan, namun kami tidak tahu dimana ujungnya. Nafas una dan nafasku sudah sangat jelas terdengar tak beraturan. Aku sebenarnya juga udah pasrah kalau memang kita gagal ke Korea dan harus menghabiskan 9 hari di Kuala Lumpur karena sebentar lagi batas waktu terakhir check in 😦

Di sepanjang jalan, kami terus bertanya setiap bertemu petugas.  Saat bertanya juga omongan kami mulai gak jelas, percampuran antara capek, kaki sakit, sedikit panik dan bingung. Petugas yang kami tanya juga selalu menjawab pertanyaan kami sekenanya sambil menunjuk ke depan dan bilang “Exit”. Lah ini kita udah lari dari tadi dimana exit nya deh :(. Setelah lari lumayan jauh akhirnya kami melihat kantor AirAsia, aku masuk dan bertanya dimana bisa cetak tiket. Tau gak, petugasnya cuma bilang, “Bukan di sini” What? Gitu doang jawabnya? Aku dan Una akhirnya keluar kantor tersebut. Sedikit kebingungan dan akhirnya ada mas-mas dari AirAsia yang liat kita kebingungan di luar terus nyamperin dan ngasih arahan di mana imigrasi. Setalah bilang makasih, kita lari lagi kayak Bolt wkwkw. Akhirnya kita lihat gate imigrasi. Huft akhirnyaa. Udah sepi banget. Pas jari telunjukku di scan, tanganku bergetar saking capeknya lari sehingga beberapa kali disuruh beberapa kali ngulang nempelin jari telunjuk. Keluar dari gate imigrasi akhirnya kita liat mesin self check in. Huaaaa, tuh mesin udah kayak berlian. Bersinar-sinar di mataku, pengen banget dipeluk hhu. Pas banget kita sampai 1 jam 15 menit sebelum flight, yang berarti udah jam 00.00 (Close Gate 00.45) bokk. Aku dan Una berarti tadi lari-lari kayak orang gila selama 1 jam. Gilaaak, selama ini gak pernah sama sekali olahraga dan sekarang disuruh lari 1 jam itu rasanya … hhu.

Setelah check in akhirnya aku dan Una lari lagi menuju gate P10. Pas masuk ke imigrasi lagi buat dapetin cap keluar Malaysia, aku dilayanin mbak-mbak gitu. Buset lagi-lagi aku dijutekin, hufft kenapa sih seluruh KLIA2 kayaknya pada jutek amat. Pengaruh udah malem apa ya. Terus tuh mbak mbak sambil chat masaaa. Terus dia ketawa-ketawa sendiri gitu sambil ngeliatin terus layar HP nya. Pas bagian scan jari telunjuk tanganku masih agak bergetar efek lari. Jadi berkali-kali di suruh ulang scan. Aku juga akhirnya jadi gak sabar. Dia juga sibuk banget sama HPnya ihhh. Terus dia bilang, “Tangannya tolong ditempelin yaaa. Jangan di lepas-lepas! Mau pulang nggak?” (dengan bahasa Malay) Grrrr, kalau aku lagi gak buru-buru, aku jawab juga nih doi. Sumpah sebel banget, aku cuma diam aja sambil menggerutu dalam hati. Hhuhu. Keluar dari imigrasi akhirnya aku lari bareng Una. Nyampe gate P10 aku sama Una minum sepuasnya. Bahkan orang yang bagian cek barang udah hapal muka kita dan nanya, “Gimana? Udah dapat tiket?” Huhu, udaaah Pak Cik udaaaah. Sambil nangis darah. Gak lama setelah itu akhirnya open gate, dan kita duduk udah kayak orang teller. Nafas udah gak beraturan.

Sumpah ini pengalaman banget sih. Aku jadi tau banget kalau connecting flight LCC (kalau kalian beli tiketnya terpisah) tuh ternyata harus keluar dulu lewatin imigrasi karena tempat cetak tiket ada di bagian luar. Jadi jangan langsung masuk Transfer yaa. Atau kalau kalian males keluar imigrasi, cara lainnya adalah ke Sama-Sama Hotel yang ada di Level 3 (tapi aku belum pernah). Setelah kejadian ini akhirnya kami menyadari bahwa KLIA2 itu luas banget, tidak hanya sebatas Gates P dan Q. Selain itu aku ngerasa kayaknya kita emang disuruh latihan sama Allah, karena ternyata selama di Korea Selatan kita banyak banget jalan dan lari, jadi kaki (agak) sedikit kebal. Hiyeeeey!

Day 1 : Hampir Gagal ke Korea (Tiket yang Gak Keluar)

Aku yang berada di Balikpapan (BPN) dan tiket penerbanganku yang start dari Jakarta (JKT) membuatku harus membeli tiket pp BPN – JKT lagi. Penerbanganku ke Kuala Lumpur (KL) adalah pada tanggal 17 Mei 2017, awalnya pengen main ke JKT dulu jadi pengen ambil keberangkatan pagi dari JKT tanggal 16 Mei 2016. Tapi karena galau membeli tiket kapan akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiket ke Jakarta H-3 JAM wkwk pada tanggal 16 Mei 2016. Tergiur dengan harga tiket murah akhirnya aku membeli tiket di Reservasi.com. Setelah melakukan pesanan untuk tiket pulang pergi beberapa menit kemudian pihak Reservasi.com hanya memberikanku tiket JKT-BPN (Citilink) sedangkan tiket BPN-JKT (Sriwijaya Air) belum ada sama sekali.

Aku mencoba menelpon Reservasi.com ternyata customer service mereka baru beroprasi pukul 08.00 pagi waktu Jakarta. Itu berarti jam 09.00 pagi waktu Balikpapan hufft. Sedangkan tiket yang belum keluar itu adalah tiket untuk penerbangan jam 9.45 di hari itu juga. Sedikit panik sih akhirnya aku memutuskan untuk menelpon pihak Sriwijaya Air untuk memastikan apakah namaku sudah tercantum atau belum dalam sistem mereka. Saat aku telepon Alhamdulillah customer service mereka beroprasi dan saat aku tanyakan apakah namaku sudah terdaftar dalam penerbangan pukul 09.45 WIB mereka mengatakan bahwa namaku belum terdaftar. Mendengar jawaban tersebut akhirnya aku sedikit lega. Berarti aku tidak perlu terburu-buru ke bandara saat itu juga. Namun, kesal juga kenapa kok bisa tiketku tidak keluar padahal aku melakukan pembayaran pada waktu yang hampir bersamaan dengan tiket JKT-BPN. Berarti memang fix, pihak Reservasi.com belum memesankan tiket untukku pagi ini. Akupun menunggu hingga pukul 09.00 WITA sampai CS Reservasi.com buka.

Pada akhirnya aku telepon mereka dan ada yang mengangkat teleponku. Aku meluapkan semua keluhan dan mempertanyakan mengapa tiketku belum keluar juga. Mereka lalu meyuruhku mengirimkan bukti pembayaran ke email mereka dan mereka berjanji akan memberikan kabar secepatnya setelah menerima email dariku. Tidak lama kemudian mereka menelponku lagi dan memohon maaf bahwa benar tiketku memang belum keluar padahal uangku telah terdaftar dalam catatan mereka. Kesel dong! Dan mereka menawarkan untuk memesankan tiket saat itu juga. What! Ini tinggal 30 menit lagi dan aku belum ngapa-ngapain. Belum lagi check in. Gak bakal sempat lah yaa. Akhirnya aku minta mereka me-reschedule tiketku dengan jam yang sama namun hari yang berbeda yaitu besok, karena saat aku lihat ternyata harganya sama saja bahkan lebih murah dari yang aku bayarkan.  Tapi mereka gak mau hhu. Katanya sesuai prosedur perusahaan harus refund. Oke, bagus klo refund. Aku juga butuh uangnya segera. Akhirnya gue lega dong dan nunggu duit gue di refund. Mungkin beberapa jam lagi duitku bakal balik, pikirku.

Tapi setelah beberapa lama kemudian, khawatir tiket melambung naik dan aku butuh banget penerbangan besok pagi akhirnya aku menelpon pihak Reservasi.com untuk menanyakan jam berapa kira-kira duitku bisa di refund. Namun, saat aku menelpon mereka jawaban yang aku dapatkan sungguh mengecewakan. Sebelumnya mba-mba yang ngomong pertama kali denganku mengatakan bahwa proses refund akan diusahakan secepatnya bahkan bisa hari itu juga karena hal tersebut merupakan kesalahan dari pihak Reservasi.com. Namun kali ini mereka membalas bahwa proses refund membutuhkan waktu 30 HARI KERJA atau paling cepat 15 HARI KERJA. Aku benar-benar kesal, tapi mau gimana lagi, ngomel-ngomel sampe bibir doer ke mereka juga gak akan ada gunanya kan. Hufft akhirnya aku beli tiket baru lagi dengan uang yang baru 😦 . Masih trauma dengan pembelian online, takut tiket gak keluar lagi akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiket di travel dekat rumah. Alhamdulillah dapat harga yang gak jauh beda, cuma beda 10rb. Huff, tau gitu beli disini aja. Daripada tiketku gak keluar sama sekali yang akhirnya berujung duit 606 ribu ku ilang dan di refund entah kapan 😦

Pokoknya kalau 15 hari kerja mereka belum transfer juga, bakal aku teror lagi. Huhu duit segitu kan gak sedikit huffft. Saat itu sumpah aku takut banget gak dapet tiket ke JKT besok pagi karena penerbangan dari JKT ke KL juga besok tapi di siang harinya.

So guys, pelajaran yang bisa diambil adalah jangan cepat tergiur dengan tiket-tiket murah dari web yang belum tentu terpercaya ya. Apalagi bedanya gak jauh. Ohya dan satu lagi! Jangan beli tiket dadakan hhi.

Happy Traveling!

Berkali-kali Mengalami Kegagalan, 8 Alasan Ini Membuatku Berdamai dengan Kegagalan

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Bahkan saat kita masih merangkak dan mencoba untuk belajar berdiri kita pasti berkali-kali gagal namun mencoba berdiri lagi hingga akhirnya bisa untuk berlari. Itulah sebuah fase kehidupan, dimana ada keberhasilan pasti ada kegagalan sebelumnya. Di suatu hari aku tergelitik dengan sebuah chat yang dilontarkan oleh adik kelasku di sebuah grup yang mana kami berdua tergabung di dalamnya. Ia mengingatkan bahwa dulu aku pernah mengikuti kompetisi menulis  dengan hadiah traveling ke Bali dan minta tolong sana-sini termasuk minta tolong ke dia untuk vote tulisanku (karena salah satu penilaian adalah vote terbanyak).

Kompetisi tersebut terdiri dari 3 gelombang yang setiap bulan/gelombangnya diumumkan 1 orang pemenang. Setiap gelombang berturut-turut aku ikuti, berturut-turut juga aku chat temanku satu persatu untuk memberikan vote, berturut-turut pula aku mengalami kegagalan alias kalah. Padahal aku ingin sekali menjadi pemenang dalam lomba  tersebut. Bagaimana tidak, hadiahnya berlibur ke Bali, pulau yang mana begitu terkenal hingga seantero mancanegara namun seumur hidupku belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Ditambah ada kehadiran Alanda Kariza yang merupakan salah satu penulis favoritku akan menemani kami selama di Bali, serta undangan untuk menghadiri Ubud Writer Festival 2015. Wow! Dari dulu aku sangat mengidam-idamkan bisa hadir dalam festival ini dan bisa bertemu dengan penulis terkenal Indonesia maupun mancanegara. Namun apa daya, saat itu aku harus menelan pil pahit kegagalan. (Baca juga : Perjuangan Perempuan yang Menjadi Anak Pertaman dan Terus Berjuang Meski Jauh dari Keluarga)

gagal 1

thefixlerfoundation.org

Tak lama setelah bermuram durja efek gagal berkali-kali aku akhirnya menyadari bahwa di setiap kegagalan pasti ada keberuntungan yang mengikuti. Pada akhirnya keberuntungan itu datang juga tanpa kusangka-sangka. Jadi, beberapa hari kemudian temanku mengajak untuk ke Surabaya – Banyuwangi – Bali dengan kereta api sebelum masa perkuliahan tiba. Hal yang paling mengejutkan adalah selama di sana aku tidak perlu memikirkan biaya apapun. Semuanya gratis tis tis. Ya ampun, ternyata walaupun aku gagal untuk menghadiri Ubut Writer Festival dengan penulis favorit setidaknya aku bisa pergi traveling bersama teman terbaikku dan gratis pula. Bahkan akan melewati Surabaya dan Banyuwangi! Aku belum pernah sama sekali ke sana juga. Luar biasa, ternyata rencana Tuhan lebih indah. Bukan hanya kegagalan ke Bali yang pernah aku alami, namun masih banyak kegagalan lainnya yang memang sakitnya minta ampun, sampe bikin gak mood melakukan apapun. Namun, kini aku tidak lagi pernah mengeluh seperti dulu, karena aku tahu Tuhan akan memberikan jalan terbaik bagi hambanya yang terus mau berusaha. Aku tidak lagi pernah merasa takut dengan kegagalan dan mencoba berdamai dengan kegagalan itu.

Berikut 8 alasan yang akhirnya membuatku berdamai dengan kegagalan, karena …

  1. Gagal mengajarkanku untuk selalu berprasangka baik
gagal 2

picjumbo.com

God’s has perfect plan for those who have failed. Melalui kegagalan kita diajarkan untuk selalu berperasangka baik dengan apa yang telah direncanakan Tuhan. Hal itu sama seperti yang telah aku ceritakan di atas, ternyata dengan kegagalan aku bisa mendapatkan yang lebih baik. Walaupun gagal pergi ke Ubut Writer Festival namun aku bisa ke lebih banyak tempat yang tak pernah aku datangi sebelumnya.

  1. Gagal memperlihatkan siapa teman-teman yang memang tulus menolong saat berada di titik terbawah

 

gagal 4

uhdwallpapers.org

Pernah mendengar kutipan mengenai siapakah teman sejati itu? Teman sejati adalah teman yang berada di samping kita tidak hanya di saat kita sedang senang melainkan juga di saat kita mengalami kegagalan. Jika kamu tidak pernah berada di titik kegagalan mungkin kamu tidak akan pernah tahu mana teman yang memang tulus berteman denganmu. Sedangkan jika kau pernah mengalami kegagalan kamu akan mengetahui siapa teman yang terus memberikan support dan selalu berada di sampingmu saat kamu mengalami kegagalan. (Baca juga: Belajar dari Geng Cinta dan Waspadai 5 Tanda Persahabatan Tidak Sehat Berikut Ini)

  1. Gagal membuat jadi lebih kuat!
gagal 5

sauj4.com

Don’t be frightened of failure. It makes you stronger if you learn from your mistakes (Mark Lawrenson) kutipan tersebut memanglah benar bahwa kegagalan akan membuat kita semakin kuat. Tanpa kekegalan kita akan mengira semua yang kita inginkan mudah kita peroleh sehingga jika nanti kita dihadang oleh satu tantangan maka kita akan lemah dan gampang untuk menyerah. Hal ini pernah dialami oleh salah seorang yang pernah dijuluki sebagai ratu talkshow yaitu Operah Winfrey yang kemudian mampu bangkit kembali setelah mengalami kegagalan bertubi-tubi. Kegagalan menjadikannya lebih kuat karena mengetahui dimana kelemahannya. Hal tersebut juga yang terjadi padaku, meskipun aku gagal memenangkan perlombaan menulis dengan hadiah ke Bali berkali-kali, setidaknya aku menjadi tahu dimana titik kelemahan penulisanku dan tahu bagaimana strategi yang lebih baik lagi untuk memperoleh banyak vote hhe. (Baca juga :Kamu Termasuk Perempuan yang Kuat Jika Memiliki 7 Kepribadian Berikut)

  1. Gagal menjadikanku lebih berpengalaman
gagal 6

babycouture.in

Dengan kegagalan akhirnya aku mendapatkan banyak sekali pengalaman. Mulai pengalaman mengenai bagaimana menulis catatan perjalanan, pengalaman bagaimana rasanya gagal, dan sebagai bonusnya, aku memiliki pengalaman jalan-jalan ke Surabaya-Banyuwangi dan Bali dengan berbagai macam kereta. Mulai dari kereta ekonomi, bisnis, hingga eksekutif. Jika aku menang, mungkin aku tidak akan merasakan itu semua.

  1. Gagal menjadikanku mampu berpikir lebih keras untuk mencari peluang lain
gagal 7.jpg

noticias.universia.edu.pe

Sebenarnya saat gagal menang perombaan itu aku akhirnya berfikir untuk mencari peluang untuk pergi ke Bali, mulai dari mencari informasi lomba/kuis berhadiah ke Bali  hingga menabung dengan uang pribadi. Namun, tak diduga, sebelum aku melaksanakan itu semua, temanku akhirnya mengajak untuk pergi ke sana gratis. Yeay! (Baca juga:  Gagal Masuk Jurusan Kuliah Yang Kamu Idamkan? Berikut 7 Tips Agar Kamu Betah dan Sukses di Jurusan yang Lain!)

  1. Gagal membuatku menjadi lebih bersabar dalam menunggu sesuatu
LsTPqw9JBUg.jpg

vk.com

Aku merupakan tipikal orang yang tidak sabaran, namun dengan kegagalan aku menjadi sadar bahwa segala sesuatu tidak semuanya bisa cepat. Ada proses yang harus kita lewati sehingga kita menjadi lebih sabar dalam menunggu. Namun, sabar menunggu di sini jangan diartikan sebagai sesuatu yang pasif yaa. Dimana kita hanya menunggu saja, siapa tau ada duren runtuh. Haha, kalau begini bukannya nikmat yang didapat melainkan bisa saja sakit karena terlalu banyak berharap. Bersabar juga tentunya diiringi terus dengan usaha dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Tuhan.

  1. Gagal membuat jadi lebih paham bahwa hidup tidaklah semudah dan seindah negeri dongeng!

 

gagal 8

tucsonweekly.com

Mungkin pada masa kecil kita sering dicekoki kisah-kisah putri dongeng yang mana akan hadir seorang Peri baik hati yang akan menolong dan memberikan apa saja yang kita inginkan dengan cepat. Kalau kalian merasa itu akan terjadi juga di dunia nyata berarti artinya kita harus WAKE UP! Segala sesuatu perlu usaha. Dunia nyata tak seindah negeri dongeng. Hidup memang tidaklah mudah yang segala sesuatunya bisa kita dapatkan secara instan. Bahkan mie instan pun perlu waktu hingga akhirnya bisa kita nikmati. Apa yang kita inginkan harus kita perjuangkan sendiri. Tidak akan ada yang bisa memperjuangkan keinginanmu selain dirimu sendiri. Tidak ada peri dengan tongkat ajaibnya, tidak ada hujan yang jatuh begitu saja dari langit tanpa melalui proses, dan Stephanie Mayer tidak akan pernah seterkenal sekarang jika ia menyerah dengan kegagalannya saat harus ditolak sebanyak 14 kali oleh penerbit. See, dunia memang kejam, orang tidak akan sukses jika memang dirasa belum siap untuk itu. (Baca juga: Kutipan Dari Paulo Coelho Ini Akan Memotivasimu Untuk Percaya Pada Mimpimu Sendiri)

 

  1. Gagal menjadikanku lebih menghargai proses
gagal 9

ifjuhumanistak.hu

Yap. Gagal memang akhirnya membuat kita menghargai setiap proses yang kita lewati. Kita akan menyadari jika mampu melewatinya satu persatu. Kita akan menjadi tahu bahwa melalui kegagalan kita akan menghargai apa yang telah kita lakukan. Berbeda jika kita mendapatkannya secara instan, kita akan dengan mudahnya meremehkan segala sesuatu dan akan menggerutu jika kita harus melewati proses yang panjang. Hal ini yang aku dapatkan saat aku menginginkan bekerja di sebuah perusahaan, aku saat itu benar-benar yakin bahwa aku akan diterima di perusahaan tersebut. Tapi kenyataannya tidak. Aku mendapatkan email bahwa aku gagal untuk masuk ke dalam perusahaan yang sudah lama aku impi-impikan. Tapi aku melihat bahwa ada proses menuju keberhasilan di sini. Aku akhirnya tahu bahwa memang ini adalah proses dari bagian hidupku yang nantinya bisa aku ceritakan kepada anak cucuku setelah aku sukses kelak. Kembali ke poin 1, bahwa memang yang kita butuhkan adalah terus berbaik sangka. Termasuk berbaik sangka dengan proses yang telah kita jalani. (Baca juga: Saya yang Tidak Lulus SMA, Sekarang Bisa Mengakuinya dengan Bangga. Inilah 5 Pelajaran yang Saya Dapatkan dari Kegagalan)

Cara Membuat SKCK dan Keterangan Belum Menikah dari KUA

o-happy-women-facebook

Image by mgood.me

Bagi teman-teman yang akan mendaftar kerja atau mendaftar di sekolah kepolisian atau sejenisnya mungkin tidak asing dengan SKCK dan Keterangan Belum Menikah dari KUA yang menjadi syarat untuk apply di beberapa tempat kerja. Khususnya di Balikpapan misalnya, hampir semua perusahaan yang membuka lowongan pasti membutuhkan kedua surat tersebut. Jadi, pas nyampe di sini aku rada bingung buatnya gimana? Harus kemana? Tanya kakak, dia juga udah lupa katanya. Jadi aku memanfaatkan teknologi yang selama ini paling membantu yaitu Google hhe. Nah, nemu tuh beberapa blog yang membahas ini. Nah pas baca, kok syarat untuk pembuatan SKCK dan surat keterangan belum menikah ribet ya? Harus ada surat pengantar ke RT Kelurahan Kecamatan huftt. Belum lagi kelurahan dan Kecamatan itu jauh dari rumah. Gak mau dong udah capek-capek ke sana tapi nyatanya surat keterangan RT Kelurahan dan Kecamatan itu gak kepake? Akhirnya aku mencoba telpon Polres Balikpapan (soalnya kata temen kalau SKCK bisa di Polres) Tapi pas aku telpon Polres Balikpapan, nomornya kayak diangkat tapi gak ada yang ngomong. Yasalaam… Cuma mau nanya doang kok pak, nggak ngajak kenalan atau nikah 😦 Nah, kalau KUA kebalikannya nih pas aku telpon fast response banget hha.

Akhirnya untuk SKCK aku langsung ke POLRES buat nanya persyaratannya, ternyata yang dibutuhkan adalah

  1. Foto berwarna 4×6 sebanyak 4 lembar dengan background MERAH
  2. Fotocopy KTP/SIM
  3.  Membawa fotocopy Akta Kelahiran/Kenal Lahir
  4. Mengisi Formulir Daftar Riwayat Hidup yang telah disediakan di kantor Polisi dengan jelas dan benar.
  5. Pengambilan Sidik Jari oleh petugas (Bayar Rp 10.000)
  6. Biaya Registrasi Rp 13.000

Banyak yang bilang harus ada surat pengantar dari RT, Kelurahan, lalu ke Polsek setempat. Tapi ternyata itu gak perlu, kecuali kalian kalian akan mendaftar untuk CPNS. Usahakan saat kalian mengurus SKCK datang pagi-pagi banget yaa, biar ga ngantri. SKCK bisa jadi hari itu juga jadi gak repot bolak-balik deh

Nah untuk Surat Keterangan belum Menikah dari KUA kalian hanya membutuhkan

  1. Surat Pengantar dari RT -> Kelurahan
  2. Kartu Keluarga
  3. Surat Pernyataan belum Menikah
  4. KTP saksi (gak boleh orang yang dalam 1 KK dengan kita)

Nah, gampang kan? Semuanya bisa jadi hari itu juga loooh. Gak perlu nunggu lama berhari-hari. Semangat!

10 Rahasia ini Dapat Membantumu Mendapatkan Tiket Pesawat Murah

Seringkali ingin traveling namun terhambat dengan budget yang terbatas? Apalagi status yang masih mahasiswa dan belum memiliki penghasilan sendiri. Terus, gimana? Travelingnya tunggu udah kerja atau tunggu diajak orang tua gitu? Tenang, Kalian bisa mensiasatinya kok dengan meminimalisir pengeluran yang paling besar saat traveling, salah satunya adalah dengan mencari tiket murah. Selain akomodasi atau hotel, salah satu pengeluaran terbesar saat kita traveling ada di tiket pesawat (ranseltravel.com). Namun, perlu strategi untuk mendapatkan tiket pesawat murah yang nantinya cukup membantu mengurangi pengeluaran kita loh. Berikut ini 10 rahasia yang dapat membantumu mendapatkan harga tiket murah, yuk di simak 🙂

1. Pastikan Kamu Memiliki Koneksi Internet

27042016 12

Kini apapun dapat kita lihat di internet. Internet dapat memudahkan kita untuk memantau harga tiket dimanapun kapanpun. Bahkan ada quotes yang mengatakan bahwa I don’t need a stable relationship, I just need a stable internet connection. Hahah. Hal tersebut menunjukkan bahwa internet kini sudah sangat penting. Adanya wifi atau internet dapat menjadikan kita dapat mencari informasi sebanyak-banyaknya termasuk harga tiket murah. Aku selama ini sangat merasakan manfaat adanya internet dalam membantuku mencari tiket yang murah. Sudah hampir 3 tahun belakangan aku tidak pernah lagi ke offline tour and travel untuk membeli atau sekedar mencari tiket dengan harga terbaik. Aku merasa dengan internet aku dapat mencari tiket dengan harga yang lebih murah kapanpun dimanapun. Sebagai anak kuliahan (dulu) dengan koneksi internet yang lumayan di lingkungan UI, pergi ke Margonda untuk membeli tiket agak menyita waktu. Aseeeek :p

 

2. Tidak Memesan Tiket pada Waktu Dekat

27042016 17

Usakahakan untuk menghindari pemesanan tiket dekat dengan hari H atau baru membeli tiket saat udah di bandara hmm (kecuali memang kamu punya rencana dadakan ya, itu lain cerita hhe). Apalagi saat itu merupakan peak season atau saat musim lebaran misalnya. Wow, harga tiket gak perlu ditanya lagi. Jika memang liburanmu bukan yang secara dadakan, usahakan mencari tiket jauh-jauh hari ya. Tiket yang murah bisa kita dapatkan bisanya 2-6 bulan sebelumnya. Promo tiket dari AirAsia atau TigerAir misalnya, biasanya mereka memberikan promo untuk penerbangan minimal 3-12 bulan dihitung dari tanggal promo itu diberikan.

Eits, tapi tidak menutup kemungkinan juga sih akan ada tiket murah menjelang hari H. Seperti aku yang akhir-akhir ini sering banget membeli tiket rute Jakarta – Balikpapan atau sebaliknya di H-2 atau H-1 keberangkatan. Jika diamati, pembelian tiket untuk rute tersebut kayaknya sama aja kalau aku beli sebulan atau menjelang hari H. Bahkan beberapa kali aku mendapatkan harga yang lebih murah jika dibandingkan dengan memesan sebulan sebelumnya , saat itu sedang peak season loh. Tapi hal ini kayaknya gak berlaku untuk banyak rute di Indonesia, yang jika mendekati peak season harga tiket bisa melambung tinggi.

Usahakan juga mencari tiket pada weekdays, karena pada weekdays harga cenderung lebih murah jika kalian mencarinya saat weekend, hmm mungkin dengan asumsi saat weekdays umumnya orang sibuk kerja dan ga sempat untuk iseng berburu tiket murah. Berbeda jika weekend, banyak orang yang memiliki waktu luang sehingga peluang untuk mencari tiket murah lebih banyak.

3. Selalu Pantau Promo Tiket

27042016 22

Image by Piretes.wikia.com

Yap! Selalu pantau promo tiket. Beberapa temanku selalu bertanya, “Kok kamu bisa tau sih kalau ada promo tiket ini dan itu?” Ya, salah satu rahasianya harus rajin pantau harga dan promo tiket. Jangan lupa untuk follow media sosial beberapa maskapai yang memang sering memberikan promo tiket gila-gilaan. Misalnya Free Seat dari AirAsia, Beli Pergi Pulangnya Dibayarin dari TigerAir, dan masih banyak lagi yang lainnya. Aku juga biasanya berlangganan newsletter dari mereka. Jadi, gak semuanya newsletter nyebelin karena nyampah kok hha. Biasanya dengan berlangganan newsletter dan memantau media sosial mereka, aku menjadi lebih tahu lebih dulu ketika memang akan ada promo besar-besaran. Seperti AirAsia dan TigerAir misalnya bahkan aku memilih pilihan adanya notifikasi di akun facebook  jika mereka posting sesuatu loh. Saking gak mau ketinggalannya hhe 🙂 Ohya karena selalu memantau promo tiket ini, pernah loh aku dapet tiket dengan harga murah banget. Misalnya saat ke JKT-KUALA LUMPUR dapet harga Rp 300.000,- PP (Gilak ini udah ngalahin tiket pulang ke Balikpapan), JKT-SINGAPORE PP Rp 500.000,- (Banyak yang lebih rendah dari harga ini lagi loh), JKT-KL Oneway Rp 150.000,-. Ohya, selain itu banyak lagi harga tiket yang aku lihat kebeberapa tujuan dan lebih parah murahnya, tapi tetep ga beli karena terhambat oleh tanggal yang gak cocok.

27042016 1

Notifikasi yang aku atur agar ON di akun Facebook AirAisia

4. Cek Harga Tiket di Mesin Pencari Tiket

Dengan adanya teknologi kita sekarang sangat dibantu banget loh untuk mencari tiket dengan harga terbaik. Salah satunya yaitu menggunakan web pencari tiket (kok istilahnya rada aneh ya). Yap, ada beberapa web pencari tiket yang aku tahu. Menurutku mereka ini ibarat seperti Google khusus mencari tiket dengan harga terbaik hhe. Pertama yang aku tahu adalah Skyscanner. Mungkin diantara kalian banyak yang udah tahu Skyscanner itu apa, tapi ternyata banyak juga yang masih asing dengan web ini loh. Beberapa temanku yang kusarankan menggunakan Skyscanner untuk mencari tiket murah bahkan katanya belum familiar dengan web tersebut. Selain Skyscanner, beberapa web yang belakangan aku tahu sejenis dengan Skyscanner adalah Kayak.com,  Momondo.com, Google Flights, dan Hipmunk. Prinsip web tersebut adalah membandingkan harga tiket dari beberapa web penjual tiket yang selama ini juga terkenal memberikan harga tiket yang terbaik (Seperti Via.com, Expedia, GotoGate, Mytrip, Tiket.com, bahkan situs dari maskapai penerbangan itu sendiri).

Selain itu, Skyscanner memudahkan kita yang fleksibel dengan rute dan waktu keberangkatan untuk mencari rute dengan harga termurah looh. Ini sangat memudahkan saya banget saat menjadi mahasiswa dulu yang waktunya fleksibel LOL. Ohya, gegara mencari tiket di situs pencari tiket ini aku pernah loh mendapatkan tiket promo Garuda Indonesia dengan rute Balikpapan – Jakarta cuma 400 ribu. Jarang-jarang kan bisa naik Garuda dengan harga segitu (nasib mahasiswa). Bahkan saat aku tanyakan harga ini ke counter resmi Garuda Indonesia yang kebetulan deket dengan rumah, mereka bilang gak ada harga tiket segitu, mungkin itu hanya dijual online saja. Hah! Lumayan, bungkus!

27042016 13

Kemudahan yang dimiliki oleh Skyscanner

5. Join di Grup Backpacker atau Traveling

Selain berlangganan newsletter, join dengan grup backpcker di sosial media sangat membantu untuk mengetahui beberapa promo tiket yang bahkan gak di pos di manapun loh. Selain itu, bergabung dengan grup sejenis juga dapat memperkaya pengetahuan kalian mengenai dunia backpacker/traveling. Gak jarang juga mereka membagikan tips agar mendapatkan tiket murah. Kalian mungkin bisa bergabung di forum Kaskus Travellers, BackpackerIndonesia.com, grup facebook Backpacker Dunia dan Pemburu Tiket Promo. Dua grup terakhir yang saya sebutkan merupakan grup andalan yang biasanya sering saya pantau agar mendapatkan info tiket promo hhe.Gak hanya itu, di kedua grup tersebut sering banget dapat info-info berguna dan infonya bener-bener update dibandingkan saya harus cari di Google. Heheh. Pokoknya dua grup itu masterpiece banget deh! Rekomen banget buat kalian join!

 

Ini mereka bukan lagi jualan tiket loh, tapi share harga tiket yang lagi promo. Murah parah!
Sumber : Grup Backpacker Dunia dan Pemburu Tiket Promo

Mungkin kalian kalau hanya mengandalkan informasi dari newsletter dan media sosial maskapai gak akan mendapatkan informasi tiket semurah itu (misalnya ke Paris PP cuma 4jtan by Qatar, ke JKT – London oneway by Garuda Indonesia cuma 2,6 juta). Karena pada kenyataannya setelah mereka share harga semurah itu, aku langsung cek ke media sosial maskapai bersangkutan, tapi mereka gak ada sama sekali nge-publish klo mereka lagi promo semurah itu. Wow!

6. Saat Kamu Mengetahui Besok Akan Ada Promo Tiket Besar-besaran, Bersiaplah untuk WAR!

 

27042016 15

Image by randomwalpapers.net

Kalau di UI pasti pernah ikutan SIAK WAR, yaitu saat dimana kalian akan berebut matakuliah pada hari dan jam dimana pembukaan mata kuliah dimulai. Yap, begitu juga dengan promo tiket. Biasanya, maskapai yang akan mengadakan promo besar-besaran akan mengumumkan 1-2 hari sebelum promo dimulai. Jadi, bersiaplah sebelum pukul 00.00 pada hari H. Biasanya WAR akan ditandai dengan web maskapai yang mulai down haha atau loading yang lama. Sering juga pada tahap pembayaran yang susah banget 😦 Saya sering banget mengalami hal tersebut kalau ikutan WAR di hari H, haha. Kadang semaleman ga tidur nungguin loading yang lama atau pembayaran yang gagal. Huffft. Ada harga ada rupa kan yaaa. Namanya juga tiket promo, kalo gak mau ribet ya beli aja tiket dengan harga normal. Namun, setelah dapat tiket dengan harga yang termurah, sumpah leganya bukan main. Bener-bener kayak menang WAR sesungguhnya!

7. Jangan Memilih Tanggal pada Saat Weekend atau Libur Panjang

Portrait of a young blonde woman sitting in a chair by a window with a laptop on her lap

Image by © Tabor Gus/Corbis

Aku seringkali melihat komentar-komentar di media sosial AirAsia yang menanyakan mengapa saat AirAsia sedang promo Free Seat mereka tidak pernah mendapatkan harga murah seperti yang dikatakan oleh AirAsia? Lalu, saya melihat balasan dari pihak AirAsia bahwa ia disarankan untuk menghindari tanggal-tanggal weekend dan libur panjang. Apalagi bagi kalian yang kalah WAR, jangan harap dapat penerbangan weekend atau pada libur panjang ya. Bisa disimpulkan bahwa semua orang pasti mengincar weekend dan libur panjang sehingga jika kita kurang cepat pasti tiket pada tanggal tersebut habis terjual (:

8. Pilih Rute Terbaik. Transit or Direct?

27042016 16

Image by Google

Apa maksudnya pilih rute terbaik? Yap, terkadang rute yag transit bisa jauh lebih murah dengan rute yang langsung loh. Contohnya pemilihan rute langsung Jakarta ke Paris akan lebih mahal dibandingkan dengan Jakarta – Kuala Lumpur – Paris. Memang entah mengapa, penerbangan yang start from Kuala Lumpur atau Singapore seringkali lebih murah dibandingkan jika kita memilih langsung penerbangan dari Jakarta. Seringkali juga terdapat promo-promo tiket yang keberangkatannya start from Malaysia atau Singapore. Jadi, kalau cari tiket jangan cuma cari keberangkatan dari Jakarta ya, coba lihat penerbangan yang mulai dari Malaysia atau Singapore. Contoh harga yang gila-gilaan dari kedua negara tersebut kalian bisa lihat di poin 5 yaa, yang kalau dibandingkan dengan keberangkatan dari Jakarta jauh banget bedanya loh 😦

Bagi kalian yang ada di daerah, seperti saya dan merasa penerbangan ke Malaysia atau Singapore mahal, ohh jangan sedih. Semenjak ada AirAsia yang melayani penerbangan direct ke Kuala Lumpur dari beberapa daerah di Indonesia menjadikan liburan ke luar negeri bukan lagi sekedar mimpi hhe. Bahkan terkadang harga yang ditawarkan jauh lebih murah jika mengambil penerbangan langsung ke Kuala Lumpur daripada harus pergi ke Jakarta dulu loooh. Well, ini gak di endorse sama AirAsia tapi emang kenyataannya gitu :’)

9. Bergabunglah dengan Frequent Flyer Program

27042016 18

Image by Telegraph.co.uk

Jadi, frequent flyer program adalah program yang diberikan oleh pihak maskapai untuk mempertahankan loyalitas dari konsumen. Apakah berbayar? Program ini bener-bener gratis tis tis! Dengan bergabung program ini kita akan dapat poin atas pembelian yang telah kita lakukan. Contohnya Garuda Indonesia dengan Garuda Miles nya, AirAsia dengan AirAsia BIG, Singapore Airlines dengan KrisFlyer, Cathay Pasific dengan Asia Miles dan masih banyak yang lainnya. Poin yang kita  kumpulkan nantinya dapat ditukarkan dengan tiket gratis atau potongan harga. Nah, lumayan banget kan 🙂

10. Sudah Cari Tiket? Jangan Lupa untuk Hapus Cookies atau History Pencarian yang Telah Dilakukan

27042016 21

Image by Reddit.com

Loh, kok gitu? Yap, beberapa maskapai memasang cookies yang dapat mendeteksi pencarian kalian. Semakin sering melakukan pencarian dengan rute yang sama maka akan terdeteksi bahwa tiket tersebut dibutuhkan dan kemungkinan besar akan dibeli. Maka harga yang tertampil semakin lama semakin naik dari harga sebelumnya. Sering kan merasa, kok semakin lama harganya naik terus yaa? Nah bisa jadi website tersebut mendeteksi pencarian yang kamu lakukan terhadap rute tertentu dan mereka menyimpulkan bahwa kamu sangat membutuhkan tiket dengan rute penerbangan tersebut.

Catatan Banjarbaru: Ala klasik rumah Naomi

Bagaimana nasibku dan Ayu selanjutnya di Banjar? Oke, sekarang aku mau lanjutin. Setelah akhirnya kami berdua dijemput oleh Naomi bahkan ditraktir sarapan :’) kami diajak ke rumah Naomi. Saat sampai di rumah Naomi, benar apa kata Ayu, rumah Naomi memang unik banget. Dari halaman rumahnya sudah terlihat banget nuansa vintagenya. Ada 1 meja dan 2 kursi ala ala vintage berwarna putih dan terdapat karangan bunga juga. Beberapa patung liliput terlihat diantara rerumputan seperti menyambut kami. Di bagian garasi juga terparkir sebuah mobil Volkswagen warna ungu yang aku gak tau tipe apa tapi mobil itu tipejadul sehingga menambah kesan kalau keluarga Naomi memang suka dengan segala sesuatu yang bergaya vintage.

Rumah Naomi 9

Halaman depan rumah Naomi (pic by @Rumah Naomi)

IMG_8449

Pintu masuk utama rumah Naomi terletak di sisi samping kanan rumah, sehingga kami harus melewati garasi dan lagi-lagi kami terkejut dengan dekorasi di depan pintu masuk rumahnya. Disana terdapat ayunan kalau tidak salah dengan rumput buatan di bawahnya. Lalu saat kami akan masuk, Naomi melarang kami untuk melepas sepatu, karena dirumahnya semua orang memakai alas kaki. Karena tidak enak dengan sepatu kami yang kotor banget kayaknya (udah masuk pasar dan nyasar2 di jalanan hhi) akhirnya kami minta sendal jepit yang tidak terpakai untuk digunakan di dalam rumah Naomi. Saat masuk ke bagian ruang tamunya, kami disambut dengan dekorasi yang mengusung gaya Eropa klasik. Ditambah lagi terdapat harpa yang terpajang di sisi tengah ruang tamu.

Masuk ke ruang tengah kami disuguhi dengan dua sisi yang juga gak kalah uniknya. Pada sisi kiri terdapat ruang tempat menyimpan barang-barang koleksi mereka yang unik lainnya disana dan pada sisi yang kanan terdapat ruang untuk bersantai. Konsepnya hampir sama seperti yang aku lihat sebelum masuk ke pintu masuk rumah tadi, tidak ada atap pelindung di atasnya sehingga meja dan kursi saat itu terlihat basah sisa hujan.

Masuk ke bagian ruang makan dan ruang tamu juga nuansa eropa klasik kental sekali. Ibu Naomi yang sedang duduk di ruang makan menyambut kami dengan hangat. Meja dan kursi ruang makan dilapisi dengan alas bermotifkan kulit sapi. Hitam Putih. Aku menjadi teringat film-film Amerika tentang cowboy hha. Ruang tamunya pun begitu. Hihi, dekorasi kamar Naomi juga vintage banget.

Rumah Naomi 3

Ruang makan rumah Naomi (pic by @RumahNaomi)

Rumah Naomi 2

Ruang tamu rumah Naomi (pic by @RumahNaomi)

Bener-bener deh, aku sama Ayu kayak terdampar di dunia dongeng pas masuk rumah Naomi. Yang lebih membuat kami tersenyum adalah di rumah ini punya kebiasaan kalau setiap sore ada semacam tea time gitu. Jadi semua penghuni rumah akan berkumpul di meja makan, berbincang bersama, sambil menikmati sore dan biskuit. Kalau setiap pagi juga hampir sama, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama dan saling menyapa dengan “Selamat pagi!”. Aku sama Ayu cuma bisa senyum-senyum, karna di rumah kami berdua, kalau pagi yaudah sarapan sarapan aja. Bahkan sendiri-sendiri. Wkwkw (maafkan keluarga kami)

Naomi punya adik namanya Anya, tapi kita sering manggil dia Baby Anya. Dia seneng banget sama cerita-cerita princess gitu. Jadi kalau ngobrol sama Baby Anya, sering banget kita diceritain tentang Princess hhi. Rumahnya aja udah kayak dongeng gini :’) Dia cerewet banget hhi, pas kita dateng aja, dia langsung nyambut kita dengan, “Selamat datang di rumah kami.” Dengan gaya bicara bocahnya hhi

Ohya yang membuat aku juga sangat suka dengan keluarga Naomi adalah mereka toleransi banget. Mereka kristiani tapi tetep nanyain apakah kita atau nggak? Punya sejadah dan mukenah untuk sholat? Pas kita bilang nggak bawa, mereka bela-belain minjem mukena dan sejadah ke tetangga 🙂

Rumah Naomi 8Rumah NAomi 10

Hihi, bener-bener ala ala eropa klasik yah! Naomi dan Ibunya juga sering banget ganti-ganti dekorasi rumah mereka. Jadi kalau mereka dapet ide baru, ya mereka akan dekor ulang lagi. Saking uniknya, rumah Naomi juga sering dipakai untuk photo prewed atau untuk bookyear anak SMA. Bahkan beberapa orang mampir ke halaman rumah Naomi sekedar untuk foto-foto cantik. Hihi

IMG_8440 (1)

IMG_8435

Rumah Naomi

Jl.Semarang118, Banjarbaru

Kalau pengen lebih tau dan pengen liat lebih banyak foto bisa cek di @Rumah Naomi

 

 

Kebingungan di Banjarbaru

Siang hari itu tiba-tiba Ayu chat, “Ul, ke Banjar yuk!”

“Yuk!”, jawabku singkat. “Tapi disana nginep dimana yu?”

“Tenang, ada temanku yang ngekost disana. Dia mau nampung kita.”

Tanpa banyak pikir, akhirnya kami pergi. Karena sesungguhnya yang dadakan itu selalu jadi. Haha

Perjalanan dari Balikpapan ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan memakan waktu kurang lebih 15 jam. Itu adalah pertama kalinya aku melakukan perjalan jauh di Kalimantan. Paling jauh aku pergi ke Samarinda, 2 jam. Pernah dulu paling jauh pergi ke Kutai Kartanegara, tapi itu akupun sudah lupa kapan karena memang sudah lama sekali. Kami ke Banjarbaru menggunakan bus AC, jangan bandingkan bus AC disini dengan bus AC di Jawa (atau sebenarnya sama aja?). Nyatanya masih ada bau rokok di dalam, di dalam nya juga ada toilet, dan setiap beberapa menit sekali akan ada bau dari toilet menyerbak. Benar-benar tersiksa sepanjang perjalanan. Ohya, ini juga pertama kalinya buat Ayu ke Banjar. Kami berdua benar-benar gak tau jalan, jadi kalau kelewatan atau diculik sama supirnya, hanya Allah yang tahu nasib kami berdua selanjutnya :’)

Kami saat itu juga memilih bus keberangkatan malam, jadi saat diperjalanan kami tidak bisa melihat apa-apa. Tapi memang di luar tidak ada pemandangan yang bagus. Kiri kanan dipenuhi hutan Kalimantan. Saat sampai di tempat peristirahatan,  hmm, lagi-lagi jangan dibandingkan dengan tempat pemberhentian sementara yang berada di Jawa sana (walaupun yang di Jawa juga gak bagus, tapi ini lebih parah dari itu). Toiletnya juga sangat tidak layak menurutku. Lampunya pun masih menggunakan lampu pijar yang setiap satu lampu pijar dibagi ke dua toilet. Jangan tanya bau toiletnya seperti apa huhu 😦 Bahkan disalah satu toilet yang awalnya mau aku masuk, masih ada pup orang yang masih mengambang 😥 Walaupun lampunya remang-remang tapi aku bisa lihat jelas itu. wkwkw. Aku juga yang saat itu sangat lapar tidak nafsu untuk memesan makanan apa-apa yang ada di warung tersebut. Aku hanya memesan 1 kotak ultramilk.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang sampailah kami di Banjarbaru, tepatnya di depan Universitas Lambung Mangkurat. Kami sampai pukul 04.00 subuh. Saat itu rencanaya kami akan numpang di kosan teman Ayu yang katanya berada di dekat Unniversitas Lambung Mangkurat. Saat itu benar-benar sepi, kami yang sebenarnya masih mengantuk mencoba menghubungi teman Ayu, beberapa kali kami menelpon, tapi tidak diangkat. Mungkin dia masih tidur. Pikirku dan Ayu. Sampai akhirnya tiba-tiba hujan deras, kami meneduh di halte depan kampus, saat itu benar-benar masih gelap.Teman Ayu belum bisa juga dihubungi. Telepon seperti diangkat tapi tidak ada suara apa-apa. Karena nasib yang gak jelas aku dan Ayu kemudian tertawa kenapa kita senekat ini! Gimana kalau temen Ayu akhirnya tetap tidak bisa dihubungi juga? Bagaimana nasib kita selanjutnya? Ayu mencoba menghubungi temannya yang lain, namun belum ada respon juga karena memang saat itu masih subuh, orang-orang pasti belum bangun. Kalaupun sudah pasti hp nya mati atau di silent karena semalaman di charge. Kami akhirnya duduk pasrah. Hujan semakin deras, kami tidak ada yang membawa payung.

Kami saat itu juga lapar sekali karena belum makan apapun dari semalam. Sekitar jam 6 kalau tidak salah, langit masih gelap mungkin karena hujan, tiba-tiba ada ibu-ibu yang lewat dan dia sepertinya sedang menunggu angkot. Kami tanya dimana penjual makanan terdekat disini. Dia bilang ini  masih terlalu pagi, yang terdekat adalah ke pasar dengan angkot. Kami akhirnya memutuskan untuk ke pasar cari sarapan terlebih dahulu, kami naik angkot yang di dalamnya penuh dengan ibu-ibu yang memang akan ke pasar dan beberapa yang sepertinya pedagang, karena bawaan mereka sangat banyak. Di dalam angkot kami disapa oleh ibu-ibu yang ada di dalam angkot tersebut. Mereka sangat ramah dan menjelaskan kemana kita harus turun jika ingin ke pasar. Saat turun bahkan ada seorang ibu yang mengantarkan kami sampai ke penjual sarapan. Saat itu masih keadaan masih hujan, sehingga kami ikut numpang di payung ibu tersebut. Sampai di penjual sarapan, kami langsung makan dengan kalap. Hehe

Selesai makan, salah seorang teman Ayu ada yang membalas namanya Kak Mia, dia menyuruh kami untuk menumpang dirumahnya dulu sambil tunggu respon dari teman yang di Lambungmangkurat karena dia juga tidak bisa memberikan tumpangan kerena siang harinya ia kan pergi ke luar kota juga. Akhirnya kami kerumahnya dengan angkot lagi. Sampai dirumahnya kami disuguhi gorengan dan teh hangat. Huaaa! itu adalah gorengan dan teh ter enak yang pernah aku makan, saking masih lapernya! Wkwk.

Saat di rumah Kak Mia, teman Ayu yang lain, namanya Adam, chat dan menanyakan Ayu ada dimana. Ayu cerita tentang keadaan kita yang gak jelas di Banjarbaru (LOL). Dia sebenernya pengen banget jemput tapi hari itu benar-benar tidak bisa karena ada urusan, akhirnya Adam menghubungi temannya yang lain. Akhirnya temannya yang bernama Naomi, yang Ayu juga kenal saat di Jambore Nasional menghubungi. Ia bilang akan menjemput kami dan kami bisa istirahat dirumahnya sambil menunggu teman Ayu yang di Lambungmangkurat itu. Nasib kami saat itu benar-benar gak jelas hha!

Ohya karena hari itu weekend, aku lupa sabtu atau minggu, Naomi harus ke gereja dulu, jadi baru bisa bertemu kami sekitar pukul jam 11.00. Kami akhirnya mandi dulu dirumah Kak Mia. Pukul 10.30 kami ke tempat dimana Naomi akan menjemput kami. Saat itu teman Ayu yang di Lambungmangkurat itu belum bisa dihubungi (HHA!)

… dan akhirnya kami bertemulah dengan Naomi dan kakaknya. Saat itu kami begitu amaze dengan mobil yang dibawa Kakak Naomi, benar-benar klasik hhi. Mobilnya BMW model lama yang biasanya dipakai buat foto-foto prewed itu loh hhe. Bener-bener lucu hhi. Akhirnya kami gak jadi ngegembel di Banjarbaru siang itu :’) Ohya, sebelum ke rumah Naomi, Naomi dan Kakaknya meneraktir kami sarapan lagi bubur ayam. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Jeff-Rasley

Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah teman Ayu yang di Lambung Mangkurat akan menjemput? Tunggu cerita selanjutnta yaa 😀

Note:

Thanks to Kak Mia, Adam, dan Naomi yang udah nyelamatin kita sehingga akhirnya kita ga jadi gembel baru di Banjarbaru hha.

Sciences Po

paris-sciences-po

Keinginan untuk melanjutkan S2 hingga kini begitu membara. Mimpi itu memang sudah sejak ada saat aku menginjak bangku SMP. Ya, mimpi itu sudah mengendap selama 7,5 tahun di otakku. Aku ingin S2 di Paris kataku saat itu, tepatnya ke Sorbonne. Namun, setelah banyak cari tahu sana sini akhirnya aku tahu bahwa di Sorbonne tidak ada jurusan Komunikasi atau yang relate dengan itu. Kebanyakan jurusan yang berkaitan dengan ekonomi, hukum, dan humaniora.

Setelah cari tahu sana sini akhirnya aku menemukan universitas yang menurutku bagus pada jurusan ilmu komunikasi dan public affairs nya. Yup akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada Sciences Po (sebenarnya ada pilihan lain juga sih, sebuah Universitas di Inggris. Nanti akan aku post). Doakan semoga diterima ya.

Ohya enaknya di Sciences Po dibanding kebanyakan universitas di Prancis adalah kita gak harus memiliki sertifikat bahasa Prancis. Cukup dengan TOEFL IBT dengan skor minimal 100 atau dengan IELTS dengan skor 7. Tapi ini gak berlaku untuk semua program ya 🙂 Hanya untuk program berikut :

  1. Paris School of International Affairs (PSIA)
  2. Master in Economic Law
  3. Economic and Business
  4. English track in European Affairs
  5. Master in Communication
  6. Governing the Large Metropolis
  7. Journalism and Economics
  8. Master in Public Policy

Deadline kalau gak salah sampai dengan 15 Maret 2016. Kalau kalian pengen apply tahun ini, buruan yaaa 😀 Semangat!

Untuk info lebih selanjutnya kalian bisa lihat di Sciencespo.fr/admissions

Berikut beberapa beasiswa yang bisa kalian apply juga jika memiliki keterbatasan biaya untuk kuliah Sciences Po

a.Boutmy Scholarships (non-EU)

b. LPDP

c. Eiffel Scholarship

Semangat mengejar cita-cita!

Kami Ruang dan Kafe

Mungkin sebulan yang lalu salah saerang teman merekomendasikan kafe ini sebagai tempat yang nyaman untuk belajar dan mengerjakan tugas. Namanya memang unik Kami Ruang & Kafe. Saat teman saya merekomendasikan tempat ini ia hanya bilang “Kami Kafe”, saya langsung search tapi gak dapet satupun informasi mengenai kafe ini. Akhirnya aku langsung ke tkp. Letak cafe ini di depan Mares (Margonda Residence). Ternyata nama kafe ini adalah Kami Ruang & Kafe, mungkin karena aku cuma search Kami Kafe doang kali ya makanya gak ketemu, karena banyak keyword yang serupa dan lebih populer. Hehe maklumlah kafe ini baru kata temanku.

Dari luar memang tidak kafe ini terlihat kecil dan menurutku kurang keliatan kalau ini adalah sebuah kafe. Tidak ada papan nama yang besar di depannya. Hmm, ada sih nama kafenya di depan kacanya tapi menurutku kurang keliatan kalau orang gak bener-bener merhatiin. Aku dan temanku akhirnya masuk. Saat masuk kami disambut oleh seorang waitress yang bertugas sebagai kasir juga. “Selamat datang.” sambutnya ramah saat kami membuka pintu untuk masuk. Kesan saat pertama kali masuk adalah sempit. Yap! memang tidak terlalu luas untuk lantai pertama ini. Hanya terlihat ada satu meja dengan ukuran sedang dan kursi. Di lantai satu ini juga terdapat dapur dengan kaca kecil jadi kurang jelas kalau mau liat ke dalam dapur dan terdapat meja kasir.

Ada 3 lantai di kafe ini, aku dan temanku memutuskan untuk di lantai 2 saja. Tempatnya didominasi warna putih menampilkan kesan clean dan minimalis. Di beberapa tempat duduk juga disediakan bantal duduk jadi lumayan buat senderan pas punggung yang sakit karena berjam-jam mantengin laptop. Kami memutuskan duduk di pojokan karena saat itu kafe sedang lumayan ramai. Tapi rata-rata yang kesini memang sedang lagi mengerjakan tugas jadi suasananya hening hhe.

Aku lupa saat itu memesan apa hhe. Pokoknya berdua harus membayar 150 ribu untuk 2 minuman (pokoknya minuman coklat gitu), french fries, dan kemudian kami memesan lagi paket mix snack yang isinya union rings, chicken wings, french fries. Aku lumayan suka dengan mix snack nya, semuanya enak. Tapi aku paling gak suka sama minumannya, baik yang aku ataupun yang Dini pesen. Sumpah rasanya mirip banget kayak Pop Ice coklat 😦 Pokoknya kayak minuman coklat yang di blender sama es batu gitu hhu, padahal harganya lumayan 😥

Hmm, disamping makanannya yang menurutku biasa aja dan pajaknya yang mahal menurutku, disini WiFi nya kenceng banget, no ilang-ilangan atau lelet, tempatnya juga lumayan pewe sih buat belajar. Pas aku datang saat itu juga lagi hujan deres dan playlistnya bagus-bagus jadi suasananya jadi enak banget hhe.

Oh ya hal lain yang bikin aku suka banget disini adalah karyawannya ramah-ramah 🙂 Mbanya mau disuruh bolak balik saat gue minta tolong ini dan itu. Pokoknya senyum mulu deh. Bahkan pas aku dan temanku lagi sibuk ngerjain tugas dia tiba-tiba nawarin kalo dia punya colokan T jadi kalau butuh tinggal bilang aja ke dia. Yang kayak gini nih yang akhirnya ngebuat pelanggannya lupa kalau makan atau minum disini gak worth it banget sama harganya hha.

Beberapa spot di kafe ini juga instagramable banget hha jadi lucu buat foto-foto 🙂 Tapi sayang pas aku datang saat itu aku (lagi-lagi) dikejar deadline hhe. Jadi gak sempet foto makanan, makanan , atau bentuk kafenya 😦 Next time aku harus ke sini lagi deh hhe buat update post ini.

*Sekitar jam 10an, pas kafe kayaknya persiapan mau tutup aku masih sibuk dan deg-degan buat nyelesaiin tugasku jadi gak peduli amat sama kafe yang mau tutup wkwk, eh tiba-tiba playlistnya malah “Selamat Tidur”. Rontoklah segala semangat yang berkobar malam itu hha*